Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Sunday, January 27, 2019

Resensi Buku: Paradigma

January 27, 2019
Judul buku: Paradigma
Penulis: Syahid Muhammad
Penerbit: Gradien Mediatama
Cetakan Pertama, September 2018
316 Halaman; 13 cm x 19 cm

Blurb

Kita adalah benang-benang pesan yang kusut tafsiran.
Sekali terurai, malaikat dan setan ikut terselubung.
Menjadi pengacau antara akal dan kelakar.
Di antara kuasa-Nya, kita hanya percikan kekacauan,
memohon peran untuk perang,
yang berdoa dalam dosa.

---

Sejak buku ini terbit, saya sangat tidak sabar untuk segera membelinya. Sayangnya, saya waktu itu belum punya uang jadi Paradigma hanya tersimpan dalam wishlist saja. Akhirnya saat ada pameran buku, saya memutuskan untuk membeli buku ini dengan uang tabungan saya. Saya berekspektasi cukup tinggi apalagi setelah membaca Egosentris, karena saya membuat penilaian yang cukup tinggi untuk novel tersebut.

Paradigma adalah novel yang berdiri sendiri, bukan sekuel dari Egosentris. Namun Syahid Muhammad menghadirkan 'bintang tamu' dari novel tersebut. Seperti Ilana Tan menghadirkan kembali tokoh-tokohnya di Summer in Seoul, Winter in Tokyo, Autumn in Paris, dan Spring in London. Ayo coba tebak siapa yang muncul? (ᇴ‿ฺᇴ)

Rana, seorang mahasiswa yang memiliki hobi melukis, adalah tokoh utama cerita ini. Dia memiliki pemikiran yang dalam dan rasional namun sikapnya yang cenderung lembut sebagai seorang pria membuatnya ia sering dikira gay. Padahal Rana sendiri telah memiliki pacar, Ola, namun orang-orang melihat hubungan mereka tidak begitu baik sehingga dugaan tersebut semakin kuat.

Walaupun telah memiliki pacar, Rana memiliki teman dekat─yang sebenarnya cenderung terlalu dekat─bernama Anya. Anya suka menulis puisi. Mereka sering bertemu untuk saling menceritakan makna dari lukisan atau puisi yang mereka buat. Hal ini membuat Ola semakin cemburu karena Rana tak pernah membahas hal-hal seperti itu dengannya. Anya sendiri diam-diam memendam perasaan pada Rana, walaupun ia tahu ia tidak boleh berharap lebih karena saat ini Rana terikat status dengan Ola.

Selain Anya, Rana juga memiliki satu-satunya sahabat lelaki bernama Aldo. Tidak banyak teman pria yang tahan dengan sikap dan pemikiran Rana. Rana selalu membalas curhat dan keluhan Aldo terkait pacarnya, Karina, dengan kata-kata yang pedas namun masuk akal. Rana menilai Aldo terlalu merelakan dirinya untuk diperbudak oleh Karina tidak peduli meskipun kekasihnya itu banyak mengeluhnya. Akibat kedekatan Aldo dan Rana ini, orang sering salah menafsirkan bahwa mereka sebenarnya lebih dari sekedar sahabat, apalagi jika melihat perlakukan Rana terhadap Ola.

Ola sendiri semakin lama semakin tidak tahan atas sikap Rana. Berkali-kali ia menuntut Rana agar menjadi pacar seperti yang dia inginkan. Baginya, Rana terlalu pendiam dan cuek sehingga kadang-kadang sikapnya tidak mudah dimengerti. Pun banyak tekanan yang mendorong tumbuhnya pikiran bahwa ia hanya bertepuk sebelah tangan dengan Rana. Isu pacarnya itu adalah gay, kedekatannya dengan Anya yang melebihi kedekatan dirinya dengan Rana, Rana yang selalu menolak jika ia ingin bertemu dengan orang tuanya, serta dukungan dari teman-temannya yang menganggap Rana itu aneh, membuat hubungannya dengan Rana semakin renggang.

Suatu ketika, Anya mengajak Rana untuk bertemu dengan sahabat lamanya, Felma, yang berkuliah di UGM (Rana dkk berkuliah di Bandung). Dan pertemuan itu adalah awal yang mengubah segalanya.

Pasti pada mikir ceritanya bakal agak-agak menjerumus ke LGBT gitu, kan? Saya juga awalnya mikir gitu tapi ternyata TIDAK SEMUDAH ITU FERGUSO :)

Sebenarnya dilihat-lihat, cara berpikir Rana ini mengingatkan saya pada sosok Fatih. Bedanya Fatih cenderung lebih ekstrem (meskipun pada dasarnya sih sama saja). Dan Rana memiliki sikap yang lembut yang membuatnya lebih banyak dikelilingi oleh teman-teman perempuan dibanding laki-laki.

Yang saya suka dari Paradigma pertama adalah desain sampulnya. Cover yang masih hitam pekat dengan detail lingkaran di tengah berupa ombak dan bulan sabit kecil yang diposisikan terbalik. Awalnya saya tidak cukup detail memperhatikan sampai saya menyadari ada ilustrasi manusia kecil yang karena ombaknya dipasang jungkir balik, ia terjatuh menuju bulan. Penuh arti dan penuh teori. Tapi karena saya orangnya males mikir yang ribet-ribet, saya sekadar menikmatinya saja tanpa ambil pusing.

Kedua, karena jalan ceritanya lebih jelas dari Egosentris. Paradigma benar-benar berfokus pada Rana, sedangkan di Egosentris ceritanya terbagi menjadi tiga, walaupun kebanyakan masih berpusat di Fatih. Semua tokoh di Paradigma memiliki masalah masing-masing, namun pada akhirnya yang jadi masalah utama adalah milik Rana. Dan yah sama si itu sih soalnya berkaitan, kan wkwkwk.

