Showing posts with label Liburan!. Show all posts
Showing posts with label Liburan!. Show all posts

Wednesday, November 16, 2016

Trip to Bandung #roadshowibunegara1 (part 1)

November 16, 2016
Halo semuaaaaaaaaaaa blogku sepertinya sudah berdebu fuh fuh dah lama gak ngisi blog, ya. Maklum penulis juga lagi sibuk-sibuknya kuliah, nih (ehem). Pengennya abis dateng dari Bandung langsung update blog eh tapi urusan perkuliahan minta didahulukan. Ya, kita harus mendahulukan yang prioritas kawan.

Oke, langsung aja. Jadi pada tanggal 10-12 November 2016 penulis berwisata ke kota Bandung.

Pertanyaan pertama yang terlintas di benak banyak orang adalah, “Kenapa ke Bandung? Dalam rangka apa?”

Penulis heran. Emang harus ada rangka dulu apa baru penulis bisa ke Bandung L Yah, daripada rempong, penulis bilang aja liburan hehe berhubung hari Rabu itu hari terakhir UTS. Tapi alasan sebenarnya adalah karena penulis ingin menemui mbok tercinta ehehe (re: Sarah Azzahra) soalnya awalnya penulis sudah menjadwalkan akan berlibur ke Bandung saat liburan akhir tahun (24-31 Desember). Kenapa penulis nggak pulang aja ke Malang? Karena nanggung, liburannya Cuma seminggu. Lagian Februari libur lagi (libur semester, 2 minggu), mending masa kangennya dibayar pas Februari itu. Toh, penulis udah biasa pulang kampung setahun 2 kali karena dulu di IC begitu. Eh orang tua minta pulang. Yasudin penulis nurut toh tiketnya bukan penulis yang beli ehehehehehehe. Jadilah demi membayar janji yang sempat batal, penulis memutuskan kabur ke Bandung.

Berangkat tanggal 10 November dengan dresscode merah putih Hari Pahlawan coy! Awalnya penulis ingin print tiket pada hari Minggu saat teman-teman penulis (thx to Ali and Azi) mengantar penulis survei di Stasiun Gambir, ternyata tiket hanya bisa di print 12 jam sebelum keberangkatan. Aturan baru kali, ya. Setelah print tiket di check in counter penulis ngegabut sampai diperbolehkan masuk ke tempat pemberangkatan kereta 1 jam sebelum keberangkatan.

Setelah masuk, penulis melongo sebentar melihat ada 4 tangga yang berbeda. Penulis menemukan tulisan Argo Parahyangan (kereta yang ditumpangi) tapi ada 2 tangga yang bisa dituju. Penulis kebingungan:(((( Akhirnya ada bapak CS baik hati yang menyapa penulis “Naik kereta apa, Dek?” (dalem ati Pak saya dah umur 19 tahon masa iya masih adek adek:”) tapi gapapa berkat beliau penulis sampai di jalur yang benar. Saya kasih amnestilah.

Keretanya lumayan elit, loh. Setara Jayabaya mungkin kalo penulis bandingin. Kursinya dua-dua, bukan seperti Jayabaya atau Matarmaja yang berhadapan. Jadi seperti bus. Tapi ada 2 kursi di tengah yang berhadapan yaitu kursi nomor 11 dan 12. Kursi nomor 1-11 berlawanan arah dengan kursi nomor 12-21, di mana arahnya menghadap ke tengah bukan ke pintu. Tirainya bukan tirai kain yang bisa dikebas-kebaskan, tirainya seperti tirai jendela KRL yang ditarik dari atas ke bawah.

Dari televisi ini aku baru tau kalo Noah ngecover lagu Andaikan Kau Datang <3



Oenyoech pol. Good, hemat tempat.

Sekursi berdua, colokannya juga pas dua. Gapake ngantri euy.

Dan aku masih bertanya-tanya fungsi ini apa. Kalo di Matarmaja gantungan ini di bawah dan bisa buat gantungin sampah atau makanan. Lah ini di atas? Ngenain pala orang, dong?

Satu-satunya kursi yang berhadapan di satu gerbong. Kursi no. 11 dan 12.

