Showing posts with label CHSR. Show all posts
Showing posts with label CHSR. Show all posts

Tuesday, January 9, 2024

Catatan Skoliosis: Kenapa Harus Operasi? (Part 2)

January 09, 2024

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ^_____^


Belum intro kok judulnya sudah begitu?? Ya karena dokternya juga langsung ngomong kayak gitu nggak pake intro....


Biar nggak bingung maksudnya, penulis ceritain sekarang.


Jadi setelah dapet rujukan ke rumah sakit yang lebih besar, yaitu RSUD Koja, penulis lanjut memeriksakan diri ke sana. Karena belum pernah berobat di sana, penulis harus daftar dulu menggunakan BPJS. Setelah proses pendaftaran selesai baru penulis bisa mengambil nomor antrian untuk konsultasi dengan dokternya. 


Di surat rujukan yang diberikan dokter spesialis sebelumnya, beliau menuliskan nama dokter yang harus dituju. Tapi tau sendirilah tulisan dokter gimana, penulis harus tebak-tebakan dulu, ini nama dokternya siapa. Sebenernya dibilangin sama dokternya, "nanti ke dokter He−" NAH dari situ ingatan penulis samar-samar. Sedangkan ada dua dokter spesialis ortopedi dengan inisial tersebut, Hendar dan Heka. 


Kayaknya sih Dokter Heka, pikir penulis sok yakin setelah pengamatan yang panjang dan hasil konsultasi dengan teman-teman penulis.


Jadilah penulis ke rumah sakit di hari dokter tersebut ada praktek. Karena jadwal praktek dokternya beda-beda setiap harinya, jadi kalau penulis melewatkan sehari saja, penulis harus menunggu seminggu lagi.


Untungnya antrian untuk pemeriksaan dokter tersebut masih ada, dan penulis dapat slot antrian jam 10.00 - 11.00. Karena sudah hampir jam sepuluh, penulis langsung menuju ke tempat spesialis ortopedi, yang ada di lantai 2. Setelah menyerahkan berkas antrian ke perawat dan melakukan tensi, penulis menunggu dengan tenang. Ramai sekali rumah sakit hari ini. Yah, kapan sih rumah sakit sepi?


Sembari menunggu, penulis membaca-baca ulang pertanyaan-pertanyaan yang ingin penulis tanyakan, termasuk pertanyaan yang nggak jadi penulis tanyain di dokter sebelumnya. Berasa mau ujian aja (memang❤︎).


Sudah hampir jam setengah dua belas tapi penulis belum dipanggil juga. Sekarang antrian nomor berapa, ya?


Duh laper. Apa penulis tinggal aja ya?


Tapi kalau ditinggal nanti tau-tau dipanggil gimana, dong?


Ternyata ngantri periksa di rumah sakit besar gini lama juga, ya. Lama banget malah. Tau gitu penulis jajan atau makan dulu. Hari-hari berikutnya, setiap jadwal kontrol ke rumah sakit penulis selalu bawa jajanan supaya nggak kelaperan kayak sekarang.


Penulis memperhatikan sekeliling, beberapa pasien ngantri sambil nyemil. Ada juga yang bawa jajanan sekresek bening yang kecil, terus makannya disuapin ibunya. Jadi iri (╥﹏╥) walaupun udah sering ke dokter dan rumah sakit sendiri, ada kalanya penulis kangen ke dokter ditemani ibu atau abi. Salah satu tanda kedewasaan memang pergi ke rumah sakit sendiri nggak ditemani orang tua lagi.


Dan pasiennya juga beragam, ada yang pakai kursi roda, kruk, gips, atau perban. Jadi mikir kok penulis nggak keliatan pasien-pasien amat, padahal tulang punggungnya udah meleyot. Nggak keliatan kayak orang sakit.


"Ngantri dari jam berapa, Mbak?" tanya salah seorang pasien, ibu-ibu yang mengenakan jaket Gojek.


"Dari jam 10, bu. Kalau ibu?"


"Saya dari jam 9 tapi belum dipanggil juga." Waduh kalo ibu ini yang dari jam 9 aja belum dipanggil, berapa lama lagi penulis harus menunggu? Karena belum pernah ngantri di rumah sakit, penulis nggak tau kalau ngantrinya bisa selama ini.


"Saya habis jatuh dari motor, nih, Mbak, jari saya patah, tapi udah dioperasi cuman ini baru ganti perban, harus kontrol dulu. Saya udah nunggu lama banget di sini jadi nggak bisa kerja." Dia memperlihatkan jarinya yang terbalut perban. Padahal beliau habis jatuh dari motor, tapi langsung kembali bekerja yang motoran lagi. Salut karena ibu-ibu selalu bisa menerabas rasa takut.


"Kalau mbaknya sakit apa?"


"Saya skoliosis, Bu."


Ibu itu menatap heran, "skoliosis itu apa?"


"Ini bu tulang belakang saya agak miring gitu bentuknya jadi kayak huruf S."


"Oooh...." ia memperhatikan penulis dengan seksama, "nggak kelihatan, ya."


Daz whatem seyin. "Iya bu, kelihatannya di hasil rontgennya."


"Mbak udah ke ruangan itu?" Beliau menunjuk ruangan di samping ruangan dokter umum ortopedi, di depannya tertulis, "Ruang Tindakan Ortopedi". Penulis menggeleng.


Beliau menaikkan alisnya, "harusnya ke ruang itu dulu, Mbak." Penulis bingung juga, masa langsung ditindak hari ini sih? Kayaknya mah nggak mungkin. Lagian penulis baru mau ketemu dokternya hari ini. Emangnya bakal diapain di ruangan itu?


Seiring waktu berlalu, pasien bergiliran keluar masuk ke ruangan dokter. Ibu itu tertidur lelap dalam keadaan duduk. Penulis tetap menahan lapar sambil minum. Tak lama perawat memanggil nama pasien tapi tak ada yang menyahut balik, rupanya sudah giliran ibu di samping penulis ini.


Lapeeeerrrrrrr hiks.


"Radita?" ALHAMDULILLAH AKHIRNYA NAMAKU DISEBUT. Sudah hampir jam setengah dua dan penantian panjang ini berakhir.


"Siang, Dok." Akhirnya kita berjumpa dok hohohoho.


Matanya memicing, "....umurnya 26 tahun, Mbak?"


"Iya, Dok." 


"Saya kira 2,6 tahun..." DOK PLS..... Penulis cuma ketawa maklum.


"Hasil rontgennya dibawa, Mbak?" Lalu aku menyerahkan hasil rontgen dari rumah sakit sebelumnya. 


"Operasi ini, Mbak."







Hah.


Gimana gimana.


Tanpa intro, tanpa aba-aba, tanpa babibu, langsung ke intinya.


"O-operasi, Dok?"


Dokter mengangguk. "Tapi kita itung dulu ya ini skoliosisnya berapa derajat." Katanya sambil menempelkan lembaran rontgen itu di papan putih, sementara penulis masih cengo.


Hah.


Rasanya segala pertanyaan yang udah penulis siapin tadi menguap, otak langsung nge-blank.


Bukannya penulis tidak expect bakal operasi, sih. Beberapa hari sebelumnya, pas lagi cerita-cerita ternyata salah satu kakak kelas penulis pernah operasi skoliosis juga. Dari dia penulis dapat gambaran kalau skoliosisnya di atas (bagian dada), selama derajatnya masih di bawah 40-45 derajat, nggak perlu dioperasi. Sedangkan kalo skoliosisnya di bagian bawah (dada sampai ke perut) berapapun derajatnya wajib operasi.


Nah, penulis udah ngira kalau ini bakal operasi. Udah sempet cerita ke orang tua juga gimana kalau misalnya harus operasi. Apalagi konon masa pemulihannya lama, bisa 1-2 bulan. Orang tua udah mengiyakan nanti gampang bisa diatur deh kalo emang harus operasi, yang penting sembuh dulu.


Udah mempersiapkan diri taunya tetep kena mental pas dikasih tau langsung sama dokternya. Mana gak pake intro lagi.


Setelah membuka aplikasi di hapenya, lalu memotret hasil rontgen penulis, dokter menunjukkan hasilnya. "39 derajat, Mbak. Udah hampir 40 derajat. Ini mbak baru umur 26 tahun lho udah miring segini." Lalu beliau membuka galerinya. "Ini saya tunjukin ya yang punya salah satu pasien saya, Bunga (nama disamarkan), yang skoliosisnya 88 derajat."


88 DERAJAT?????????? Penulis yang belum 40 aja udah kena mental, gimana yang segituan?


Pas diliatin hasil rontgennya, bentuknya udah keliatan kayak huruf S. 


"Skoliosisnya ketauannya nggak sengaja apa gimana, Mbak?" tanya beliau, lalu penulis menjelaskan kronologisnya, seperti yang penulis ceritakan di dokter faskes 1, di episode sebelumnya.


Baca kronologis di sini, "Catatan Skoliosis: Bukan Jompo Biasa (Part 1)


"Penyebabnya kira-kira apa, Dok?"


"Kemungkinan pas lagi masa pertumbuhan, ada ruas tulang punggung yang posisinya salah. Jadi begitu tumbuh, bukannya ke atas, malah jadi miring, Mbak. Apalagi ini kan masa pertumbuhannya udah berhenti, ya. Jadi sisa miring-miringnya aja, nih. Makin tua ntar makin miring." Jelas dokter. Berarti bisa jadi ini memang bawaan dari kecil, cuma baru ketahuan sekarang.


"Hubungannya sama rasa sakit di dada apa, Dok?"


"Karena tulang belakangnya bentuknya nggak lurus seperti yang normal, jadinya posisi organ-organ tubuh Mbak ini sekarang nggak pas pada tempatnya. Jadinya gitu mbak, karena nggak pas, dadanya kerasa sakit, punggungnya cepet pegel." Dari penjelasan dokter itu, penulis menganalogikannya seperti puzzle. Puzzle, meskipun secara urutan dan tata letaknya sudah betul, tapi kalau naruhnya nggak pas, misal agak geser-geser sedikit, jadinya akan tumpang tindih, dan penataan puzzle-nya jadi nggak rapi. Nah, gara-gara skoliosis inilah tubuh penulis jadi nyeri sana-sini.

This is how puzzle looks if it doesn't perfectly fit (cr. on pic)


"Jadi harus operasi ya Dok? Nggak bisa terapi aja?"


Dokter menggeleng. "Nggak bisa, Mbak. Soalnya ketahuannya udah di umur 26. Beda cerita kalau ketahuannya di umur 12, atau pas masa pertumbuhan, masih bisa diterapi. Apalagi posisinya skoliosisnya udah terasa mengganggu karena bikin dadanya kerasa sakit. Nggak operasi juga sebenernya nggak apa-apa, Mbak, cuman ya itu, nanti makin lama bisa makin miring tulangnya."


"Kalau operasi, nanti bisa lurus lagi, Dok?"


"Tulang yang udah miring nggak bisa 100% lurus lagi, Mbak. Tapi dengan operasi, diharapkan nanti tulangnya lebih lurus, dan miringnya nggak semakin parah karena ada nanti dipasang pen di punggungnya."


"Nanti paling efek setelah operasinya kalau lagi hamil."


"Baru saya mau tanya, Dok." Ini adalah satu dari sekian pertanyaan yang sudah penulis siapkan. Hampir aja lupa tadi, untung diingetin.