Ketiga, tidak tanggung-tanggung, Syahid Muhammad membahas tiga penyakit mental di novel ini. Sayangnya kalau saya tulis di sini, nanti bakal langsung ketahuan dong jalan ceritanya bagaimana. Jadi mending kalian baca aja langsung daripada penasaran. Yang jelas, gara-gara satu dari tiga penyakit mental ini, novel yang harusnya bergenre romance ini tiba-tiba berputar 180 derajat menjadi novel misteri semi horor. (ʘ言ʘ╬)

Keempat, banyakkkkkk banget kalimat-kalimat yang menurut saya related af sama kehidupan zaman sekarang. Khas novel Syahid Muhammad bangetlah. Kayak semuanya bisa dijadiin quote gitu. Mana saya kalo baca novel terus nemu kutipan yang bagus gitu, suka saya garis bawahi jadi Paradigma ini penuh dengan coretan pensil saya. 。。゛(ノ><)ノ Berikut salah satu dari ratusan kalimat/dialog yang menjadi favorit saya.
"Kelakuan orang-orang yang takut kehilangan cuma bikin mereka benar-benar kehilangan," katanya singkat yang membuatku justru tertegun.

"Apa yang salah dengan perasaan takut kehilangan? Menurutku itu normal. Rasa sayang dan takut kehilangan itu satu kesatuan."

"Defensif basi," tukasnya dingin. "Buatku, satu-satunya yang bisa kulakukan kalau takut kehilangan seseorang, adalah dengan berusaha menjadi pantas untuk tidak ditinggalkan."
Emang mantep banget si Rana ini pemirsa. Saya juga kagum sambil geleng-geleng kepala. Ada lagi nih. Rasanya nggak cukup kalau dari sekian banyaknya yang saya cantumin cuma satu.

Di mata Pak Sobar, macam-macam penyakit jiwa hanyalah teori-teori lain dari kelalaian manusia yang terlalu lama meninggalkan Tuhannya.
Saya masih nggak yakin teori ini benar apa salah. Yang jelas, nge-judge mereka yang punya penyakit mental dengan kalimat-kalimat "coba dilihat ngajinya", "coba tengok sholatnya", "dia mah emang jarang ibadah, makanya hatinya nggak tenang" adalah suatu hal yang KELIRU BESAR. Emang tekanan hidup sekarang yang makin besar, dan mungkin juga memang mentalnya yang lemah, bukan semata-mata seberapa banyak pahala yang sudah dikumpulkan.

Cuma yang saya bingung ternyata ada satu tokoh yang saya rasa nggak muncul sampai akhir. Nasib si Karina itu bagaimana, ya? Apakah cukup begitu saja? Memperbudak Aldo? Atau masih ada kelanjutannya?

Oiya, berhubung di setiap bab-bab novelnya Syahid Muhammad selalu menyisipkan puisi-puisi pendek, tentu saja tidak afdhol rasanya kalau saya tidak mencantumkan puisi favorit saya.
Tak ada yang punya kuasa memilih
Untuk menjadi yang terpilih
Tuhan dan ajudannya
Dan setan dan malaikatnya
Membercandai manusia
Untuk bersaksi atas apapun
Yang tidak diinginkan
Kalau saya pribadi sih, saya masih prefer Egosentris hehe soalnya saya kurang sreg sama ending-nya Paradigma. Tapi secara keseluruhan, kalau kalian menikmati Egosentris, nggak bakal nyesel kalau beli Paradigma juga. Saya jamin, deh.

Sepertinya setelah ini saya harus menabung untuk membeli Kala dan Amor Fati. ╮(╯_╰)╭ Atau ada yang mau beliin? Hehehehehe.

Friday, January 25, 2019

Resensi Buku: Dan Hujan Pun Berhenti...

January 25, 2019
Judul buku: Dan Hujan Pun Berhenti...
Penulis: Farida Susanty
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan Keempat, Agustus 2017
322 halaman; 13 x 19 cm

Blurb

"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya, asal tidak hujan."

Kamu mungkin tidak akan mengerti Leo yang tidak percaya pada siapa pun di dunia ini.
Tapi mungkin Spiza, gadis yang mencoba bunuh diri di sekolahnya, bisa.

-----------------------

Novel ini memang novel lama, yang hitsnya di tahun 2000-an. Saya sudah familiar dengan novel ini sejak masih SMA. Entah kenapa tiap saya masuk perpustakaan sekolah dan mampir di rak-rak novel, novel ini selalu memancing perhatian saya namun saya urung membacanya. Saya dulu emang males sih baca novel pinjeman perpus, lebih suka beli sendiri (iya boros banget). Terus novel ini direkomendasiin dong sama sumber racun saya yang terpercaya tidak lain dan tidak bukan si @saturnesss. Katanya baca novel ini sama Forever Monday rasanya bikin pengen ngelempar, ngebanting, segala macem emosi campur aduk.

Dan kenyataannya, itulah yang benar-benar terjadi ketika saya membaca novel ini.

Bercerita tentang Leostrada atau yang lebih sering dipanggil Leo (nama lengkapnya asli panjang banget saya nggak hafal), laki-laki SMA yang memiliki masa lalu yang kelam. Membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang suka memberontak dan tidak penurut. Image preman sekolah sudah melekat padanya. Leo membentuk 'gang' bersama orang-orang yang ia manfaatkan dengan titel 'teman'. Karena pada kenyataannya, meskipun mereka begitu loyal pada Leo, ia sama sekali tidak menganggap pertemanan mereka hal yang berarti. Baginya, ikatan kebaikan dengan orang lain itu tidak ada.

Keluarga Leo adalah keluarga yang kaya raya namun tidak bahagia. Satu-satunya kebahagiaan yang Leo temukan selama ia hidup adalah Iris. Namun satu-satunya kebahagiaan itu telah meninggal dalam sebuah kecelakaan─sebuah kematian yang tak bisa direlakan Leo dan ibu Iris. Ia begitu terpukul dan dengan kondisi keluarganya yang kacau, ia memutuskan untuk kabur dari rumah.

Pertemuannya dengan Spizaetus Caerina membawa perubahan yang besar dalam diri Leo. Gadis itu, Spiza, bertemu dengannya di bawah pohon saat ia menggantungkan teru teru bozu (boneka penangkal hujan). Saat Leo menanyakan alasan mengapa Spiza menggantung boneka tersebut, ia bilang bahwa ia akan bunuh diri, asalkan tidak hujan. (Ini misterius abis dan langsung bikin penasaran).