Sebenarnya, begitu tahu penulis ke Bandung menggunakan kereta, banyak teman penulis yang heran dan bertanya “Kenapa nggak pake travel aja?”. Well, kenapa penulis lebih memilih naik kereta ketimbang travel? Memang bener, sih, kalo naik travel turunnya lebih gampang artinya lebih deket ke rumah Sarah. Tapi ada banyak hal yang disuguhkan kereta yang nggak ada di travel. Di kereta, selepas meninggalkan Jabodetabek, kita akan diberi pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Membuat mengucap syukur, takbir, tasbih berkali-kali. Pemandangan yang melepas penat sehabis UTS dan Bintaro yang panas banget. Apalagi bagi penulis yang suka geografi, liat bentang alam begitu berasa nostalgia gitu *aih. Pokoknya 2 jam sebelum sampe Bandung, jangan tidur. ANDA AKAN MENYESAL HAHAHA.










Oh iya, ada 2 kereta yang menuju ke Bandung. Argo Parahyangan yang berangkat dari Stasiun Gambir dengan harga tiket Rp80.000,00 dan Serayu Pagi atau Serayu Malam yang berangkat dari Pasar Senen dengan harga tiket Rp67.000,00. Penulis memilih berangkat dari Gambir karena Gambir lebih mudah digapai ketimbang Pasar Senen. Caranya tinggal turun di Tanah Abang kemudian naik G*jek atau Gr*bike ke Stasiun Gambir. Antisipasi biar nggak telat. Penulis udah pernah ketinggalan kereta dan walhasil nguber itu kereta yang dah jalan  pokoknya berasa Ian pas nguber kereta di 5CM.

Dan entah bagaimana, begitu penulis menginjakkan kaki di Bandung, beberapa EG Bandung langsung ngechat penulis, beruntun, barengan, sampe penulis bingung musti bales yang mana dulu XD. Tapi akhirnya penulis mendahulukan Sarah dan Sirhind. Karena penulis ingin menuju rumah Sarah namun Sarah tidak bisa menjemput dan Sirhindi bersedia mengantar. Mereka berdua berdebat tentang angkot apa yang harus penulis tumpangi. Sarah ngotot penulis naik angkot St Hall – GN Batu yang berwarna biru dengan pita merah turun di Dakota. Sedangkan Sirhind ngengkel penulis naik angkot Cisitu – Tegalega yang berwarna ungu dan menggiring penulis ke ITB. Penulis sampai ngakak sendirian di jalan kek orang gila. Akhirnya setelah 2 kali mencegat angkot Sarah namun tidak direspon:” (abang angkot jahid uh tega kau mang) penulis memutuskan naik angkot Sirhind.

Arrived!


Sirhind bilang suruh turun Cisitu Lama. Atau dekat ITB. Dan saat melewati Bonbin Bandung penulis teringat kalau daerah itu dekat ITB. Maksud hati ingin turun tapi ketika penulis chat Sirhind, Sirhind tak kunjung membalas:””””””””” penulis makin galau. Akhirnya, penulis mengandalkan sang supir angkot.

“Pak, turun Cisitu Lama, ya.”

“Cisitu Lama berapa, Teh?”

LOH.

MPOZ.

EMANG CISITU LAMA ADA BERAPA??????

“Emang ada berapa, ya Pak?”

“Ada 1 sampe 12, Teh.”

*brb chat Sirhind*
*kaga dibales*
*tidak tidak*
*NASIB GUE GIMZ*

“Turun Cisitu Lama 1 aja, deh, Pak.” Nahkan penulis mulai sotoy.

“Loh, dah kelewat, Teh.”

MPOZ SEKARANG CISITU BERAPE.

“Turun sini, aja, Dek. Kalo di Pusdiklat ini tengah-tengahnya Cisitu Lama.” Kata seorang mbak-mbak sambil menunjuk Pusdiklat Geologi. Penulis nurut, mbaknya lebih tau, penulis lebih sotoy.

“Nanti janjian aja minta ketemu di Indomaret.” Dia memberikan nasihat lagi. Penulis sangat tertolong.