"Nanti kalau mau punya anak, nggak bisa lahiran normal mbak, harus sesar. Karena punggungnya nggak kuat nahan beban waktu melahirkan, ditambah selama hamil juga udah terasa berat nanti perutnya." Wah.... gitu ya...


Jadi kepikiran.


"Mbaknya sudah nikah?"


"Belum sih Dok." jawab penulis, "terus perlu pake skoliosis braces nggak?" penulis menyebutkan sejenis korset punggung yang biasa dipakai untuk orang-orang skoliosis.


"Nggak perlu, Mbak."


Penulis masih bengong.


"Kalo skoliosis, olahraga yang disarankan apa, Dok?"


"Mbaknya biasanya olahraga apa?"


"Lari." Dari kenyataan.


"Lari boleh, renang boleh, angkat beban juga boleh... nggak ada batasan sih Mbak."


"Angkat beban???" Ini penulis yang salah denger apa salah paham.


"Yah.... jangan yang terlalu beratlah." Oohh, kirain. Trabas ae gitu. "Sering larinya?"


"Paling seminggu sekali." Boong deh, bisa lari sebulan sekali juga udah syukur.


"Yang rajin olahraganya ya Mbak, gak boleh mageran!" Pesan dokter, penulis cuma tersenyum tengsin.


"J-jadi ini langsung operasi apa gimana, Dok?"


"Ya enggak, dong. Mbak kasih tau orang tua, keluarga dulu... diomongin dulu baiknya gimana. Nanti kalau udah fix, baru ke sini lagi, konfirmasi." Penulis manggut-manggut. Maklum, belum pernah operasi soalnya.


"Kalau misal saya mau mindahin ke Malang biar operasi di Malang aja, bisa nggak ya Dok?"


"Hmm, nggak bisa, Mbak. Kenapa kok di Malang?" 


"Soalnya orang tua saya di Malang, Dok. Karena kan masa pemulihannya lama, jadi biar ada yang ngejagain nantinya."


"Oh, rumahnya Malang, Mbak? Terus kok periksanya di sini?"


"Soalnya faskes saya di sini."


"Di sini kerja atau kuliah?"


"Kerja, Dok." Raut mukanya keliatan amaze. Udah hampir 4 tahun kerja masih dikira anak kuliahan, mungkin inilah yang dinamakan smol privilege.


"Berarti nanti saya diskusi dulu sama keluarga ya, baru konfirmasi lagi ke sini..."


Dokter mengangguk. "Nanti biar punggungnya bisa lurus kayak pasien saya tadi, si ..."


"—Bunga?"


"Iya si Bunga. Kok tau? Udah kenal ya Mbak?"


Haaaa.......... kan tadi dokter yang ngasih tau................ Sederhana tapi bikin geleng kepala.


Setelah penulis berpamitan, scene selanjutnya udah kayak sinetron. Entah karena shock, overwhelmed karena harus mencerna berbagai informasi tadi, atau karena takut, air mata penulis merebak. Dalam perjalanan dari lantai dua turun ke lantai satu, penulis mati-matian menahan air mata itu buat nggak netes.


Tahan dong, belum nyampe masjid nih.


Ujung-ujungnya jebol sih sebelum nyampe masjid, tapi sambil penulis usap-usap soalnya malu kalo diliat orang. Terus penulis samarin pake air wudhu, tapi tetep aja bendungannya ambrol lagi setelah sholat. Perut rasanya udah nggak laper lagi, cuma pengen mengurung diri dan nangis aja. Tapi kalau nggak makan ntar penulis mati (soalnya punya maag). Rasanya campur aduk.


Tadinya selagi masih jam kantor, setelah periksa penulis mau balik ke kantor. Tapi kalau kondisinya kayak gini kalau misal ditanya-tanyain yang ada nanti penulis jawab sambil nangis-nangis. Jadi penulis minta izin ke atasan dan milih pulang aja. PR banget lagi mata udah semi bengep tapi harus motoran balik ke kosan, mana cuacanya terik banget. Kombinasi maut buat mata memicing lihat jalanan.


Tapi kalau sekarang alhamdulillah udah gak sesedih itu lagi, soalnya air matanya udah dikuras seharian itu buat nangis. Pas ngasih tau ortu juga lancar ngomongnya dan ortu juga langsung mengiyakan. Ibu sampai udah ngatur strategi buat jadwal pengajian selama ditinggal nungguin penulis di sini. Yah itulah gunanya menangis guys, ngurangin beban dan ngurangin rasa takut padahal yang keluar kan air mata #halah #alesan. Intinya sekarang udah bisa diceritain sambil diselipin komedi terselubung, kecuali komedi dokternya emang udah dari sananya.


Segini dulu, selanjutnya nanti cerita pre-operasi sampai operasinya, lengkap dengan komedi-komedi dari dokternya.


Sekarang aku mau mandiin sapi dulu.


Friday, January 5, 2024

Catatan Skoliosis: Bukan Jompo Biasa (Part 1)

January 05, 2024

  Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

:)

:) :)

:) :) :D


Padahal udah ada catatan khusus endometriosis, ternyata series catatan ini nambah sekuel, kali ini penulis akan cerita tentang skoliosis.


Skoliosis? Kok tiba-tiba?


"Ini ketauan skoliosisnya nggak sengaja apa gimana, Mbak?" tanya dokter subspesialis waktu itu. Tapi cerita tentang itu nanti dulu. Mari kita mulai dari awal mula penulis mengenal skoliosis.


Awalnya, selama beberapa hari penulis merasakan sakit di bagian dada dan punggung. Kalau yang punggung biasanya penulis tidak terlalu ambil pusing karena mikir emang pada dasarnya penulis jompo aja, kurang olahraga. Apalagi sehari-hari di kantor kalo kerja emang duduk seharian. Nah kalau rasa sakit di dada ini lumayan mengganggu, sudah berhari-hari pula. Kalau memang penyebabnya karena infeksi saluran pernafasan, kok nggak ada batuk atau flu sama sekali? Masa COVID lagi? Penulis mengira-ira, apa mungkin GERD ya? Apa asam lambung penulis udah naik tingkat jadi GERD makanya rasa sakitnya menjalar sampe dada? Atau karena polusi? Konon polusi di Jakarta saat penulis menceritakan ini emang lagi gila-gilaan, nggak tau kalau di masa kalian yang lagi baca ini sekarang. 


Kalau dideskrpsikan, rasa sakit di dada itu sakitnya kayak deg-degan. Kalau deg-degannya terlalu kenceng kan dadanya jadi kerasa sakit, tuh. Nah rasa sakitnya kayak gitu, tapi penulis nggak lagi deg-degan. Jantungnya berdetak kayak biasa aja, tapi di dada rasanya sakit banget. Wah apalagi kalo lagi deg-degan, buat ngomong aja ngos-ngosan rasanya. Selain itu, rasa sakit itu datengnya nggak bisa diprediksi, nggak sekedar setelah penulis beraktivitas misalnya. Bahkan ketika penulis cuma duduk diam atau rebahan aja udah kerasa sakit, bangun tidur pun kerasa nyeri. 


Lalu pada suatu hari, ketika lagi ngaca, penulis menemukan keanehan di pantulan kaca itu.


"Lah, kok ini agak nyerong gini badannya?"


Kalau kalian perhatikan di keyboard, di bawah tombol backspace itu kan ada tanda garis tegak lurus dan garis miring, nah bentuk badan penulis pas ngaca itu gitu. Bagian torso atas tegak, tapi bagian dari bawah dada sampe pinggang agar miring sedikit, nggak semiring garis miring itu tentunya (kalo segitu mah harusnya udah nyadar dari dulu-dulu).


Penulis kepikiran juga, dulu pas tahun 2020, penulis pernah rontgen dada untuk keperluan pelatihan dasar (latsar). Pas nerima hasilnya, berbeda dengan punya teman-teman penulis yang lurus-lurus aja dan nggak ada catatan khusus, punya penulis ada tulisan skoliosisnya. Skoliosis thoracalis kalau nggak salah. Bentuk tulangnya agak meliuk sedikit, seperti ada belokan berbentuk huruf c kecil. Padahal rontgen itu niatnya dilakukan untuk mengetahui jika peserta latsar ada yang menderita TBC.


"Lah ......?"


Tapi karena waktu itu rontgen-nya untuk keperluan administratif, penulis tidak sempat minta penjelasan lebih lanjut kepada dokter. Berkasnya juga keburu dikumpulkan dan latsar dilaksanakan. Mana pas latsar itu penulis guling-guling di paving wah sakit banget rasanya. Mending gelinding di tanah lapangan berumput daripada di pavingan yang keras itu.


Merasa ada yang tidak beres, berawal dari pertimbangan-pertimbangan yang penulis sebutkan di atas, akhirnya penulis memutuskan untuk pergi ke dokter. Di dokter itu penulis ceritakanlah segala macem hal yang penulis rasakan selama ini #curhat.


Lalu setelah diperiksa pake stetoskop, penulis diminta untuk duduk kemudian bagian punggungnya diraba. Karena penulis kurus tulangnya jadi berasa kali ya kalo diraba gitu.


"Wah iya, miring ini, Mbak." kata dokter, "ini harusnya tumbuh lurus gini kan, nah punya Mbak malah ke arah sini." lanjutnya sambil nunjuk di punggung penulis.


"Mbak mau dirujuk ke ortopedi atau saya kasih obat pereda nyeri?" Penulis milih buat dirujuk ke ortopedi aja, biar sekalian jelas ketauan apa penyebabnya dan gimana bentuk tulang penulis sekarang.


Karena dokter tidak memberi diagnosa lebih lanjut terkait rasa sakit di dada penulis, akhirnya penulis yang tanya, "kalau rasa sakit yang di dada gimana, Dok?"


"Bisa jadi ada hubungannya sama punggung Mbak yang miring." Waktu itu penulis heran juga, yang miring kan punggung, apa hubungannya sama rasa sakit di dada? Tapi nanti semuanya terjawab setelah penulis ke spesialis ortopedi.


Lalu setelah mendapat rujukan ke rumah sakit swasta, setelah sesi curhat part 2 dengan dokter spesialis dan menyampaikan diagnosa dugaan skoliosis, penulis langsung diminta untuk melakukan rontgen. Sesi kontrol pertama rontgen saja, sesi kontrol selanjutnya mengambil hasil rontgen dan mendengar sambutan tindak lanjut dari dokter spesialisnya. Jaraknya seminggu pula, selama nunggu itu sambil ditahan-tahan aja rasa sakit di dadanya.


Sebelum masuk ke ruangan dokter untuk kontrol kedua, penulis melihat hasil rontgen-nya yang sudah penulis ambil.


Wah..... gila.


Yang selama ini penulis liat di buku-buku dulu pas masih sekolah, sekarang malah kejadian di badan penulis sendiri. Tulang punggung yang harusnya lurus malah membentuk huruf S. Shock mah enggak, shock banget iya.

Hasil rontgen pertama yang mengonfirmasi bahwa semua ini memang karena skoliosis


"Udah liat hasilnya, Mbak?" Tanya dokter spesialis waktu itu.


"Udah, Dok."


"Yang miring di bawah, ya....." Dokter memperhatikan hasil rontgen itu beberapa saat, kemudian menarik kertas dan pulpen, "saya teruskan rujukannya ke rumah sakit yang lebih besar, ya, Mbak."


Loh, loh... ini nggak langsung ditindak di sini? Malah lanjut rujukan part 2?