Baca juga "10 Lagu untuk Didengar Saat Depresi dan Memberimu Kekuatan"

Selanjutnya pada hari yang tidak cerah, sesuai rencana, Spiza bunuh diri di kamar mandi sekolah dengan menyilet tangannya, kemudian menyalakan kran air dan menimbulkan genangan di kamar mandi. Leo memergokinya dan tidak berusaha menyelamatkannya namun pada akhirnya Spiza gagal mati hari itu. Sejak pertemuan tersebut, mereka digiring pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuat mereka lebih dekat.

Selanjutnya adalah kejutan-kejutan yang jika saya tulis di sini, saya sama seperti membuka kotak pandora yang artinya kejutan-kejutan lainnya akan terbongkar juga. Jadi saya tulis segini aja sinopsisnya.

Saya mau bilang yang paling nggak saya sukai dari novel ini adalah LEOSTRADA DAN CAPSLOCK. Jadi ngegas, kan.

Tapi serius. Novel ini 50% (atau lebih ya?) isinya huruf balok semua. Nggak tau ya apa ini emang style novel jaman dulu, soalnya kalau jaman sekarang pasti udah dikritik abis-abisan sama Ivan Lannin dan para editor penerbit. Ini bikin saya ngegas dari awal sampe akhir. Cek deh review orang-orang yang udah baca novel ini, pasti kasih komentar yang pertama adalah capslock abuser. Saya juga sebenarnya cukup heran bagaimana novel ini bisa menang Khatulistiwa Literary Award 2007. Dan ternyata si huruf balok ini turut andil dalam menaikkan emosi pembaca. Nggak cuma kata-kata kasar yang disuguhkan, tapi juga harus ditulis menggunakan capslock agar bacanya lebih penuh penghayatan. Yah, kayak umpatan netizen twitterlah (ups).

Terus kenapa saya nggak suka Leo? Soalnya LEO ITU MENDING MATI AJA UDAH JADI MANUSIA NGESELIN BANGET YA ALLAH PENGEN NABOKIN JEDUKIN PALANYA KE TEMBOK SUMPAH YA :((((((( ada gitu manusia yang sifatnya meledak-ledak kayak Leo. Spiza dan Iris yang ada di samping dia tahan banget saya akui mereka adalah dua tokoh tersabar dalam cerita ini. Dan saya menemukan bahwa untuk menangani bocah yang sifatnya kayak Leo ini, kuncinya satu: SABAR DAN TELATEN!

Ini postingan banyak banget huruf baloknya, ya hahahahaha masih kebawa efek dari novelnya nih. (ï½° ï½°;)

Baca juga "Me Over The Social Media"

Tapi novel ini emang punya sesuatu yang lain yang membuatnya layak menang (kalo menurut saya sih) penghargaan tadi. Karena bener-bener mampu membawa emosi pembaca. Dan saya pernah denger kalau novel ini mau dibuat filmnya tapi saya harap itu nggak terjadi. Saya bener-bener nggak rela kalau novel ini difilmin. Soalnya saya udah sering dikecewain film yang diangkat dari novel gitu, kalau aktor Indonesia yang main, saya masih ngerasa kurang percaya hasilnya bakal bagus. Masalahnya menurut saya aktor Indonesia yang mainnya bagus itu cuma sedikit :") dan saya nggak mau nanti kalau ceritanya harus berubah gara-gara dipotong atau hal lainnya. Biarlah novel ini murni seperti ini.

Kalau saya harus deskripsikan novel ini dengan satu kata, kata yang saya gunakan adalah ANJIR.

Hampir dari awal sampai akhir novel saya terus ngulang kata itu. Padahal saya paling nggak suka make kata itu. Karena cerita sebenarnya emang nggak sesederhana Spiza ingin bunuh diri. Mana saya pake nangis segala lagi pas ada yang mati #ups.

Yaa intinya novel ini bercerita tentang mental illness. Tema yang cukup jarang dibahas di pertengahan 2000-an dan masih related sama jaman sekarang. Kalau kalian tipe yang nggak kuat liat tulisan yang acak-acakan, saya sarankan jangan baca novel ini. Tapi kalau kalian penasaran rasanya baca buku yang sampe pengen ngelempar, nyobek, banting dan segala macem, bolehlah buku ini jadi referensi. Saya juga belajar banyak dari novel ini cara menaikkan emosi pembaca haha. Sekian dan selamat berakhir pekan!