“Emang janjiannya di mana, Teh?”

“Ehm... Cuma bilangnya Cisitu Lama, Pak.”

Terkutuklah kau Sirhind tidak membalas chatku!

“Yaudah, janjian Teh sama temennya.” Beres kubayar, aku berteduh di Indomaret karena mulai gerimis.

Untunglah Sirhind segera datang.

Setelah itu kami menuju rumah Sarah. Tentu setelah penulis ngomel-ngomel panjang kali lebar kali tinggi jadilah volume. Di jalanan yang sepi dia ngebut sampai mata penulis hilang. Ngebut bat! Untung baju penulis tebal untuk menghalau dinginnya Bandung. (DC of the day: sweater stukol Lampung)

SAMPAI DI RUMAH SARAH AKHIRNYA ALHAMDULILLAH.

Seperti yang diduga, Sirhind digebukin Sarah gara-gara memboyong anaknya tanpa arah tanpa tujuan yang sesuai dengan keinginan Sarah. Mpoz lu rasakan tenaga ibu-ibu saat membela anaknya AHAHAHAHA.

Kami bercurcol ria sampai Isya’. Diselingi santap-santap tentunya.

Esoknya, penulis bermain ke ITB mengunjungi EG yang lain. Penulis berdiam diri di Salman ITB. Di sana penulis bertemu Farisah Noura Fathiya Latifah Farras Ainun Sasa Cantika Dila Hafidz Akmal Abror Mujahid. Penulis diajak berkeliling di Pasar Jumat, mencoba seblak, dan mengambil peruntungan nasi berkah yang hanya ada setiap hari Jumat siang dan menggunakan NPM seseorang EHEHEHE MAYANLAH MAYAN kaga ada soalnya di STAN nasi berkah gini. Lauknya lumayan lagi, kayak di IC. Duh nikmat tenan.

Pas sholjum, berhubung beberapa akhwat mentoring, penulis gabut dan akhirnya nongki bersama Noura dan mbok di Warunk Upnormal Dipati Ukur. Perjalanan kami menuju tempat ini pun tak mudah. Kami salah naik angkot gak deng sebenernya angkotnya bener cuma kami turun di tempat yang salah wakakak akhirnya kami jalan dari depan kampus UNPAD Dipati Ukur sampai Warunk Upnormal dengan modal GPS. Dan sesampainya di sana ternyata baru bisa order jam 12.45 WIB dan Noura ada janji ngumpul ngerjain gamtek jam 13.00 WIB duh yang tabah aja ya Nou:”””. Dia pesen mie-pedes-apalah-itu-namanya-level-10 dan demi soto ayam bu eka itu mie dah gak ada rasa mienya pokoknya mie rasa cabe dah alig pedes semua itu wkwkwkwwkwkwkwkwwk bau cabenya aja kecium dari jarak sekian dan sekian sreng sreng masuk idung.

Sayang kagak ketemu Kak Sipaw disini :"

Gamtek mulu mbak. Ibu negara dateng, nih. Mbok diperhatiin.

Kegilaan di Upnormal (1)

Kegilaan di Upnormal (2)

Ibu dan anak

Foto ala-ala wkwkwkwk

Kegilaan di Upnormal (3)

Penyambutan Ibu Negara

Selepas nongki dan Noura kembali nge-gamtek, kami (Sarah Fathiya Ainun Latifah Muthi Dila) jalan-jalan ke Ciwalk dengan kondisi hujan rintik-rintik airnya mengalir. Gr*bcar yang kami tumpangi meminta ongkos lebih duile ada aja alasan gitu buat nagih uang lebih ckck. Di sana kami nongki di Giglebox dan penulis hedon haha beli Frappucino asli gaya banget ini mah tapi gapapalah ya buat pengalaman aja toh kata orang pengalaman adalah guru paling baik.

Nongki di Giglebox Ciwalk


Eh kata Sidu deng.