"Nanti biar dokter di sana yang memutuskan, di sana ada dokter subspesialis tulang belakang." Jelasnya sambil terus menulis. "Ini hasilnya kan skoliosis, Mbak, nah tapi untuk tindakannya itu berbeda-beda, tergantung berapa derajat skoliosisnya. Nanti akan dihitung berapa derajatnya di sana sama dokternya, dan bagaimana penyembuhannya."


Penulis manggut-manggut aja, kirain dokter bisa langsung tau berapa derajat skoliosisnya dengan sekali lihat, atau udah ada tulisan berapa derajatnya di hasil rontgen itu, ternyata tidak seperti itu cara mainnya kakak. Terus ternyata di atas dokter spesialis masih ada dokter subspesialis. Tapi ada yang masih membuat penulis penasaran.


"Dok, kemarin saya di rujukan faskes pertama keluhannya sakit di dada juga, tapi dokternya bilang itu bisa jadi pengaruh skoliosisnya."


Kemudian dokter menjelaskan secara singkat, bahwa miringnya tulang ini bisa mempengaruhi posisi organ-organ di dalamnya, jadi nggak pas, dan akhirnya terasa sakit. Walaupun tulang saya yang miring di bagian bawah—dari dada sampai pinggang, padahal yang cenderung terasa sakit di bagian dada ke atas.


Akhirnya hari itu penulis pulang dengan tangan nggak kosong sih, soalnya bawa hasil rontgen.


Kalau rame lanjut part 2.



Thursday, January 4, 2024

Catatan Endometriosis: Visanne dan Efek Sampingnya (Part 3)

January 04, 2024

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)


Mari kita lanjutkan kembali sesi perjalanan penulis bersama endometriosis. Sebenernya agak susah mau nulis catatan kali ini, karena rasanya kayak dipaksa buka kotak yang isinya kenangan nggak enak ᇂ_ᇂ


Sebenernya efek minum Visanne ini nggak semuanya isinya kenangan buruk sih, tapi harus ngerasain buruk-buruknya dulu, setelahnya mah insyaallah enakan :)


Jadi penulis mulai konsumsi Visanne sejak pertengahan akhir Oktober 2022. Awal-awal minum obat ini, perut penulis sudah mulai jarang terasa nyeri tiba-tiba, jarang sakit. Insensitas minum obat pereda nyerinya jadi mulai berkurang (biasanya penulis minum paracetamol di pagi hari buat jaga-jaga biar siangnya nggak kenapa-napa). Lalu ketika waktu haid, haidnya jadi lebih panjang, tapi volume darahnya mulai berkurang. Nah dari sinilah kenangan buruk itu dimulai.


Jadi karena masa haidnya lebih panjang, ada kalanya penulis bingung menentukan kapan harus mandi besar dan sholat. Biasanya penulis hitung saja kalau sudah keluar darah selama 15 hari, maka darah hari ke-16 dan seterusnya penulis anggap darah istihadlah, lalu penulis berwudlu dan sholat seperti biasa. Tentunya sesudah membersihkan area kemaluan sebelum sholat.


Pernah waktu itu ada pembahasan, kalau lagi masa istihadlah gini, tiap sebelum sholat apa harus mandi dulu? Wah kebayang betapa stresnya penulis mendengar pertanyaan itu, dengar doang, belum menanggapi. Soalnya bayangin ya, penulis kan bisa aja istihadlah pas hari-hari ngantor, kalo keterangannya harus mandi besar dulu setiap mau sholat, berarti mau sholat dhuhur dan ashar di kantor aja penulis harus mandi besar dulu. YA APA ENGGAK STRES. Nggak mandi besar aja penulis stres. Kalo kerjanya di rumah aja mungkin masih bearable, walaupun nanti pasti ujung-ujungnya stres juga. Jadi penulis lakukan semampunya penulis aja. Yang penting dibersihin, baru wudlu lalu sholat.


Lalu mulai gak teratur lagi siklus haid penulis. Masa mengeluarkan darahnya bisa sampai 20 hari, sedangkan masa bersihnya (tanpa flek dan tanpa darah) paling lama 10 hari ╥﹏╥ jadinya makin bingung ngitungin masa istihadlahnya. Kalo haid itu kan ada yang hitungan siklusnya masa haid paling lama 15 hari dan masa suci paling sedikit 15 hari. Nah kalo ngikutin hitungan itu, ada tanggal-tanggal yang beririsan jadinya belum dapat 15 hari suci, sudah keluar darah lagi. Ada masanya jadi istihadlah depan belakang. Ini penyebab stres pertama, karena hitungannya membingungkan. Sebenarnya ada hitungan lain yang bisa digunakan, yaitu menghitung berdasarkan kebiasaan atau menghitung berdasarkan sifat darah, yang mana dua-duanya tidak bisa penulis lakukan. Kenapa?


Karena kondisinya memang lagi konsumsi obat, tentu ini adalah kejadian yang di luar kebiasaan. Mau dicocokin ama kebiasaan, malah makin amburadul karena jadwal haidnya yang nggak menentu. Lalu yang kedua, menghitung berdasarkan sifat darah juga tidak bisa penulis ikuti. Karena penulis tidak bisa membedakan darah yang keluar. Kadang merah, kadang merah kecoklatan, kadang coklat tua, kadang keruh, semuanya itu dalam satu siklus. Jadi daripada menebak-nebak, mending penulis pakai hitungan hari saja.


Dan karena posisi istihadlah ini juga lama-lama memberatkan penulis setiap mau sholat. Setiap mau sholat, penulis harus ganti pantyliner (biar nggak susah kalau nyuci celana dalam), selama 5 waktu sholat. Awal-awal masih oke kecuali kalo lagi apes nodanya sampai kena celana dalam, otomatis celana dalamnya juga harus ganti. Jadi kalau lagi di kantor, terpaksa harus pulang balik ke kosan (untungnya kosan penulis tidak jauh dari kantor). Setiap bulan penulis stok pantyliner sebanyak mungkin. Makin hari, makin dijalani kok makin terasa berat. Apalagi kadang pas sholat tiba-tiba kerasa ada yang keluar. Ada kalanya nangis, minta sama Allah biar bisa nggak sih sholatnya yang normal-normal aja gitu kayak orang-orang. Rasanya kok kotor banget. Ditambah lagi, karena pake pantyliner terus-terusan walaupun sudah sering ganti, kemaluan penulis sempat iritasi. Rasanya gatal dan perih, digaruk takut malah tambah parah. Pengen ganti pake menstrual cup aja, kayaknya hidup penulis bakal lebih mudah karena gak repot gonta-ganti pantyliner lagi, tapi penulis terlalu takut mau makenya.


Berkali-kali juga ibu penulis nyuruh penulis buat sabar, soalnya penulis tiap kali telpon pasti ngeluhin soal itu terus. Kapan sih masa-masa kayak gini berakhir?


Antara disuruh milih, stop minum Visanne dan haidnya balik normal lagi tapi dengan endometriosis yang masih nangkring di rahim bonus nyeri tiap bulan, atau tetep minum Visanne tapi dengan risiko muncul flek-flek gak beraturan yang bikin bingung tiap mau sholat, dengan harapan efek endometriosisnya berkurang? Nggak ada yang mending. Mendingan jadi cowok aja kalo gini mah.


Penulis konsultasikan juga ke dokter kalau masih keluar darah/flek, walaupun volume-nya nggak kayak orang haid pada umumnya. Bener-bener cuma flek kayak di awal atau akhir haid, bedanya ini selama 15 hari lebih. Kalau menurut dokter, harusnya setelah minum Visanne ini darahnya berhenti, nggak keluar sama sekali. Karena darah/luruhan dinding rahim ini jadi 'makanan' bagi si kista rahim, jadi dengan minum Visanne akan stop. Kalau masih awal mungkin obatnya masih menyesuaikan, jadi wajar. Masalahnya itu sudah sekitar 3-4 bulan sejak penulis konsumsi obat itu. Akhirnya penulis diresepkan obat-obat untuk menghentikan pendarahan.


Melihat siklus haid penulis yang kacau balau, dokternya tanya, "mbak lagi stres ya? Stres sama kerjaan kantor?" Setelah penulis pikir-pikir, daripada kerjaan kantor, sumber stresnya justru flek-flek gak jelas yang non stop ini dok (ᅲ﹏ᅲ ). Ditanyain kayak gitu juga berasa deja vu soalnya dulu-dulu kalo ke Obgyn pasti dokternya nanyain itu. 


Baca juga "Catatan Endometriosis: Apakah Ini Penyakit Berbahaya? (Part 1)"


((Sebenarnya bisa aja nggak stres kalau penulis posisinya nggak sholat sekalian aja biar nggak galau mulu tiap mau sholat karena ada flek di celana. Tapi kan bukan gitu solusinya!!!!)) Pernah sampe kepikiran kalo penulis hidup di jaman nabi, penulis pasti udah nyamperin Rasulullah SAW buat nanyain perkara yang bikin penulis pusing sendiri ini. Agak di luar nurul emang ngelanturnya soalnya wallahi emang udah sestres itu perkara flek-flek ini. Sampe kalo liat celana bernoda tuh penulis speechless dan tahan napas, sambil mbatin,


"Kan."


Terus untungnya minum Visanne apa dong? Jadi kalau minum rasa sakit dan nyerinya berkurang banget banget. Semakin lama malah makin udah gak ngerasa sakit sama sekali. Dulu sebelum penulis tau kalau penyebab sakitnya ternyata kista rahim, diagnosanya macem-macem. Dari maag, ISK (infeksi saluran kencing), sampe akhirnya kista rahim. Perjalanan mengetahui penyakit itu berbulan-bulan jadi penulis menahan-nahan rasa sakit selama itu juga. Masalahnya penulis kalau lagi nyeri-nyeri gitu malah jadi suka males makan (jangan ditiru!!). TAPI, berkat minum Visanne dan rasa sakitnya berkurang bahkan hilang, nafsu makan penulis pelan-pelan kembali dan mulai rajin makan lagi. Seneng banget sih ini pencapaian besar buat penulis. Walaupun  kalau kata orang-orang badan penulis tetep segitu-gitu aja malah makin kurus, tapi gak papa setidaknya udah gak struggle kalo mau makan udah cukup.




Selain itu, Visanne ini membantu mengecilkan kista rahim penulis. Dari yang awalnya diameternya 3,74 cm jadi 2,81 cm setelah konsumsi selama 5 bulan (perbandingannya dapat dilihat di hasil USG di atas). Teman penulis cerita bahkan dia kistanya mengecil dari 5 cm ke 3 cm setelah konsumsi selama satu tahun. Tapi Visanne ini hanya bisa mengecilkan sedikit saja, nggak terlalu signifikan, dan nggak benar-benar hilang. Kalau mau hilang harus tetap dioperasi. Kalau dijelasin sama dokternya, Visanne ini membantu menghentikan haid/pendarahan karena darah di rahim itu jadi 'makanan' buat kista ini. Sehingga kalau nggak dikasih makan, maka kistanya nggak akan membesar. 


Nah sekian untuk cerita kali ini. Kalau pejuang endometriosis lainnya yang juga konsumsi obat hormon seperti ini, gimana efeknya buat kalian?





Thursday, August 3, 2023

Catatan Endometriosis: Visanne dan Jeritan Dompet (Part 2)

August 03, 2023

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Jumpa lagi dengan saya tidak lain dan tidak bukaaannn~ (ㆆ ᴗ ㆆ) ya penulis blog inilah.