Sunday, July 31, 2016

Diari Anak IC Tahun Pertama | Bab 1 | Sekolah Lanjutan

July 31, 2016

Mari kita mulai dari sini. Saat aku kelas 3 SMP. Kelas sembilan.
          Aku hanya ingin menyampaikan berita buruk bahwa, pada waktu itu, pemerintah mengeluarkan maklumat untuk memberhentikan kelas berstatus RMBI atau RSBI di seluruh Indonesia.
            Aku bersekolah di madrasah tsanawiyah. Sebuah madrasah yang terletak di bagian selatan kabupaten dan dikelilingi oleh sawah yang hijau. Tempat di mana angkutan umum hanya berseliweran dari pagi hingga petang. Sebuah madrasah yang begitu asri dan sejuk.
            Dan aku berhasil masuk kelas RMBI. Sebuah kelas berstandar Internasional dengan fasilitas yang lebih komplet ketimbang kelas lain. WiFi, kursi lipat ala anak kuliahan (yang awalnya terlihat elit, namun akhirnya terkesan sempit karena hanya mampu menampung barang sedikit), izin khusus untuk menggunakan laptop dalam pembelajaran, proyektor, dan karpet. Fasilitas mewah di sekolah yang mepet sawah.
            Aku bersama kedua puluh empat orang temanku, adalah murid-murid RMBI angkatan pertama di madrasahku.
            Dan tahu-tahu pemerintah mengeluarkan maklumat itu. Bahkan saat kami belum tuntas menyelesaikan 3 tahun sekolah dan menyandang gelar elit ‘lulusan RMBI’. Bahkan saat status kelas kami masih rintisan.
            Tidak apa-apa, ya? Aku hanya curhat.
*
            Sejak kelas delapan, orang-orang di sekelilingku sudah ribut soal ‘sekolah lanjutan’. Senior high school.
            Aku sendiri tidak ribet memikirkannya, toh masih kelas delapan. Orang-orang ini memang visioner sekali.
            Dan saat kelas sembilan tiba, banyak orang mulai menghasutku.
            Banyak sekolah yang direkomendasikan kepadaku. MAN Gondanglegi (yang berarti akan menambah sejarah hidupku di Gondanglegi), MAN 3 Malang (sebenarnya aku tertarik mendaftar ke sana, namun aku tidak tahu kenapa aku tidak kunjung mendaftar hingga pendaftarannya ditutup), MAN Malang I (banyak kolega ayahku, dan sebagian besar alumni sekolahku memang meneruskan sekolah ke sana), MA Almaarif Singosari (kolega ayahku makin banyak saja, ayahku seorang pengajar di sini. Sekolahnya memang dekat dengan rumah, namun ayah dan ibuku menyuruhku mondok di NH untuk menghafal Al-Qur’an. Dua kombinasi yang membuatku agak ngeri), dan MA Amanatul Ummah (aku menyukai lingkungannya yang begitu asri dan tenang, namun itu juga membuatku tidak ingin melanjutkan sekolah ke sana karena tempatnya yang terlalu pelosok. Tidak ada transportasi. Aku bisa gila kalau tidak punya akses untuk melarikan diri). Semua saran itu seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
            Para provokator juga singgah di sekolahku. Membujuk murid kelas sembilan agar tertarik masuk ke sekolah yang mereka promosikan. Aku senang mereka datang. Mereka membawa suvenir gratis yang sangat bermanfaat. Brosur untuk kipas setelah dibaca baik-baik, bulpen berlogo cuma-cuma, dan notes kecil tempatku berkreasi.
            Bukannya aku tidak menetapkan tujuan sama sekali. Saat itu aku ingat aku ingin masuk Grafika. Tapi orang tuaku tidak menganjurkannya karena mereka ingin aku bersekolah di SMA─bukannya SMK. Mereka ingin anak keduanya ini masuk universitas dan jadi dokter.
            Akhirnya, salah satu hasutan nampaknya tersendat ke otakku.
            “Kamu mau masuk IC?” tanya guru BK-ku, saat istirahat sekolah.
            Apa itu nama sekolah? Terdengar asing. “IC apa Bu?”
            “Insan Cendekia. Sekolah yang didirikan sama Pak Habibie. Sekolahnya jauh di Jakarta sana. Tapi beasiswa penuh.”
            Mataku berbinar-binar mendengar kata ‘beasiswa penuh’.
            “Peminatnya sangat banyak. Persaingannya ketat.”
            Sudah kuduga.
            “Alumni sini ada yang sekolah di sana, Bu?” aku berharap jika memang ada, maka aku bisa banyak mencuri informasi darinya. Tentang persiapan tesnya hingga kegiatan belajarnya.
            Guruku menggeleng. O-ow.
            “Dulu pernah ada kakak kelasmu yang sudah mendaftar ke sana. Sudah lolos seleksi berkas, tapi gagal saat tes tulis.”
            Aku jadi penasaran. “Kakak kelas saya? Siapa, Bu?”
            “Cantik Multitalenta, yang sering menjuarai banyak perlombaan itu.”
            Aku tercekik.
            Weleh, Mbak Cantik Multitalenta ae ora iso lolos! Cek susahe. Sekolah macem opo IC iki?
            Dan sama seperti judul novel kedua dari trilogi The Hunger Games, aku tersulut. Catching fire.
*
            Setelah kupikir-pikir, membayangkan bersekolah di Jakarta seorang diri tanpa teman maupun kakak kelas rasanya agak horor.
            Jadilah aku mengajak beberapa temanku. Kumulai dari teman sekelasku. Beberapa tampak enggan, mengingat lokasi IC yang begitu jauhnya. Tak masalah. Hidup adalah pilihan. Jika mereka tidak siap, aku bisa beralih.
            Karena mengingat persaingan IC yang begitu sulitnya, aku mendekati teman-temanku yang berotak superior. Siswa peringkat satu dari kelas yang berbeda.
            Singkatnya, aku berhasil menggaet Pemuda Organisasi dari kelas B dan Idaman Guru dari kelas D. Aku sendiri berasal dari kelas C. Salah seorang teman sekelasku berubah pikiran. Akhirnya kami mantap berempat dengan teman sekelasku Gadis Mancung.
            Kami mengurus berkas-berkas yang diperlukan. Guru BK ikut membantu. Ranking paralel. Sertifikat lomba. Sertifikat pondok. Surat keterangan berkelakuan baik. Semua berkas beres dan kami mengunggahnya di web pendaftaran. Tinggal menunggu pengumuman.
*
            Sambil menunggu kepastian dari IC, aku juga mendaftar di sekolah lain.