(bersambung)


Next? Komen dulu :))))

Wednesday, April 20, 2016

Pendakian Gunung Gede: Keyakinan Tanpa Keraguan

April 20, 2016
Inilah wajah-wajah tim Pendakian Gunung Gede

Hai semuanya! Akhir-akhir ini aku sering posting. Nggak papalah ya mumpung lagi liburan. Ntar kalo udah masuk susah mau posting-posting lagi. Di postingan kali ini, aku akan sedikit (maunya sih gitu, nggak tau nanti kalo ketagihan) tentang salah satu agenda liburanku: mendaki Gunung Gede.

Kelas XII. Ujian terakhir. Ujian Nasional. Ujian Nasional 2016. Ujian Nasional Berbasis Komputer. Semuanya terasa penjang dan melelahkan. Untunglah di balik itu semua ada sesuatu bernama libur UN. Libur UN berlangsung selama 12 hari. Dan kami sebagai remaja Indonesia yang setengah frustasi setengah galau setengah lega setengahnya pikir sendiri, memutuskan untuk memanfaatkan liburan itu sebaik mungkin. Di angkatanku sendiri terbagi beberapa kelompok: kelompok naik gunung, kelompok Banyuwangi, kelompok Dufan, dan kelompok 'ah di rumah saja'.

Dan aku memutuskan untuk ambil bagian dari kelompok naik gunung. Awalnya aku ingin bergabung dengan kelompok Banyuwangi. Tapi orang tuaku melarangku pulang. "POKOKNYA JANGAN PULANG JANGAN MENGINJAKKAN KAKIMU DI JAWA TIMUR." Oke mungkin tidak sekasar itu tapi intinya aku tidak bole berlibur di Jawa Timur. Aku tidak berani membantah perkataan orang tua, Kawan, bahaya. Bisa-bisa muncul legenda "Anlin Radit". Legendanya pasti horor banget. It's oke lagipula aku emang pingin banget naik gunung.

Hari H. 13 April 2016. Aku gotong tas carierku dan menuju tronton bersama teman-temanku. Kupikir tas itu akan ringan, mengingat isinya hanya baju, makanan, air, obat-obatan, dan tetek bengek lainnya yang tergolong ringan. Ternyata peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit itu memang benar adanya. Aku serasa memanggul bukit di punggungku.

Awalnya aku khawatir, apa aku bisa sampai ke puncak dan turun lagi dengan selamat atau tidak. Mengingat saat Ujian Nasional aku sempat demam gila-gilaan (suhu badanku sampai 39 derajat. Bayangkan, rasanya aku hampir sekarat saking takutnya) dan penyebab demam itu karena aku kecapekan. Tapi tidak apa, aku sudah mengantongi paracetamol di tasku. Aku terus berdoa, aku harus yakinkan diriku sendiri dulu bahwa aku pasti baik-baik saja. Ada Allah yang siap menolongku.


Pemanasan sebelum mulai pendakian

Setelah pembagian kelompok, melakukan berbagai pemanasan, dan berdoa, kami memulai pendakian. Aku berusaha menuruti saran guruku untuk bernafas dari hidung saja (iyalah masa dari kaki) karena selama ini setiap berlari aku bernafas dari mulut. Kututup mulutku rapat-rapat. Dan hujan turun.

Aku terus meyakinkan diriku ini bukan petaka, ini baru dimulai. Kukenakan jas hujanku tapi kantung carierku tidak muat untuk menutupi tasku. Biarlah dia kehujanan. Salah sendiri kebesaran.

Kami mulai mendaki dari jalur Gunung Putri dan rencananya kami akan turun di Cibodas. Setiap kali istirahat aku cepat mengonsumsi madu atau cokelatku, karena waktu istirahat yang diberikan hanya 2-5 menit. Hujan membuat suhu udara makin dingin. Udara dingin itu masuk ke hidungku dan membuatku sulit bernafas. Tubuhku seolah dingin semua. Dengan ganas aku meminta T*lak Angin temanku, berharap tubuhku bisa lebih hangat. Kupasang juga koyo (hasil malak) di hidungku.