Walaupun postingan part 1 nya belum rame-rame amat tapi nggak papa barangkali nanti bakal rame, mari kita lanjutkan part 2 dulu~


Baca juga "Catatan Endometriosis: Apakah Ini Penyakit Berbahaya? (Part 1)"


Setelah berdiskusi dengan kedua orang tua penulis, akhirnya penulis memutuskan untuk melakukan terapi hormon. Sebenarnya daripada diskusi, lebih ke ngasih tau orang tua aja sih. Karena toh ujung-ujungnya yang membayar biaya terapi nanti penulis sendiri. Dan ini juga demi kesembuhan penulis karena penulis juga yang paling kerepotan kalau nggak sembuh-sembuh.


Lalu dengan sigap dokter menuliskan resep obat terapi yang dimaksud. "Obatnya diminum sehari sekali ya mbak, di jam yang sama, setiap hari jangan sampai bolong. Kalau misal kelupaan, segera minum obatnya begitu ingat, lalu lanjut minum obatnya tetap sesuai jamnya, seperti hari-hari biasanya."


Penulis menerima resep obat itu tanpa banyak protes, beserta resep obat-obatan yang lain. Berhubung penulis mau liburan ke Korea, jadinya ditambah obat-obatan pereda nyeri buat jaga-jaga, karena nyeri perutnya masih suka hilang timbul, kadang ada kadang enggak.


Lalu penulis menukarkan resep itu di apotek rumah sakit, penulis hanya menerima obat pereda nyerinya saja.


"Obat terapi hormonnya nggak ada di sini, Mbak. Ditukar di apotek luar aja, ya."


Oh, gitu. Oke.


Yah lagipula obat terapi hormonnya nggak ditanggung BPJS. Ada atau enggak pun ujung-ujungnya harus bayar sendiri.


Penulis lalu menukarkannya di apotek terdekat.


"Maaf, Mbak, ini obat apa, ya? Saya nggak pernah tau nama obat ini soalnya...."


Leh?? Mbak aja nggak tau apalagi saya..................


"Obatnya adanya di apotek besar kali, Mbak. Coba ke Apotek L*do."


Penulis yang bukan orang sini alias orang rantau, bingung, "L*do? Di mana ya itu?"


"Itu Mbak yang belakangnya Polres."


"Apotek gede depannya pasar itu lho Mbak." Timpal pembeli lain yang kebetulan ada di situ.


WAH YANG MANA YA ITU??? Ketauan deh nggak pernah explore daerah sini. Akhirnya penulis pulang dengan tangan kosong dan mencari arah menuju apotek yang disebutkan tadi. Penulis nggak langsung ke apotek besar itu karena udah kesorean, takut nyasar juga kalau kurang persiapan. Jaraknya nggak terlalu jauh, cuman karena itu bukan daerah yang biasa dilewati penulis, jadi besok aja deh.


Tapi serius deh, ini obat apa sih? Sampe mbak-mbak apotek aja nggak tau ini obat apa......


Lalu penulis mencoba mencari obat itu di Halodoc. Itung-itung kalau ada, penulis tidak perlu effort ke apotek besar itu dan tinggal duduk manis saja di kosan menunggu obatnya datang. Penulis menginput foto resep dari dokter ke aplikasi Halodoc karena penulis juga nggak tau nama obat ini apa.


Setelah menunggu beberapa saat, ada balasan dari Halodoc via Whatsapp.


Oh nama obatnya Visanne.


Jantung penulis melorot melihat harganya.


(°Д°) 800 RIBU????? UANG MAKAN DARI KANTOR PENULIS SEBULAN AJA NGGAK NYAMPE SEGITU?? PANTESAN NI OBAT NGGAK DITANGGUNG BPJS......... Semuanya jadi masuk akal.


Hampir keluar sejuta sebulan untuk obat it's actually crazy karena lumayan duitnya bisa ditabung. Penulis nggak nyangka kalau harganya akan sefantastis itu. Tapi nggak papa deh katanya pengen sembuh? Lagipula mungkin saja harga di apotek lebih murah daripada di aplikasi?


Berpegang dengan keyakinan itu, besoknya, penulis berhasil sampai di apotek L*do yang ternyata emang beneran gede. Penulis menyerahkan resepnya ke apoteker sambil menunggu, berharap semoga obatnya ada dan harganya lebih murah.


Apoteker datang menyerahkan obatnya. "Udah tau cara minum obatnya kan Mbak?" Penulis mengangguk, jadi dia tidak perlu menjelaskan lagi.


"1 box Visanne isi 2 blister totalnya Rp690.000,00. Mau bayar pake apa mbak?"


WUAH SELISIH 110 RIBU. Untung penulis beli di apotek ini, walaupun harus PP kurang lebih 9 km dari kosan. Ah tapi apalah arti bensin untuk jarak segitu dibanding dengan beli seharga 800 ribu di Halodoc.


Setelah menyelesaikan pembayaran (untungnya apotek itu menerima pembayaran dengan debit karena uang tunai penulis nggak cukup) penulis membawa obat itu pulang. 1 box isi 2 blister. 1 blister isinya 14 pil, jadi total ada 28 pil untuk 28 hari. Ini artinya penulis harus merogoh kocek sebesar 690 ribu setiap bulan untuk stok obat tersebut. 


Yah .........


Mau bagaimana lagi, kan!!!

Beginilah perwujudan obat yang harga 2 blisternya sekitar 800 ribu via Aplikasi Halodoc


Penulis mencoba mencari obat tersebut di lapak online seperti Tokopedia dan Shopee. Ada banyak apotek yang menjual obat ini di Tokopedia dengan harga sekitar 690 ribu sampai 700 ribuan. Sayangnya obat ini hanya bisa dibeli dengan mengunggah resep, sedangkan resep yang diberikan dokter sudah ditebus di apotek sebelumnya. Jadi jangan lupa kalau terima resep dari dokter, ada baiknya difoto dulu(◞‸◟)Penulis akhirnya minta lagi sih pas kontrol.


FYI kalau beli obatnya langsung di apotek, penulis nggak perlu nunjukin resep. Pernah repurchase obatnya ketika habis, penulis cuma bilang, "Mbak mau beli Visanne 1 box,", langsung dikasih. Tapi nggak tau juga sih bisa jadi tiap apotek beda-beda.


Dengan mempertimbangkan alasan finansial, penulis akhirnya memutuskan untuk repurchase Visanne di Tokopedia saja. Selain harganya lebih murah yaitu 650 ribu, penulis juga dapat cashback Gopay Coins sekitar 45 ribuan setiap pembelian. Walaupun beberapa bulan belakangan Tokopedia sudah nggak bisa combo voucher alias penulis harus memilih antara mau pakai voucher gratis ongkir atau voucher cashback, tapi opsi pembelian ini sudah paling murah karena obatnya langsung diantar ke rumah jadi penulis hemat bensin juga, dapat cashback pula (karena penulis lebih pilih bayar ongkir, toh pake ongkir hemat hanya Rp7.500,00 biasanya sehari langsung sampai). Sebuah solusi yang win-win solution (´∀`)b


Yah sudah pake strategi itupun, keluar 600ribuan tiap bulan itu tetep kerasa sih ha ha ha (ㆆ ᴗ ㆆ)

BTW barangkali ada yang butuh penulis belinya di toko ini! Pengirimannya cepet dan aman, ada cashback toko yang bisa dicombo cashback Tokopedia. Link

Sekian untuk sesi kali ini. Berikutnya penulis akan cerita Visanne dan efek sampingnya bagi penulis :))


Tuesday, August 1, 2023

Catatan Endometriosis: Apakah Ini Penyakit Berbahaya? (Part 1)

August 01, 2023

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)


APA KABAR EVERIBADEH HAHAHAH (menyapa warga dengan heboh) (berdebu)


Blog ini hampir 3 tahun terbengkalai gara-gara tagihan custom domain blog ini nggak dibayar-bayar. Posisi penulis lagi males nulis juga padahal dalam 3 tahun itu juga ada pandemi COVID yang mana sebenarnya ada kesempatan buat nulis banyak hal, tapi yah banyak tapinya akhirnya nggak terlaksana. Akhirnya blog ini disetel ke setelan pabrik pake domain gratisan dari blogspot aja. And here i am :) raditapeketo(dot)com you'll be missed. Kapan-kapan beli lagi kalau udah mulai rajin nulis lagi.


Kali ini penulis mau cerita tentang pengalaman penulis. Pada tanggal 13 Oktober 2022, penulis didiagnosa terkena endometriosis. Endometriosis itu apa sih?


Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita mundur ke beberapa bulan sebelumnya.


Trigger Warning: akan banyak diceritakan soal muntah-muntah. Kalau ngerasa nggak nyaman, sebaiknya nggak usah dibaca. 


Kurang lebih sejak pertengahan 2022, perut penulis mulai bermasalah lagi. Penulis memang punya maag, selain itu juga saat haid sering merasa nyeri berlebihan yang kadang sampai muntah. Penulis bolak-balik ke dokter, diagnosa awalnya sih kemungkinan karena maagnya kambuh lagi. Akhirnya diresepkan obat-obat maag.


Ternyata walaupun sudah minum obat, rasa sakitnya masih berlanjut. Beberapa kali saat malam hari perut rasanya sakit seperti ditusuk, saking sakitnya penulis sampai tidak bisa tidur. Penulis ke dokter lagi dan mencoba mengonsultasikan masalah itu, karena obat maagnya tidak membantu, akhirnya diarahkan untuk melakukan tes urin. Dari situ terdapat kemungkinan bahwa penulis terkena infeksi saluran kencing (ISK). Penyebabnya mungkin karena penulis kurang minum air putih dan/atau suka menahan kencing. Lalu penulis disarankan untuk memperbanyak minum air putih minimal 2 liter, tidak menahan kencing dan diresepkan obat dan antibiotik. Jujur saja, penulis sebenarnya tidak mampu minum air 2 liter sehari wkwkwk minum 1 liter lebih saja sudah untung. Soalnya kapasitas segitu terlalu banyak dan yang ada malah setengah hari habis buat beser jadi ya penulis minum semampunya saja.


Dan meskipun obatnya sudah habis, rasa sakitnya masih belum hilang juga. Masih sering tidak bisa tidur di malam hari karena menahan rasa sakit di perut sebelah kiri. Saat haid, kebiasaan nyeri sampai muntah beberapa kali muncul juga. Padahal dulu saat haid penulis tidak teratur penulis sudah jarang muntah-muntah saat haid. Namun beberapa bulan terakhir siklus haid penulis mulai teratur/normal (siklus 28-29 hari dengan masa haid di bawah 10 hari, biasanya siklus 30-31 hari dengan masa haid 15 hari T___T) yang sayangnya justru diikuti dengan kembalinya kebiasaan muntah-muntah penulis.


Lalu puncaknya, tanggal 11 Oktober 2022, penulis pecah telor muntah di kantor.


Di ruangan seksi.


Bencana besar.


Jadi selama ini kalau muntah, muntahnya selalu pas di kosan. Atau kalau sudah kerasa mual-mual nggak jelas, penulis izin pulang lebih awal lalu muntah ketika sudah sampai kosan.


Jadi orang kantor terbengong-bengong liat penulis yang tiba-tiba muntah, karena sebelumnya memang nggak pernah. Paling taunya penulis sering izin karena sakit perut, tapi nggak pernah benar-benar lihat sakitnya seperti apa.