            Aku beramai-ramai berangkat ke lokasi tes dengan teman-temanku. Bejibun. Kabarnya, sekolah yang kutuju ini memang hobi disantroni alumni sekolahku. Sama artinya dengan ‘pindah sekolah’.
            Saat itu aku mengikuti tes gelombang satu. Tes diadakan di siang hari. Aku sudah tidur di kendaraan tadi agar tidak mengantuk. Ujian di siang hari sangat rawan bagiku, karena aku punya kebiasaan mengantuk tak tertahankan di jam-jam itu.
            Nyatanya, aku tetap mengerjakan soal dengan kepala pening. Entah apa yang membuat kepalaku pening. Apa karena aku kurang minum? Atau karena hanya makan siang dengan roti yang disediakan panitia? Atau karena aku mati-matian menahan kantuk?
            Yang jelas, aku hanya berpasrah diri atas hasil tes yang kujalani dengan mumet di kepala.
*
            Kami berempat lolos seleksi berkas! Alhamdulillah!
            Di pengumuman itu tertulis bahwa kami akan melaksanakan tes tulis di sebuah sekolah di Sidoarjo. Aku mendelik melihat kartu peserta yang terpampang di web pendaftaran itu. Selain data diri, kartu peserta itu juga memuat jadwal tes sekaligus materi apa saja yang akan diujikan. Materi itu bukan main banyaknya. Tes Potensi Belajar? Kalau aku tidak salah, mungkin maksudnya adalah tes IQ. Selain itu masih ada ujian matematika, bahasa Inggris, fisika, biologi, bahasa Arab, dan PAI. Tes ini dilaksanakan selama satu hari penuh dari pagi hingga jam lima sore.
            IC memang tanpa ampun! Ini luar biasa! Aku merasa semakin ditantang.
            Inilah yang paling mendebarkan. Ini baru saja dimulai.
*
            Sudah kuceritakan sebelumnya tentang tes masuk yang kujalani dengan kepala pening itu?
            Ternyata aku lolos, Kawan.
            Ketika aku melihat pengumumannya, aku membuka mataku lebar-lebar. Daftar nama-nama siswa yang diterima diurutkan berdasarkan hasil tes masuk.
            Dan perempuan yang mengerjakan soal sambil menahan kantuk ini menempatkan namanya di peringkat tiga. Aku shock.
            Sesuai tradisi, nama-nama anak sekolahku juga berderet di sana. Aku hanya bisa tertawa, toh tujuan utamaku tetap menuju IC. Perkara aku akan mengikuti daftar ulang di sekolah ini, itu nanti.
*
            Rasanya setelah Ujian Nasional selesai, aku makin frustasi jika disuruh belajar.
            Kerjaanku jika datang ke sekolah hanya main. Utek-utek laptop. Foto-foto dan membuat video gila dengan teman sekelasku. Menghabiskan uang untuk jajan atau jalan-jalan. Atau mendengarkan provokator yang masih open regist. Kebanyakan dari sekolah swasta.
            Suatu hari, salah seorang dari kami berempat─aku lupa siapa─mengusulkan untuk belajar bersama di perpustakaan. Aku malas sekali, tapi niat baik tidak boleh ditolak. Walau sedikit aku juga harus berikhtiar. Kalau aku terlalu leha-leha bisa-bisa IC tidak mau menerimaku. Berbekal LKS IPA dan bahasa Arab yang sudah usang, aku melangkah menuju perpustakaan dengan Gadis Mancung.
            Diantara meja kayu yang bersekat di bagian atasnya, aku duduk berhadapan dengan Pemuda Organisasi, berdampingan dengan Gadis Mancung, dan berserongan dengan Idaman Guru. Kami membolak-balik buku yang kami bawa, bertanya hal-hal yang tidak kami mengerti, walau sebenarnya itu hanyalah bentuk formalitas agar kegiatan itu terkesan serius dan kelihatan seperti benar-benar belajar. Sisanya kami habiskan dengan mengobrol dan berkeluh kesah.
            “Soalnya ntar kayak gimana, ya ... Nggak kebayang.” Idaman Guru bertopang dagu.
            “Aaaaah, aku pusing. Banyak banget materi yang musti dipelajari.” Aku mengomel dan menyandarkan kepalaku di meja sehingga ketiga temanku tidak bisa melihatku.
            “Hihihi, udah. Ayo semangat, dong.” Cara Gadis Mancung menyemangatiku bahkan tidak mampu membangkitkan semangatku.
            Pemuda Organisasi melirik jam tangannya. “Ah! Aku diajak makan-makan sama temen kelasku di kantin. Sori, ya, aku pergi duluan.” Pemuda Organisasi memasukkan barang-barangnya ke tas sementara kami sibuk mencibirnya kita-juga-mau-lho-ditraktir. Tangan kami melambai lelah seiring kepergiannya.
            Kegiatan belajar bersama itu hanya terjadi satu kali dan hanya berlangsung tidak lebih dari lima belas menit.
*
Hari pelaksanaan tes tulis.
            Rasanya aku hampir gila.
            Aku tiba di Surabaya tiga hari sebelum tes. Aku tidak membawa buku pelajaran macam-macam karena aku sudah malas belajar. Di tasku hanya ada dua buku: sebuah novel dan buku psikotes. Aku menginap di rumah nenekku bersama dengan Pemuda Organisasi.
            Saat Pemuda Organisasi tengah sibuk belajar di depan televisi─dia bilang dia butuh suasana ramai untuk belajar─aku asyik menonton Paranormal Activity 4 dari laptopku di ruang tamu. Tamat menonton film horor bergaya dokumentasi itu, aku melanjutkan menonton film Posession yang tak kalah horornya. Aku menonton dua film horor itu seorang diri! Betapa ngerinya. Dan setiap selesai menonton film horor, aku akan mengalami masa traumatis, di mana aku menjelma menjadi tokoh utama film dan merasa seolah hantu dalam film itu telah keluar dari layar dan menguntitku.
            Di malam hari sebelum tes, aku dan Pemuda Organisasi tidak bisa menahan godaan untuk membeli produk-produk jajanan yang baru dan terlalu sering diiklankan di televisi. Kami sudah kepalang ngiler. Dengan meminjam motor matic tanteku, kami menuju supermarket untuk membeli makanan, minuman, dan es krim. Kami memakannya di sebuah taman di perumahan besar yang terletak tak jauh dari rumah nenekku. Ah, betapa kenyangnya.
            Dan malam itu aku hanya belajar buku psikotes sesaat sebelum tidur.
            Sekarang aku dan Pemuda Organisasi dalam perjalanan ke lokasi tes. Kami dibonceng kakek dan pamanku.
            Aku ngeri melihat kerumunan siswa yang terlihat intelek itu. Mereka membuka buku macam-macam. Ada yang komat-kamit mengulang hafalan. Ada yang komat-kamit berdoa. Mulutku terkatup.
            Setelah bertemu dengan Gadis Mancung dan Idaman Guru, kami berempat meninjau lokasi tes sebelum tes dimulai. Kami mencari ruang tes kami masing-masing. Ruangan itu diurutkan berdasarkan abjad. Ruanganku berdekatan dengan Idaman Guru, namun berjauhan dengan Pemuda Organisasi dan Gadis Mancung. Kami berdoa bersama sebelum akhirnya berpisah dan membuat kesepakatan untuk bertemu di musholla sekolah itu.
            Aku memasuki ruang kelasku dan duduk di kursiku. Nomor dua dari belakang. Aku mengamati sekitarku. Orang-orang ambisius dan intelek mengitariku. Aku benar-benar grogi. Kukeluarkan seluruh peralatan perang yang kubutuhkan, tak boleh ada yang lewat.
            Oke, tenang. Semua peralatanku lengkap, tidak ada yang kurang.
            “Mbak, bisa pinjem orotan?”
            Seorang gadis berkerudung putih menoleh padaku dengan tampang cemas abis. Aku buru-buru menyerahkan rautan pensil yang ia minta. Aku akan berdosa jika tidak meminjaminya dan malah berkata, “Salah sendiri nggak bawa!”. Dosa sekecil apapun bisa menyulitkanku mengerjakan soal nanti.
            Begitu gadis itu mengembalikan rautanku, seorang wanita paruh baya berkacamata masuk ke ruanganku dengan membawa map-map berwarna cokelat yang tebal. Tes akan segera dimulai. Wanita itu membagikan lembar jawaban yang harus diisi dengan pensil. Oke, hanya mengisi data diri, bukan masalah besar.
            Begitu soal Tes Potensi Belajar kuterima, aku mengusapnya pelan sambil membaca doa. Kuambil pensilku dan mulai kubaca soal itu.
*
            “Soalnya susah sekali, ya.”
            Aku agak terkejut mendengar keluhan Pemuda Organisasi. “Iyo ta?”
            Kami sedang menunggu di depan ruang tes Idaman Guru. Jam menunjukkan pukul sembilan, belum waktunya menuju musholla. Gadis Mancung yang letak ruangannya paling jauh ditunggu oleh keluarganya.
            “Mana nggak kuisi semua lagi.” Pemuda Organisasi mendesah.
            “Lah! Kok nggak diisi semua?” Masa iya dia merasa susah lantas memutuskan untuk tidak mengisinya?
            “Bukan itu, maksudku ... ada yang kukosongin. Ada kali 15 nomor. Habis, nggak tau mau jawab apa.”
            “Harusnya isi aja semuanya. Kayaknya nggak ada nilai minus kok kalau buat tes potensi belajar.” Aku mulai sotoy. Tapi menurutku begitu. Pemuda Organisasi bilang soalnya susah, sedangkan aku merasa soalnya mudah─cenderung menyenangkan. Aku mengerjakannya dengan sangat fokus saking senangnya. Bahkan aku tidak mengantuk sama sekali. Dan semua soal juga kuisi. Beberapa memang ngawur, sih. Yah, itu salah satu keuntungan soal pilihan ganda, kan?
            Tapi, tunggu dulu. Kenapa aku merasa mudah dan Pemuda Organisasi merasa susah, ya? Apa aku yang salah? Apa aku kurang berpikir? Ah, masa, sih.
            Tiba-tiba aku jadi parno.
            “Hei, gimana kalian?” Idaman Guru akhirnya keluar.
            “Susah banget, ya, soalnya?” tanya Pemuda Organisasi mencari dukungan.
            “Iya, lumayan.” Idaman Guru sepertinya mengalami kurang lebih hal yang sama dengan Pemuda Organisasi.
            Air yang kuminum tersendat di tenggorokanku. Mampuslah aku.
            Jangan-jangan aku yang anomali?
*
            Kami berempat sedang berkumpul di musholla sekolah. Setelah berhasil melalui tes matematika, bahasa Inggris, dan berlarian di hujan yang mengguyur jalan kami menuju musholla, kami akhirnya tiba di tempat ini. Musholla ini terletak di lantai dua dan tidak bersambungan dengan gedung lainnya. Sehingga kami musti menggunakan tangga kayu khusus, jalan satu-satunya menuju musholla. Tangga kayu itu jadi lintasan yang sulit karena terasa licin saat bergesekan dengan sepatu kami. Berpegangan pada pagarnya pun terasa sia-sia karena pagarnya basah. Kami mengendap-endap di tangga itu seperti pencuri.
            “Ada yang bawa nasi?” tanyaku sebelum mereka bertiga membahas soal. Aku lapar dan mendengar mereka membahas soal bisa membuatku mati kelaparan.
            Pemuda Organisasi yang berangkat denganku jelas tidak bawa nasi. Idaman Guru dan Gadis Mancung hanya menggeleng. Aku mengeluarkan biskuit lapis coklat yang kubeli bersama Pemuda Organisasi kemarin malam. Aku menawarkannya pada mereka, karena sepertinya sulit jika harus mencari nasi di hari yang hujan begini.
            “Tesnya susah banget, yaaa.” Pemuda Organisasi mengeluh lagi. Dia satu-satunya laki-laki diantara kami berempat dan hari ini dia yang paling banyak mengeluh. Idaman Guru manggut-manggut. Gadis Mancung hanya bisa tertawa. Aku melahap biskuitku dengan ganas.
            Aku merasakan hal yang sama dengan Pemuda Organisasi. Soal pelajaran ini lebih memusingkan ketimbang tes IQ. Aku tidak mengerti apa-apa saat mengerjakan soal bahasa Inggris tadi. Teksnya penuh kosakata baru bagiku, membuatku bertanya-tanya dan akhirnya menerjemahkannya dengan kamusku sendiri. Lebih-lebih matematika, diantara 30 soal yang disodorkan, 10 diantaranya kukerjakan sambil berpikir, sisanya hanya memburamkan bulatan di lembar jawaban tanpa ambil pusing. Agar lembar jawabanku terlihat penuh dan membuatku percaya diri. Aku tidak yakin soal-soal yang kukerjakan sambil berpikir itu akan benar semua.
            “Udah, sekarang tawakkal aja. Berdoa.” Kataku sesantai mungkin.
            “Iya. Yuk, kita sholat dhuhur.” Ajak Idaman Guru. Benar-benar murid yang sholehah.