Untungnya, penulis nyetok kresek tak terpakai di meja, jadi pas hampir muntah penulis langsung ngambil kresek itu dan (berhasil) nggak muntah di lantai kantor. Rekan-rekan kerja langsung panik. Penulis juga panik. Soalnya MUNTAHNYA NGGAK BERHENTI-BERHENTI.


FAK FAK INI KENAPA KOK NGGAK MAU STOP???


Tiba-tiba throwback ke tahun 2019 ketika penulis masuk IGD karena muntah nggak berhenti-berhenti sampai isi perut kosong dan hanya muntahin cairan asam. Wah kalau ingat masa itu, rasanya beneran kayak mau mati. Soalnya isi perut beneran udah keluar semua selama hampir sejam DAN MASIH MUNTAH LAGI.


Penulis benar-benar merasa berterima kasih karena rekan-rekan kerja penulis saat itu benar-benar sigap. Mereka segera menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit. Rumah sakitnya deket banget sebenarnya cuman karena penulis udah nggak sanggup jadi harus dituntun ke mobil. Dan di mobil penulis MUNTAH LAGI. Udah nggak tau lagi men penulis cuman bisa pasrah.


Baru ketika sudah sampai IGD dan diinfus, penulis nggak muntah lagi.


Long story short, hari itu penulis nggak harus sampai dirawat. Setelah infusnya habis, penulis diizinkan pulang dan diberikan semacam surat rekomendasi (?) untuk periksa ke dokter spesialis Obgyn karena dikhawatirkan ada kista rahim. Namun sebelumnya penulis perlu surat rujukan dari faskes penulis. Akhirnya penulis diantar pulang (malu banget jujur karena pas itu kamar penulis SUPER DUPER BERANTAKAN maklum karena berhari-hari sebelumnya emang lagi sakit-sakitan) dan beristirahat. Sialnya hari itu hari terakhir pendaftaran beasiswa kuliah ekstensi. Penulis berhasil daftar dan submit semua berkasnya sih, sayangnya saat pengumuman tahap pertama, penulis nggak lolos :")


Keesokan harinya, penulis izin tidak masuk kantor untuk meminta surat rujukan dari faskes penulis. Penulis baru dapat surat rujukannya selepas dhuhur, namun penulis tidak langsung ke rumah sakit karena jadwal dokter spesialis Obgyn baru ada keesokan harinya. 


Penulis berangkat ke rumah sakit mengenakan kaos kantor, kebetulan hari itu di kantor ada acara perayaan, niatnya setelah dari rumah sakit penulis mau langsung ke kantor dan ikut acara tersebut.


Rencananya sih begitu, sampai penulis mendengar diagnosa dokter Obgyn.


"Jika dilihat dari hasil USG, ada endometriosis di rahim mbak, besarnya kurang lebih 3.34 cm."


Wha............?


Dokter menerangkan apa itu endometriosis. Berdasarkan website Alodokter, endometriosis adalah kondisi ketika endometrium tumbuh di luar dinding rahim. Sederhananya, endometriosis itu bentuknya kayak benjolan kecil di dinding rahim, lebih awam disebut sebagai kista rahim. Gejala utama endometriosis ini adalah nyeri hebat pada saat siklus menstruasi. Jadi si endometriosis inilah penyebab nyeri-nyeri perut berlebihan yang penulis rasakan belakangan ini.


Hasil USG tanggal 13 Oktober 2022

Sejak awal haid dulu ketika SMP, penulis sudah sering bolak-balik ke spesialis obgyn. Awalnya dulu karena siklus haid yang tidak teratur (lebih banyak masa pendarahan daripada sucinya, atau lebih dikenal dengan istihadlah). Saat itu dokter mengatakan kemungkinan ini karena masih masa awal haid, efek dari hormon yang masih menyesuaikan dan sebagainya. Lalu saat SMA, mulai upgrade tuh haidnya dari yang dulunya nggak teratur jadi nambah satu penyakit yaitu muntah-muntah saat nyeri haid berlebihan. Ketika berobat ke obgyn lagi, pernyataannya sama. Hasil USG menunjukkan rahimnya normal-normal saja dan kemungkinan karena faktor hormon dan stres. Lalu ketika kuliah kedua gejala ini mulai berkurang, namun siklus menstruasinya kadang-kadang masih panjang. Setelah lulus kuliah siklus menstruasi kacau lagi dan mulai muntah-muntah lagi. Ke obgyn lagi, pernyatannya sama lagi. Rahim aman, kemungkinan faktor hormon dan stres. Sampai-sampai rasanya kalau penulis jadi Avatar, penulis pengen punya kemampuan mengendalikan hormon dan stres. Karena kadang penulis ngerasa biasa aja, nggak stres kenapa-napa, tapi tubuh penulis berkata lain. Jadi suka doubting diri sendiri apa penulis terlalu banyak pura-puranya, ya.


Lalu baru kali ini mendapatkan hasil yang beda. Ternyata ada yang aneh di rahimnya. Ada kistanya. Penulis speechless.


Kena mental juga sih lumayan. Lebih karena nggak tau itu penyakit apaan. Kalo denger namanya "kista rahim" aja rasanya kayak penyakit parah banget, jadi takut.


"Untuk pengobatannya, bisa dengan terapi hormon dan operasi. Namun biaya terapi hormon ini tidak ditanggung BPJS....."


Wah ini nih, bencana satu lagi.


Dan lagi, dokter tidak menyarankan opsi operasi kepada penulis karena posisi penulis belum menikah. Jadi disarankan untuk terapi hormon saja. Namun mengingat biayanya itu, dokter meminta penulis untuk berdiskusi dulu dengan orang tua/keluarga penulis.


Lalu akhirnya penulis pulang, dan mulai mencari tau lebih lanjut tentang endometriosis itu.


Sekian dulu untuk pembukaan cerita terkait endometriosis yang penulis alami. Kalo rame lanjut part 2 ( ๑‾̀◡‾́)σ"




Sunday, December 9, 2018

Karma is Real

December 09, 2018
Awalnya saya berniat menulis surat untuk seseorang yang selalu saya pikirkan setiap mendengarkan Enchanted-nya Owl City dan To Reach You-nya Memory Fabricators. Tapi saya berubah pikiran. Saya akan menulis surat untukmu, ketika sudah tiba waktu yang tepat. Lagipula, saya sudah pernah menulis tentang kamu di blog ini. Saatnya memberi ruang untuk orang lain juga.

Lalu, kepada siapa surat ini saya tuju?

Hai kamu. Semoga kamu menyadari bahwa surat ini untukmu.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 😁

Males gue mau ngasih pertanyaan basa basi kayak, "apa kabar?". Gimanapun kabar lo, gue selalu berharap lo dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya.

Gue mau cerita. Cerita yang nggak pernah gue kasih tau ke siapa-siapa. Eksklusif nih. Simak baik-baik, ya. 

Tapi gue agak malu wkwkwkwk.

Kapan pertama kali kita ketemu? Waktu SMA. Gue liat lu sebagai anak yang ... aneh? Atau mungkin guenya aja yang mainnya kurang jauh dan kurang kenal banyak orang? Jadi gue anggap kepribadian lo itu cukup baru buat gue.

Lo yang paling banyak ajak gue ngobrol, tapi tetep gue ngerasa aneh aja dan belum bisa deket. Terus suatu hari kamar kita jadi bau banget nggak tau kenapa. Dan ternyata lo lagi nyuci. Gue nggak bisa menahan diri dan bilang, "ini bau apaan sih? Datengnya dari mana sih?" Padahal gue jelas-jelas tau itu dari lo. Gue nggak nyaman aja, karena pada dasarnya gue suka menjaga segala sesuatunya tetap bersih. Tapi asli tindakan gue itu jahat banget. 

Lalu kita nggak deket lagi. Pisah kamar. Kelas juga beda. Udah jarang deketlah sampai mau lulus SMA.

Gue waktu itu lagi iseng aja pengen buat novel dan nawarin siapa yang mau baca dan kasih review. Lalu lo menawarkan diri. Gue ragu karena dalam hati terdalam gue, gue masih ada rasa bersalah tapi juga masih ngerasa lo aneh. Ampun dah sumpah udah berapa tahun dan gue masih judging you so hard. Dosa banget. Lo keliatan antusias banget, jadi akhirnya gue kirim file naskah gue ke beberapa orang, termasuk lo.

Dan pas lo udah selesai baca, reaksi lo lain daripada yang lain. Beberapa ngasih komentar dan saran kelebihan sama kekurangannya di mana, ada juga yang nggak ngasih review dan bikin gue sakit hati. Tapi berkat lo, gue merasa jauh lebih baik. Lo nggak cuma baca, lo nge-hype, lo ngasih kritik saran bahkan lo edit naskah gue biar jadi lebih ciamik. Sumpah gue nggak bisa berkata-kata saat itu. Gue berterima kasih banget. Bahkan ketika novel gue nggak menang pun lo masih nyemangatin gue dan memfavoritkan Zidan.

Gue orangnya jarang pake banget nerima hadiah ulang tahun. Makanya kalo gue dapet kado, gue bakal simpan dan gunakan sebaik mungkin, karena emang gue seseneng dan berterima kasih itu kalo dikasih kado. Dan lo memberi hadiah yang nggak gue duga: sebuah cerpen fanfic dengan menggunakan tokoh novel gue. Asli itu di rumah gue teriak-teriak saking senengnya, saking bahagianya. Gue berasa penulis yang menang nobel. And till now your present is the most precious and beautiful present for me. There's nothing can beat it.

Gue mulai giat nulis Diari Anak IC, Didacric College, dan PPD. Dan dari semua itu lo selalu hype dan ngikutin. Ya ampun padahal level nulis gue nggak ada apa-apanya dibanding lo. Gue sangat-sangat-sangat-sangat berterima kasih.

Buat orang-orang tertentu, nama LINE-nya gue ganti biar beda sama nama asli. Ada yang pake nama panggilan yang kocak, ada juga yang gue kasih julukan. Dan termasuk punya lo juga gue kasih julukan karena lo berjasa besar dalam sejarah kepenulisan gue. Kelak kalo gue udah jadi penulis, gue pastiin nama lo tercantum setelah nama kedua orang tua gue di kolom terima kasih.

Karena sedikit sekali orang mendukung gue buat jadi penulis. Gue nggak bisa bilang ke orang tua gue karena mereka nggak mengarahkan gue ke sana. Menjadi penulis adalah impian yang selalu ingin gue raih sebelum gue mati. Gue nggak bisa maksa orang buat baca tulisan gue, sehingga gue sangat menghargai para pembaca gue. Dan lo adalah salah satu yang berharga banget.

Jadi emo dah wkwkwk.

Tapi beneran! Lo mungkin sering ngganghep diri lo gabut dan selaku suka baca tulisan temen-temen lo, selalu ngerasa temen lo hebat-hebat sedangkan lo masih nggak tau harus ngapain. But, read this.


If you think you mean nothing to someone, think again. There's always someone who treasure you, a lot. That's how I feel.

Karma banget nggak sih gue padahal dulu sering nganggep lo aneh, pernah jahat atau bahkan selalu jahat sama lo, tapi lo selalu baik sama gue, dan lo yang sering gue jahatin malah jadi suporter nomor 1 buat impian nomor 1 gue. Orang yang selalu gue hindarin di masa lalu malah jadi orang yang paling sering gue andalkan sekarang. Karma does exist, huh?