            Aku hanya bisa memandang mereka bertiga sholat dengan khusyuk. Pemuda Organisasi berdiri di depan sebagai imam, memimpin dua gadis di belakangnya. Aku hanya bisa duduk di belakang mereka, bukan karena kakiku sakit atau apa. Aku benar-benar merasa durhaka. Mereka bertiga bisa memaksimalkan panjatan doa kepada Allah, sedangkan aku tidak begitu. Aku merasa tersisihkan saat itu. Jangan-jangan mereka bertiga yang akan berangkat ke sana.
            Sekali lagi, aku anomali.
*
            Waktu sholat ashar.
            Hujan telah menyingkir, tapi pijakan tanah di kaki kami masih terasa basah dan lunyu. Kami duduk melingkar di musholla. Kali ini aku gagal mencegah mereka berkeluh kesah. Hampir semua soal fisika dan biologi mereka review. Aku mendengar celotehan mereka bagai sungai tak berujung, mengalir deras.
            “Nomor 14 soal biologi, jawabannya A, kan?”
            Aku tercekik. “Jawabannya A?”
            “Emang kamu jawab apa?” tanya Gadis Mancung.
            “D.” Jawabku tanpa merasa bersalah. Aku sangat yakin dengan jawabanku di nomor 14 itu. Aku sempat menggunakan otakku.
            “Tapi aku jawabannya juga A, sih.” ucap Idaman Guru. Gadis Mancung juga ikut-ikutan mengiyakan. Kami memastikan kebenarannya dengan melihat di LKS biologi yang dibawa Pemuda Organisasi. Dan di sana terpampang sudah apa yang mereka inginkan.
            Ini adalah soal kelima belas yang dibahas di forum ini, sekaligus soal kesembilan yang salah untukku. Enam soal lainnya bukan berarti jawabanku benar. Status keenam soal itu adalah dipertanyakan: aku lupa apa jawabanku.
            Aku mati kutu.
            Aku yang paling anomali di sini.
*
Aku sabar menunggu pengumuman dari sekolah yang penuh tantangan itu.
            “Anakku, hari ini hari terakhir daftar ulang ke Malang I. Bagaimana?”
            Aku dengar Gadis Mancung akhirnya tetap melakukan daftar ulang ke sekolah yang mencantumkan namaku di peringkat tiga itu, tanpa menunggu terlebih dahulu pengumuman kelulusan dari IC.
            “Nanti saja, Bu.”
            “Nanti kapan?”
            Eh, iyaya. Aku nyengir, kemudian mempertimbangkan ke sana ke mari.
            Aku sangat ingin masuk IC. Sekolah Habibie itu terus-terusan menantangku! Ia terlihat sangat congkak dan berkelas, membuatku ingin menaklukannya. Aku didera rasa penasaran yang amat sangat terhadapnya. Persaingan ketat, beasiswa penuh, letaknya yang jauh dari rumah. Sayang uang daftar ulang ke Malang I yang kubayarkan jika ternyata aku diterima di sekolah ini.
            Melanjutkan sekolah di Malang I kurang menantang buatku. Guru-gurunya adalah sobat ayahku─ayahku dulunya seorang guru di sana, sebelum diangkat menjadi pengawas di Kementerian Agama. Alumni sekolahku juga menggandrungi sekolah itu, seolah bukan hal asing lagi. Mungkin kehidupan di sana akan mudah, namun aku bisa bosan.
            Jika aku tidak mendaftar ulang di Malang I dan ternyata IC pun tidak sudi menerimaku, maka pilihanku hanya tinggal satu: bersekolah di Aliyah Singosari, mondok di NH, dan diajar langsung oleh ayahku.
            Mengerikan.
            Dengan segala argumen itu, aku menjawab pertanyaan ibuku dengan mantap, “Tidak perlu, Bu.”
*
            Nenekku terus menanyaiku setiap hari, tanpa berhenti.
            “IC iku sekolah sing yoopo se, Nduk?” tanyanya saat kami sedang duduk santai di teras depan rumahnya. Kursi plastik putih yang sudah ada sejak aku bayi itu melengkung senderannya setiap kali disanggah dengan punggung. Angin panas Sidoarjo berhembus enggan tanpa memberikan kenyamanan. Aku memandang mobil ayahku yang diparkir di depan rumah, terlihat tua karena ditiup debu seharian. Pemandangan yang gersang.
            Pertanyaan ini membuat otakku ikut-ikutan gersang.
            “Sekolahnya gratis, Mik.” Jawabku pada nenek yang kupanggil Amik.
            “Lho, maksudku aku iki duduhana, rupane yoopo sekolahe iku. Ono opo ndek kono.” Amik mendesakku.
            Pertanyaan ini tidak akan mampu kujawab sebelum aku benar-benar resmi menjadi murid di sana.
            Masalahnya, aku tidak pernah mencari tahu seperti apa rupanya IC itu. Satu-satunya info yang kucari tentang IC adalah pendaftaran. Selebihnya, tidak ada. Luaskah IC, seperti apa gedung sekolahnya, apakah rindang atau sejuk, bagaimana wujud seragam yang digunakan siswanya, aku benar-benar tidak tahu.
            Alasannya, aku terlalu takut mencari tahu. Aku orang yang mudah berimajinasi. Jika aku mengetahui seragam IC, aku akan membayangkan diriku yang terbalut dalam seragam orang pintar itu. Bahkan mungkin saja aku tidak hanya menggambarnya di benakku, kugambarkan itu semua dalam kertas di buku harianku. Aku membayangkan diriku duduk di kelas dan memperhatikan guru yang sedang mengajar. Lalu saat pengumuman menyatakan aku tidak lolos, kandaslah semua bayangan itu. Hancurlah hatiku dan aku bisa galau sepanjang hari. Resikonya terlalu besar.
            Sore yang panas, di Sidoarjo kala itu, kudiamkan Amik. Maafkan cucumu, Mik.
*
19 Juni 2013. Hari pengumuman.
            Aku telah berkali-kali membuka website pendaftaran, tempat di mana seharusnya pengumuman diumumkan. Namun hasilnya tetap sama saja. Server eror. Mungkin server mendadak down karena disambangi terlalu banyak pengunjung. Salahkan dirimu, Server, kenapa kau buat kami penasaran begini.
            Antara kesal dan putus asa, seharian itu aku habiskan berbaring di kasur. Kukirim pesan pada teman-temanku─Pemuda Organisasi, Idaman Guru, dan Gadis Mancung. Aku meminta mereka untuk memberitahuku seandainya server pelit itu sudah agak murah hati.
            AAH! AKU KETIDURAN!!
            Handphoneku terus gemetar. Kasihan. Pasti ketiga temanku yang sama paniknya denganku itu sudah meneror handphoneku habis-habisan.