Tadi gue mampir ke toko buku dan gue baca-baca sekilas tulisannya Naela Ali dan Lala Bohang. Gue yakin kalo lo bikin buku, lo bisa lebih baik dari mereka. Gue akan mendukung penuh apapun cita-cita lo. Gue akan jadi orang pertama yang beli buku lo. Kalo perlu gue jadi tim marketing, tell those people to sleep on their bed, not your talent.

Akhir kata, gue mau berterima kasih kepada lo. Terima kasih nggak cukup, gue butuh kata yang 100x kali tingkatnya di atas terima kasih. Dan gue harap lu mau memaafkan kejahatan gue, baik yang dulu maupun sekarang.

Haruskah gue tulis nama lo di sini? Wkwkwk.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Regards,



Your clumsy writer

Friday, December 7, 2018

ATM Tidak Keluar Uang, Tapi Saldo Terpotong. Harus Bagaimana?

December 07, 2018
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Saya lagi males mau nulis tantangan 30 hari hahaha. Jadi lebih baik saya ceritakan pengalaman saya. Kebetulan beberapa minggu lalu saya mengalami kejadian ini, mungkin bisa jadi referensi bagi kalian jika mengalami kejadian serupa.

Apa kalian pernah mengambil uang di ATM, uangnya tidak keluar, kartunya tiba-tiba keluar sendiri, namun saat kalian cek lagi, saldonya sudah terpotong?

Siang hari itu sepulang kuliah, saya pergi ke ATM untuk mengambil uang untuk belanja keperluan. Saya biasanya mengambil di swalayan tempat saya belanja, tapi ternyata ATM tersebut tidak bisa. Jadi saya berjalan lagi menuju bank yang letaknya tidak jauh dari swalayan tersebut. Untuk informasi, saya nasabah bank BNI.

Ada beberapa ATM di sana. ATM non tunai, tarikan tunai dengan pecahan Rp100.000,00, tarikan tunai dengan pecahan Rp50.000,00, dan setoran tunai. Saya mengambil uang di ATM pecahan Rp50.000,00. Saya masukkan nominal Rp200.000,00. Saldo saya saat itu Rp2belasan sekian. Iya emang mau ditarik semua sampai tak bersisa, namanya juga mahasiswa.

Tapi tiba-tiba kartu saya keluar sendiri, dan tidak ada notifikasi "saldo tidak mencukupi". Hanya "transaksi tidak dapat diproses". Tanpa uang, bahkan tanpa struk.

Saya bingung. Mungkin saya tidak boleh kemaruk dan harus menyisakan saldo. Jadi saya coba lagi dan kali ini memasukkan nominal Rp150.000,00.

Dan kejadian yang sama terulang lagi. Kartu saya tiba-tiba keluar, notifikasi transaksi tidak dapat diproses, tidak ada uang yang keluar, tidak ada struk.

Saya makin bingung apa yang salah. Mau ambil 200 ribu tidak bisa, 150 ribu tidak bisa juga. Maunya apa sih? Atau ATM-nya memang sedang eror? Tapi orang yang mengambil uang sebelum saya bisa tuh?

Saya mencoba pindah ke ATM pecahan Rp100.000,00 dan memasukkan angka Rp100.000,00. Semoga saja kali ini bisa.

Dan kali ini notifikasinya berbeda dengan yang pertama dan kedua tadi.

"Saldo anda tidak mencukupi."

Saya tambah bingung. Kok nggak cukup? Cuma seratus ribu masa nggak bisa? Saya memutuskan untuk cek saldo karena sedari awal saya memang nggak cek saldo dulu, langsung tarik aja. Dan ternyata ....

"Sisa saldo anda Rp64.512,00"

WTF.

KOK BISA? KENAPA?

Saya panik. SEJUTA PANIK. SERATUS LIMA PULUH RIBU TIBA-TIBA KANDAS. BAYANGKAN BERHARGANYA UANG SEGITU UNTUK MAHASISWA.

Saya bertanya pada satpam. Saya jelaskan kronologinya secara mendetil. Selengkap-lengkapnya. Kecuali nominal saldo saya. Saya cuma bilang uang saya tidak keluar, tapi saldo saya terpotong.

"Coba cek mutasinya, Mbak."

Saya pun diarahkan untuk cek mutasi rekening. Dan tertera di situ telah dilakukan penarikan tunai sebesar Rp150.000,00 di jam saya menarik uang tadi.

"Itu kan Mbak habis ambil Rp150.000,00."

"Iya, tapi uangnya nggak keluar, Pak." Saya frustasi.

"Mbak bawa KTP sama buku tabungan nggak?"

"Enggak, Pak." Ya jelas enggaklah Pak!! Ngapain saya bawa buku tabungan segala?? Orang saya niatnya cuma ambil duit di ATM bukan ke bank. Nggak tau saya kalau bakal ada kejadian kayak gini.

"Kalau mbak bawa KTP sama buku tabungan, bisa diurus sekarang, Mbak." kata beliau bikin saya tambah dongkol. "Tapi saya butuh uangnya sekarang, Pak..." gumam saya frustasi sambil melangkah ke pintu keluar. Iya, saya nggak bisa menahan diri. Sefrustasi itu. Sudah nggak jadi belanja, nggak bisa ambil uang, uang saya raib pula. Akhirnya saya pulang dengan tangan kosong dan saldo nyaris kosong. Sepanjang jalan rasanya mau nangis, padahal saya mau pakai uang itu selain untuk belanja juga untuk bayar utang.

Kenapa sih Ya Allah.

Karena kepalang dongkol, setelah mengambil KTP dan buku tabungan, saya berangkat ke bank itu lagi dengan naik Grab. Saya juga mengorbankan poin saya agar bisa menggunakan voucher, jadi saya nggak perlu keluar uang. Saya tiba-tiba jadi pelit karena nggak punya duit.

Untungnya, bank sepi setelah jam istirahat siang. Saya sengaja menunggu agak lama di kos sambil menenangkan diri (nggak saya nggak nangis kok pemirsa, cuma jengkel aja) sampai selesai jam istirahat, karena sebelumnya bank cukup ramai dan kalau sedang frustasi saya nggak ingin ketemu banyak orang. Saya langsung masuk dan diarahkan ke customer service.

Saya menjelaskan lagi kronologinya seperti saya menjelaskan ke pak satpam tadi (untungnya pak satpam siang ini berbeda dengan yang tadi). Lalu saya makin terkejut mendengar jawabannya.

"Di sini, kami akan bantu Mbak buat laporan pengaduan yang akan dikirim ke pusat supaya bisa diurus di sana. Uang Mbak bisa kembali. Biasanya ada yang makan waktu satu hari, tapi maksimal 14 hari kerja."

Saya melongo.

14 HARI KERJA???

INI 14 HARI KERJA LHO BUKAN 14 HARI BIASA YEOROBUN.

Kalau kalian tidak tau, 14 hari kerja itu artinya yang dihitung hanya hari kerja saja mulai Senin sampai Jumat. Sedangkan 14 hari biasa memperhitungkan semua hari termasuk Sabtu dan Minggu. Jadi kalau 14 hari biasa itu artinya 2 minggu, 14 hari kerja bisa lebih dari 2 minggu.

Saya rasanya udah pengen nangis ajalah. Udah nggak ada duit ini. Saya kira pak satpam tadi bilang "bisa langsung diurus" maksudnya ya uang saya bisa langsung kembali. Ternyata nggak seperti itu.

".....jadi saya harus gimana....." ini suara saya udah gemeter beneran rasanya pengen nangis pengen dorong komputer si mbaknya pengen obrak-abrik banknya pengen ngerampok duitnya.

"Sekarang buat laporan pengaduan dulu ya Mbak. Saya siapin berkasnya. Mbak bawa buku tabungan sama KTP?" saya ngangguk. Pas mbak CS nyerahin kertasnya, saya nanya lagi.

"Nggak bisa lebih cepet ya Mbak? 14 hari kerja?" saya beneran shock. Masalahnya saya udah nggak punya duit, punya utang pula. Masa ngutang terus. Hidup saya 14 hari ke depan makin terjerat utang.

"Biasanya ada yang sehari langsung kembali kok Mbak. Ditunggu aja ya."

Lalu di laporan pengaduan itu ada bagian ATM tempat transaksi alias bencana terjadi. Saya bingung gimana nulisnya jadi saya serahin lagi ke mbak CS-nya.

"Tadi narik uangnya di ATM mana, Mbak?"

Apanya yang ditarik. Ketarik iya. "Di ATM sini Mbak. Yang pecahan Rp50.000,00."

"Oh, di sini?" dia agak kaget. IYA MBAK DI SINI MAKANYA BALIKIN DUIT SAYAH HUHUHU.

Kemudian saya diberikan kopian laporan pengaduan, disuruh simpan sampai uang saya nanti kembali.

"Mbak ada m-banking, kan? Nanti sambil dicek aja. Kalau uangnya sudah masuk, saya hubungi by call."

Saya udah nggak minat lagi. Setelah berterima kasih, saya permisi.

-------------------------

Bencana itu terjadi tanggal 27 November kemarin. Setiap hari, saya tidak pernah absen untuk cek m-banking saya, barangkali uangnya sudah kembali. Dan berhubung saya nggak punya duit lagi serta nggak enak kalo ngutang terus, akhirnya saya memberanikan diri curhat ke orang tua saya. Untungnya mereka segera mengirimkan saya uang. Saya nggak enak aja mintanya soalnya emang belum waktunya saya dikirim.

Lalu berapa lama akhirnya saya harus menunggu?

Tepat tanggal 30 November uang itu sudah duduk manis di rekening saya. Alhamdulillah nggak makan waktu yang lama banget. Jadi saya nunggu empat hari untuk duit itu kembali.

Hikmah yang bisa saya ambil, saya nggak boleh sembrono lagi ambil duit. Biasanya saya bisa sampe nyisa 9 ribu di ATM, tapi saya baru tau kalo batas minimal sisa kartu saya itu Rp16.000,00. Jadi saya akan berusaha nggak ngambil sampai mepet-mepet lagi. Bisa berabe kalo ngurus lagi.

Kalau kalian mengalaminya, segera ke bank dan kirim laporan pengaduan. Sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat!


Sunday, December 2, 2018

Battle Trip adalah Racun

December 02, 2018
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :D

Yeay! Saya gembira karena tema kali ini adalah salah satu tema yang saya tunggu-tunggu: kota tempat wisata impian. Karena sejak kecil saya sudah berkenalan dengan buku terutama buku ensiklopedi dan Harun Yahya (iya padahal saya suka banget karyanya Harun Yahya eh ternyata dia begitu ( ཀ ʖ̯ ཀ) #nocomment) terus mainnya sama Encarta, saya punya cita-cita untuk keliling dunia! Keliling dunia bukan sembarang keliling dunia, tapi keliling dunia gratis :")

Pas MAN saya mendalami geografi dan rasanya makin cinta sama ciptaan Tuhan. Sampai sekarang saya nggak bisa move on. Bahkan di kamar kos, saya menempel dua peta dunia, satu dalam bentuk poster lengkap dengan detail kota besarnya termasuk bendera semua negara, dan satu lagi dalam bentuk stiker dinding berwarna hitam. Tiap lihat poster itu auto berdoa, "Ya Allah semoga aku bisa keliling dunia".