From: Pemuda Organisasi
Hei, pengumumannya udah ada
Aku nggak lolosL
Kamu gimana?
            APAAA???????????????
            Aku tidak bisa santai sekarang. Aku super nerveous. Maksudku, kalian pasti tidak mengenal Pemuda Organisasi. Saat wisuda kemarin, Pemuda Organisasi dinobatkan sebagai Bintang Pelajar di angkatanku lantaran prestasinya yang bejibun memenuhi pajangan piala di almari sekolah, dedikasinya yang besar untuk organisasi sekolah, dan rankingnya yang selalu di angka satu, dua, atau tiga. Dia juga mendapat nilai NEM tertinggi di sekolah.
            Alamak, kalau dia saja tidak lolos, bagaimana nasibku?
To: Pemuda Organisasi
Gadis Mancung sama Idaman Guru gimana?
From: Pemuda Organisasi
Idaman Guru juga nggak lolos... kalau Gadis Mancung aku nggak tau. Kamu belum ngecek?
To: Pemuda Organisasi
Itu.. aku ketiduran hehehehe
            Aku sudah bisa menduga bahwa Idaman Guru mungkin saja tidak lolos. Bukan karena kemampuannya, dan kalau soal itu tentu saja aku tidak bisa sembarang meremehkannya. Perkaranya adalah Nyai, pengurus di pondok pesantren tempat kami tinggal. Saat kami mohon doa restu kepada beliau untuk mengikuti tes ini, pesan yang beliau sampaikan pada kami berdua berbeda.
            “Jauh sekali mau sekolah di Jakarta. Kalau begitu, hati-hati, ya.” Ujar beliau saat aku berpamitan.
            Sedangkan pesan yang diterima Idaman Guru, “Ngapain, sih, sekolah jauh-jauh? Sekolah di Gondanglegi saja sambil melanjutkan mondok.” Jelas-jelas pesan itu memiliki makna terselubung untuk mencegah Idaman Guru pergi meninggalkan pondok kami. Idaman Guru seorang santri teladan yang patuh. Setiap guru tidak ingin melepas murid seperti Idaman Guru. Aku mengerti mengapa Nyai menahannya.
            Walau diam-diam aku juga cemburu.
            Ah, dua temanku yang begitu super tidak diterima. Aku jadi makin nervous. Rasanya aku tidak perlu membukanya.
            Namun, otak baru bangun tidurku itu bertindak spontan tanpa bisa kularang. “IBU, AYO KITA CEK SEKALI LAGI PENGUMUMANNYA! DUA TEMANKU TIDAK LOLOS!” teriakku lantang. Ibuku yang sedang menggenggam ulekan spontan melemparkannya hingga menatap tembok dapur yang malang. Ayahku tergesa-gesa menyerahkan laptop yang sedang ia gunakan untuk bekerja.
            Tapi kami semua lupa: TIDAK ADA MODEM ATAUPUN WIFI.
            “Aaah!” seruku semrawut. “Modem? WiFi? Bagaimana caranya akses internet?”
            “Kemari, biar Mas bantu pakai handphone Mas.” Kakakku datang dengan santai dan menunjukkan handphone di telapak tangannya.
            “Bagaimana caranya?”
            “Adalah. HP canggih.”
            Ah, ya. Sebenarnya aku kesal dengan sikap sengaknya. Tapi itu bukan perkara penting sekarang. Setidaknya dia mau membantuku.
            Dengan sigap, kakakku melakukan aksi yang setelah beberapa bulan kuketahui sebagai tethering. Laptop merah milik ayahku terhubung sudah dengan internet. Cepat-cepat aku membuka web pendaftaran.
            Pelan-pelan aku memasukkan data loginku. Muncul halaman beranda. Oke, masih beranda.
            Aku dan ibuku menatap laptop tanpa berkedip dari jarak 50 cm. Kakakku mengawasi di balik punggung kami. Ayahku berwudhu, berniat menuju ke langgar karena adzan maghrib akan segera berkumandang.
            Pointerku takut-takut mendekati tulisan “Halaman Seleksi” yang tampak kokoh bertengger diantara tulisan lain. Bedanya, hari ini dia terlihat sangat angkuh. Jempolku yang basah menekan mouse yang sejak tadi kugenggam.
            Dan terjadilah.
            Selamat! Anda─
            “Alhamdulillah! Alhamdulillah!” ibuku telah berseru kencang dan memeluk tubuhku yang masih terpaku. Dekapannya begitu erat. Apa yang terjadi?
            Sembari mengintip dari balik lengan ibu yang melingkari kepalaku, aku membaca tulisan itu baik-baik.
            Selamat! Anda dengan nomor tes 134222xxx LULUS sebagai calon siswa di MAN Insan Cendekia Serpong.
            OH, TERNYATA ....
            Aku balas memeluk ibuku tak kalah erat dan berteriak lebih heboh. Ibuku sudah menitikkan air mata. Kakakku mengucap hamdalah dan mengelus dada, lantas menghembuskan nafas panjang melihat tingkah ibu dan adiknya. Ayahku yang datang bertanya-tanya dan ikut legowo setelah kakakku menjelaskan.
            Tetangga yang berjalan menuju langgar menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di depan rumah kami. Heran apa yang sedang terjadi di rumah itu karena mendengar teriakan wanita yang begitu histeris.
            Ibuku benar-benar merasa lega, karena sebelumnya beliau khawatir tak karuan, cemas antara aku lolos atau tidak. Aku tidak punya cadangan sekolah lagi. Aku terlalu percaya diri menolak sekolah di Malang I dan pilihan terakhirku hanya Aliyah Singosari. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran Aliyah Singosari. Saking parnonya, ibuku sudah membeli formulir pendaftaran yang harganya sekitar lima puluh ribu rupiah, berjaga-jaga seandainya aku tidak diterima di IC. Namun sekarang, biaya yang telah beliau keluarkan untuk formulir itu seolah lunas terbayarkan dengan pengumuman yang telah membuat kami kepalang girang.
            Insan Cendekia.
            Aku akan menghadapimu.



            

About Me

PeketoWritan

Peketo hanyalah nama julukan yang diberikan teman-teman penulis sejak kecil dan akhirnya ia gunakan sebagai nama pena. Kelahiran Malang dan tidak betah panas. Sangat menyukai lemon dan warna kuning. Suka menggambar, membaca novel dan buku pengetahuan umum, serta menulis cerita. Rutinitasnya membaca Webtoon tiap jam sepuluh malam.




Recent Posts

recentposts

Random Posts

randomposts