Saya sih sudah punya listnya tempat mana saja yang ingin saya kunjungi tapi jelas kalau saya tulis semuanya di sini, nggak bakalan cukup. Jadi saya hanya memilih dua negara saja, Jerman dan Korea Selatan. Saya harap postingan ini bisa meracuni kalian semua agar tertarik ke sana juga :)

Jerman

Saya punya keinginan pergi ke Jerman sejak MAN, tapi saya tidak tahu alasan pastinya saya ingin ke sana. Saya selalu mencatat destinasi yang ingin saya kunjungi, tapi tidak ada tempat wisata yang berada di Jerman. Tidak tahu kota apa tepatnya yang menjadi tujuan saya. Tapi saya tetap ingin ke sana. Mungkin saya akan menemukan alasannya jika sudah pergi ke sana.

Gosh it's so breathtaking. Fjord is so damn beautiful it looks unreal. (www.gadventures.com)
Sebenarnya dari 5 benua, benua yang paling ingin saya jelajahi seluruhnya adalah Eropa. Eropa indah sekali. Apapun tentang Eropa selalu indah. Saya ingin ke Jerman dan negara-negara Skandinavia. Pengen lihat fjord secara langsung. Dan gunung serta danau-danau di sana cantik banget :"""))))) Saya mungkin akan beku di sana jadi saya harus bersiap-siap. But seriously, Skandinavia is a place I must visit before I die.

Korea Selatan

Saya pengen ke sana bukan karena saya kpopers terus kepingin ketemu artis, tapi karena racun yang ditebar lewat acara Battle Trip. Battle Trip adalah variety show Korea Selatan berupa pertandingan antara dua tim yang berwisata untuk selanjutnya penonton memutuskan manakah trip yang menjadi pemenangnya. Awalnya saya nonton ini karena Bunssodan jadi bintang tamu, tapi berakhir jadi pengen beneran ke sana! Rachon sekali memang hmmmmmm.

Kalau di Korea, saya punya destinasi tempat yang ingin saya kunjungi berkat nonton acara itu. Capcus.

Hadong, Provinsi Gyeongsang

Kalau yang ini asli racun dari Battle Trip episode 90 karena mereka trip ke sini. Kalau kalian orang yang sama sepertiku, suka makan dan olahraga yang ekstrim, pasti bakal suka juga sama tempat ini.

Hadong mungkin nggak terkenal di dunia, bahkan Korea. Yang paling terkenal itu kalau nggak Seoul ya pulau Jeju. Tapi justru karena masih sepi itu yang bikin di sana masih terjaga banget. Saya ingin hampir ke semua tempat yang dikunjungi oleh Bunssodan XD. Untuk makanan-makanan yang ingin saya coba, saya ingin ke Jinju untuk makan mie dingin lengkap dengan beef tartare dan meat fritter. Meat fritter di Indonesia sama dengan menjes, jadi dibuat dari bahan-bahan sisa, bedanya kalau menjes dari kedelai, yang ini pakai daging.


Baca juga "5 Warung Makan Favorit di Malang dan Bintaro (Kebanyakan Bakso)"

Saya juga ingin makan lamellated oysters, sebuah tiram super besar yang dipanggang. Paling nikmat kalau dimakan bersama kimchi. Di tempat yang sama saya juga ingin mencoba sup kerang rawanya. Lanjut yang nggak boleh lewat tentu saja Hanu, daging sapi khas Korea. Saya mupeng kalau lihat drama atau variety show Korea dan mereka makan barbeku.

Hadong ini terkenal dengan festival bunga sakuranya, jadi paling pas kalau ke sana pas musim semi. Pohon sakura ada di sepanjang jalanan Hadong, berbaris rapi. Dan saat angin berhembus, kelopak sakura bertebaran seperti di anime dan efek film :""")))) cantik bangetttttttttt. Oiya di Hadong juga ada zip line terpanjang di Asia, dan saya harus nyoba itu huaaaa. Zip line ini melintang di Gunung Gumo dengan panjang rute sekitar 3 kilometer.

Lengkapnya mending kalian tonton langsung acaranya deh. Kalau mau cari tentang Hadong di Google susah, mending lihat videonya. Kalian alergi bahasa Korea? Tenang, ada subtitle-nya kok :)


Pulau Jeju

Iya pulau Jeju pasaran banget tapi tetep aja saya ingin ke sana. Ini semua gara-gara racun yang saya dapat (lagi-lagi) Battle Trip. Kali ini trip yang dilakukan oleh JR dan Baekho NU'EST.

Seperti biasa, saya ke Korea tujuannya ya untuk makan-makan XD. Makanan yang membuat saya pengen ke Jeju adalah sup ikan dingin dengan abalone mentah. Saya pensaran sampai sekarang kenapa makanan berkuah di Koera itu banyak yang dingin, mie dingin, sup dingin, emangnya enak? Terus saya juga ingin mencoba mie ikan mentah.

Lalu malamnya saya ingin ke food market dan makan sepuasnya!! XD Bukannya makanan di sana gratis sih, tapi food market di Jeju menjual banyak sekali makanan dan saya wajib banget makan fried turkey-nya!! Pulau Jeju terkenal dengan babi hitamnya, berhubung saya nggak bisa makan babi, jadi saya mengikuti saran Baekho: makan deep-fied rockfish!

Dan sebagai penggemar gurita dan bebek level hardcore, saya juga ingin makan sup gurita campur bebek di Jeju >< (Battle Trip episode 46). Di Korea tuh kayak gampang banget cari gurita sedangkan saya sampai sekarang mencarinya susah payah, sekalinya nemu, cuma sedikit dan mahal. Masaknya juga dibakar saja. Padahal saya ingin yang lebih variatif  ><.

Terus kalau selain makanan, saya juga ingin melakukan olahraga "berputar" XD. Kita bisa masuk bola raksasa dan menggelinding bersamanya di sebuah trek. Bolanya ada yang berisi air ada juga yang tidak. Menyiksa diri sih, tapi semua olahraga ekstrim memang gitu kan?


Seoul

Hehehehe ini harusnya jadi destinasi pertama malah. Tapi saya lebih pengen ke Hadong daripada Seoul.

Tempat-tempat yang ingin saya tuju adalah SMTOWN Coexartium karena saya penggemar grup-grup besutan SM Ent. Nggak tau sih bakal beli apa nggak di sana, beli yang dibutuhin aja. Saya selalu kepingin beli album tapi saya sama sekali nggak membutuhkan poster, photobook, dan photo card-nya jadilah saya nggak pernah beli. Terus kalau ketemu artis SM ya mujur tapi kalau nggak ya nggak papa sih.

Baca juga "Me Over The Kpop Virus"

Tempat kedua adalah Sungai Han. Sederhana saja seperti orang-orang kebanyakan, saya ingin makan ramen sambil menikmati pemandangan di Sungai Han, terutama di malam hari. Iya, ramen yang dibeli dan dimasak langsung di minimarket gitu. Biar berasa orang Seoul beneran :D

Dan lagi-lagi makan yaitu makan barbeku. Mupeng setelah nonton acara bromance-nya Jungkook BTS dan Minwoo Shinhwa. Keliatannya enak banget jadi penasaran pengen nyoba juga. Tapi yang mereka makan samgyeopsal huhu semoga aja di restorannya nyediain daging sapi.

Biar kamu mupeng juga, tonton aja video ini :D


Kayaknya banyak banget makanannya ya? Hehehehe maklum saya orangnya suka makanan terutama makanan-makanan yang baru. Selama ini saya jarang banget jalan-jalan, jadi begitu keluar saya pingin makan banyak-banyak. Saya bosan makan itu-itu terus. Tapi sedihnya makan di luar negeri itu kemungkinan mencobanya hanya sekali soalnya nggak tau kan bakal ke sana kapan lagi.

Ini bener-bener cuma beberapa dari ribuan yang ada di daftar saya XD. Belum Maladewa, Selandia Baru, Australia, Kanada, dan lain-lain. Baru dua negara aja udah sepanjang ini postingannya wkwkwk. Saya seingin itu keliling dunia karena selama ini seperti terkekang. Saya harap jodoh saya nanti siap saya seret ke mana-mana WKWKWKWK.

Btw referensi tempat-tempat di Korea saya lengkap banget, thanks to Battle Trip and other variety show. Kalau ada acara yang mirip Battle Trip begini, boleh dong rekomendasinya biar saya nggak koreaan mulu wkwkwk. Info penting: Battle Trip ini juga pernah ke Bali dan Bandung, lho, cek episode 54 dan 114.

Oke sekian semoga kalian juga teracuni oleh Battle Trip :). Terima kasih sudah membaca!

Friday, November 30, 2018

A 100 Million Dreams

November 30, 2018
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :D

Halo halo halo! Jumpa lagi dengan saya tidak lain dan tidak bukannn ..........

RADITA PEKETO!! ˚ ҉✧ෆ ҉*₊( ‾ ʖ̫ ‾)₊* ҉ෆ✧ ҉˚  //plok plok plok plok plok

Saya membuat intro yang tidak biasa karena tema tulisan kali ini adalah tentang jika saya mendapat hadiah Rp100 juta. Saya buat seolah-olah saya menang di kuis Super Deal 2 Milyar. Nah langsung saja tidak perlu kebanyakan cincong, apa yang akan saya beli jika detik ini saya mendapat uang segitu banyaknya?

Laptop

Ini adalah barang yang akan saya beli pertama kali, karena laptop saya sudah sulit diajak berkompromi. Baterainya bocor sehingga ia tidak bisa hidup tanpa charger. Tidak bisa bertahan lebih dari 30 menit karena mudah panas, sehingga dia perlu kipas untuk menyambung hidup. Selain itu, banyak aplikasi yang tidak support karena tipenya 32-bit, sedangkan saya banyak membutuhkan aplikasi 64-bit. Laptop juga menjadi benda sakral bagi mahasiswa dan tentunya jika sudah bekerja nantinya.

Saya berniat membeli laptop yang memiliki versi 64-bit dan tipis (kalau bisa tetap ada CD ROM-nya, tapi kalau tidak ya apa boleh buat). Saya belum memutuskan merk apa tipe berapa, itu bisa dipikir nanti, yang penting kriterianya dulu.

Handphone

Nah kalau laptop sudah aman, saatnya memperbarui handphone.

Sebenarnya saya sudah cukup puas dengan handphone saya kalau saja dia tidak lemot seperti sekarang. Memorinya sering penuh membuat saya harus membersihkannya berkali-kali. Dan handphone saya meskipun dual sim card, tapi salah satu slotnya bisa diisi memori eksternal atau sim card. Karena saya lebih membutuhkan memori eksternal, saya mengorbankan salah satu slot itu dan akhirnya slotnya penuh. Apalah arti dual sim card jika cuma diisi satu kartu saja T_T

Saya ingin membeli ipun karena kameranya bagus, tapi melihat teman-teman saya yang ribet sejuta ribet menggunakan ipun, dan saya nggak suka hal-hal yang ribet, saya jadi enggan. Saya ingin membeli handphone yang mempunyai kapasitas memori internal yang besar, dual sim card dengan slot memori eksternal terpisah, memiliki kamera yang bagus dan anti air. Karena saya sering menjatuhkan handphone, sepertinya tahan banting juga harus masuk kriteria.

Sepeda motor matic

Yah, saya memang belum punya SIM. Bahkan lancar mengendarai motor pun belum. Baru lancar bersepeda saja pas kelas 5 SD.

Tapi saya frustasi karena orang tua saya selalu berjanji kepada saya, "nanti kalau sudah bisa motoran, baru dibelikan motor." Saya berniat belajar motor selama di rumah, namun apa daya motor yang ada di rumah adalah motor bebek, dan kalau mau belajar sendiri saya tidak berani. Kalau matic mungkin saya bisa otodidak (?).  Ayah saya sudah jarang menggunakan motor tersebut karena selalu bepergian menggunakan mobil. Saya pun merajuk agar motor tersebut ditukar tambah dengan motor matic. Namun ayah saya menolaknya.

Dan liburan kemarin adik saya ingin belajar motor. DAN IBU SAYA LANGSUNG MENYURUH KAKAK SAYA UNTUK MENGAJARINYA. PADAHAL DIA BARU KELAS 2 SMP.

SAYA MARAH DONG.

Saya tidak pernah diberi waktu untuk belajar motor, tapi adik saya baru minta satu kali langsung diajari. Setiap saya ingin belajar motor, pasti selalu saja ada alasannya sehingga akhirnya saya tidak jadi belajar. Dunia memang tidak adil.

Dan segala penundaan tersebut saya ketahui sebagai, "nanti saja beli motor sendiri kalau sudah kerja." Haaahhh~~~~

Kamera

Duitnya masih ada nggak, ya? Hehehehe.

Kalau masih ada saya kepingin menjual kamera saya dan ganti beli kamera SLR, atau mirrorless juga oke. Saya tahu di masa depan mungkin saya akan jadi orang yang suka keluyuran ke mana-mana dan saya butuh kamera untuk mengabadikan perjalanan saya.

Siapa tau di masa depan blog ini justru berubah temanya dari personal blog menjadi travel blog? Hehehehe.

Rak buku

Oke, barang ini akan menjadi barang terakhir dalam list ini. Serius. Saya betul-betul membutuhkan rak buku.

Ayah saya bahkan memiliki etalase kaca yang lebih tinggi dari saya untuk menyimpan buku-bukunya. Saya hanya menyimpan buku di rak kosong di bufet ruang tamu. Saya ingin membeli rak buku kayu untuk menyimpan buku-buku saya di kamar saya, sehingga saya tidak perlu ke ruang tamu jika mau membaca buku, karena jarak ruang tamu dengan kamar saya jauh, beda lantai.

Rak buku juga menjamin keselamatan buku-buku saya. Dulu saya mengoleksi banyak komik saat SD, namun begitu kami pindah rumah, komik-komik saya itu hilang entah ke mana. Taunya dibuang. Padahal komik itu saya beli dari uang Rp50.000,00 yang selalu saya terima jika saya berhasil mendapat ranking 1. Harga komik saat itu masih murah sekali sehingga dengan duit segitu saya sudah dapat banyak komik. Saya tidak mau buku-buku koleksi saya sekarang juga dibuang begitu saja, padahal itu saya beli dengan tabungan saya.

Oke cukup! Sisa uangnya akan saya berikan pada orang tua saya, terserah mau dibuat apa.

Saturday, November 24, 2018

Me Over The Social Media

November 24, 2018
Assalamu'alaikum warhamatullahi wabarakatuh :)

Akhirnya masuk ke topik di luar dunia per-blogging-an, yaitu tentang sosial media. Jawaban penulis sih sederhana, sosial media itu kayak barang. Baik buruknya efek yang ditimbulkan barang tersebut tergantung penggunanya. Jawaban sejuta umat yang sudah sangat lumrah.

Lalu apakah tulisan ini akan berhenti di sini begitu saja? Hohohohoho.


Platform sosial media itu ada banyak jenisnya dan macam-macam kegunaannya. Penulis pengen bahas satu-satu mulai dari sosmed milenial nomor wahid (Instagram) sampai sosmed wajib para desain grafis (Pinterest). Penulis punya sikap yang berbeda-beda di tiap sosmed. Begitulah, kadang pencitraan itu memang perlu. Kalau nggak pencitraan, semua orang bisa menjadi Awkarin.

Kadang pencitraan itu memang perlu.

 Instagram

Akhir-akhir ini penulis mulai jarang menggunakan Instagram, nggak sesering dulu. Penulis sekarang lebih suka bersarang di Twitter karena setidaknya menurut penulis, kehidupan di Twitter itu lebih realistis. Sedangkan di Instagram, kebanyakan kita disuguhkan hanya bagian kehidupan yang indah saja. Btw, penulis jadi ingat cuitan salah satu user Twitter.


Tak terhitung seringnya penulis deactivate akun Instagram, misalnya pas masa-masa ujian, atau masa-masa penulis tidak membutuhkan Instagram. Kalau sekarang sih butuh banget hahaha. Kan buat share hasil tulisanku supaya kalian baca. Enaknya deactivate itu akun Instagram kita menghilang untuk sementara waktu, jadi pengguna Instagram lain tidak bisa menemukannya meskipun kita cari namanya di search. Dulu sih penulis pertama kali deactivate karena emang beneran frustasi. Tapi makin ke sini alasannya sangat sederhana, seperti menghabiskan kuota.

Baca juga "Peketo Effect"

Penulis kadang-kadang update snapgram. Dulu menghabiskan menonton story adalah kewajiban, tapi sekarang penulis mampir Instagram cuma buat update snapgram, like foto di timeline, udah. Penulis kayak udah nggak peduli-peduli amat hahaha. Mana sekarang di Instagram bertebaran paid promote. Pernah pada suatu masa, 1/8 dari following penulis menjadi panitia suatu acara yang sama, dan begitu paid promote, timeline langsung penuh. Ugh bikin males liatnya.

Twitter

Nah ini platform favorit penulis sekarang. Yang banyak dilihat orang di Instagram adalah pencitraan. Aku lebih leluasa menunjukkan jati diriku di Twitter. Dan tentunya alasan lainnya adalah karena penulis ingin hemat kuota. Tapi tidak banyak orang yang follow Twitter penulis. Yah, penulis bisa maklum sih. Penulis lebih liar dari yang bisa kalian lihat dan tidak semua orang bisa tahan dengan semua itu.

Kalau kalian mau follow, penulis ingatkan dulu mulai sekarang, 50% isi dari twit penulis adalah tentang kpop. Kali aja gitu kalian ada yang kalau dengar kata kpop kuping langsung panas, badan langsung kejang-kejang, perut mual-mual, gangguan kehamilan dan janin. Daripada kalian nanti sudah follow terus di-unfol karena nggak betah heuheuheu.

Baca juga "Me Over The Kpop Virus"

Facebook

Sosmed paling laris pada masanya. Penulis tumbuh dari gadis alay yang hobinya menulis huruf kecil besar, kasih tanda-tanda nggak penting, tulisan dicampur huruf dan karakter, hingga menjadi gadis yang takut kena semprot Ivan Lannin, semuanya terjadi di Facebook. Penulis pengguna aktif Facebook sejak SD, tapi akun Facebook juga tidak cukup satu. Semuanya butuh proses.

Facebook pertama penulis sejak SD dulu sekarang namanya panjang banget, dan penulis udah lupa password-nya jadi nggak bisa ganti. L***aremacintasdi Ditarespectormbambez WKWKWKWKWKWK nggak papa ketawa aja nggak usah ditahan-tahan. Namanya juga dulu masih SD, masih alay. Dulu bahkan penulis nggak tau Respector itu nama fans Bondan Prakoso, asal pake saja.

Terus akun kedua itu akun yang level Pet Society-nya sudah yahud. Sempet namanya Metafisika Armageddon WKWKWKWKWKW APA BANGET COBA ITU MAH BUKAN NAMA FACEBOOK HARUSNYA JUDUL SKRIPSI. Ya begitulah. Aku masih alay teman-teman, maafkan.

Lalu bikin akun baru lagi ketika SMP, dan nama pertamanya sangat-sangat alay tapi di pondokku sangat kekikinian, yaitu ******** ****** ******************** (disensor karena satu dan lain hal, tapi anak-anak yang dulu Dinamika satu kelompok dengan penulis tau. Ada yang masih inget?). Kemudian nama alay itu berganti menjadi agak normal, DitaKtif Peketo. Lalu berganti lagi menjadi senormal-normalnya nama asli, hingga penulis memilih nama R Nilna Salsabila. Dan nggak disangka-sangka nama itu jadi nama yang terpampang di name tag-ku waktu MAN. Normalnya nama teman-temanku yang disingkat adalah kata terakhir, tapi milikku tidak. Yang disingkat justru kata pertama.


Blog

Blog juga penulis melalang buana dari Blogspot, Wordpress, kemudian kembali ke Blogspot lagi. Karena tampilan Blogspot lebih enak diutak-atik sesuai keinginan penulis, kalau di Wordpress sudah diset dari template-nya. Penulis nggak begitu tertarik menggunakan Tumblr karena tampilannya cenderung monoton, dan penulis sudah punya Twitter, sarana untuk menulis yang singkat-singkat Kalau yang panjang-panjang mending di Blogspot sekalian.

Ask.fm

#RIPAsk.fm karena sudah ada fitur question di Instagram. Ask.fm sekarang juga punya fitur shout out jadi bisa bertanya pada user yang tidak dikenal tapi wilayah penggunanya berdekatan. Mungkin karena sudah sepi pengunjung.

Path

Penulis memang bukan pengguna aktif sosmed yang satu ini, tapi #RIPPath.

Youtube

Semi sosmed, sih. Tapi ini adalah pelarian penulis. Jadi kalau penulis lagi pegang HP, tapi nggak aktif di Instagram, Twitter, wa ala alihi wa shohbihi, artinya penulis sedang menghabiskan waktu di Youtube. Youtube itu obat untuk kecanduan sosmed, tapi gantinya malah jadi kecanduan Youtube. Memang obatnya kecanduan itu cuma satu: hapenya ditaroh.

Memang obatnya kecanduan itu cuma satu: hapenya ditaroh.

Pinterest

Gudang inspirasi bagi penulis yang sering jadi anak dekor dan multimedia. Selain itu penulis juga bisa mencari inspirasi untuk gambar (foto-foto fansite misalnya) atau foto-foto pemandangan yang estetik. Pinterest sudah menjadi sosmed wajib bagi orang-orang seperti penulis. Tapi di Pinterest kontennya banyak, apalagi meme hehehehehehe.

Tapi sekarang beberapa sosmed itu punya fungsi yang mirip-mirip. Instagram punya story, banyak yang mengikuti seperti Whatsapp, Facebook, bahkan Youtube. Facebook punya fitur online, Whatsapp juga, Instagram ikut-ikutan dan penulis harap jangan sampai Twitter juga huhuhu gua persembunyianku. Facebook punya timeline, semuanya juga punya bahkan aplikasi chatting seperti LINE. Ask.fm sudah kehilangan perannya digantikan fitur question Instagram. Setidaknya setiap sosmed memiliki 1 ciri khas yang unik meskipun punya beberapa fitur yang mirip dengan sosmed lain.

Ya begitulah sekian postingan hari ini. Terima kasih sudah membaca!

About Me

PeketoWritan

Peketo hanyalah nama julukan yang diberikan teman-teman penulis sejak kecil dan akhirnya ia gunakan sebagai nama pena. Kelahiran Malang dan tidak betah panas. Sangat menyukai lemon dan warna kuning. Suka menggambar, membaca novel dan buku pengetahuan umum, serta menulis cerita. Rutinitasnya membaca Webtoon tiap jam sepuluh malam.




Recent Posts

recentposts

Random Posts

randomposts