Setiap kali menghadapi tanjakan rasanya aku benar-benar ingin membuang tas carierku, karena setelah menanjak aku akan ngos-ngosan. Yang bisa kupikirkan saat itu hanya satu. Kuatkan aku, Ya Allah. Berikan kekuatan pada kami. Hanya kepada-Mu kami bisa memohon.

Saat hendak makan siang, hujan sudah reda. Tapi saat kami makan kami diguyur lagi, membuat makanan kami yang awalnya kering menjadi berkuah. Aku bertekad menaghabiskan nasi yang banyak itu karena aku pasti butuh energi banyak untuk melanjutkan perjalanan ini.

Aku girang sekali saat sampai di trek yang landai, tapi aku juga bertanya-tanya kapan kami samapi di Alun-Alun Timur. Saat aku berhasil keluar hutan dan samapi di Alun-Alun Timur, aku tak kalah girangnya. Tapi angin berhembus sangat dahsyat karena pohon edelweis tidak mampu menghalanginya. Dingin sekali. DINGIN SEKALI POKOKNYA DINGIN BANGET. Baju kami juga basah, bukan oleh air hujan, tapi oleh keringat kami sendiri.

Selebrasi tim yang berhasil sampai duluan di Alun-Alun Timur

Saturday, July 4, 2015

Kegiatan Tadarus dan Anggapan Warga Kebanyakan

July 04, 2015
(Nyuri di Google hohoho :D)

Bulan Ramadhan. Pada puasa semua, kan? Bulan Ramadhan memang sangat identik dengan puasa karena pada bulan ini umat Islam menjalankan puasa satu bulan penuh. Tapi bulan Ramadhan tidak hanya mengandung puasa saja. Ada banyak ibadah lain yang gencar-gencarnya dilakukan, seperti shalat terawih, sahur, dan tadarus Al-Qur'an.

Tadarus ini menjadi topik yang ingin kubahas, mengingat aku juga mengikuti kegiatan ini di kampungku. Banyak hal terjadi yang menurutku menjadi masalah dalam kegiatan tadarus itu sendiri. Yang paling utama adalah pengetahuan orang yang ikut tadarus tentang tajwid Al-Qur'an.

Banyak masyarakat menganggap belajar tajwid tidak sepenting dengan pelajaran umum yang diajarkan di sekolah. Pemahaman ini jelas salah, apalagi bagi orang Islam. Belajar tajwid adalah hal yang penting mengingat Al-Qur'an sebagai kitab suci agama Islam mempunyai hukum sendiri dalam agama Islam. Membacanya tidak bisa asal-asalan, karena jika salah maka bisa menimbulkan perbedaan makna nantinya. Tidak apa-apa mungkin kalau tidak melenceng terlalu jauh, tapi kalau malah jadi makna yang sangat beseberangan? Yang maknanya positif jadi negatif? Tentu saja menimbulkan dosa bagi yang membacanya. Fatal akibatnya. Contohnya saja seperti lafadh berikut:

Diambil dari babarusyda.blogspot.com


Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Mumpung masih sempat, masih hidup, masih ada usia, kenapa tidak?

Kebanyakan orang, terutama yang telah dewasa, mengatakan mereka 'malu' untuk belajar tajwid lagi. Apalagi mulai dari iqro'.

Siapa yang berani memandang rendah orang yang menuntut ilmu? Setan saja takut pada orang yang menuntut ilmu. Tak ada ruginya belajar. Yang rugi adalah jika seseorang malu untuk belajar hanya karena memikirkan pendapat orang. Yang perlu dipertimbangkan adalah ridho Allah, bukan pendapat orang. Karena yang menentukan takdir adalah Allah bukan orang. Jika tidak belajar, bisa jadi setan akan menyesatkan setiap bacaannya. Yang ada saat dia mengaji, bukan pahala yang diperoleh justru dosa. Apalagi jika bacaannya salah terus menerus. Jadi, bagi siapapun yang belum lancar membaca Al-Qur'an karena belum belajar tajwidnya atau belum tuntas mempelajarinya, jangan ragu untuk belajar, ok? 

Ikut kegiatan tadarus juga merupakan salah satu cara belajar Al-Qur'an bukan? Cara mempraktikkannya?

Mempraktikkan memang perlu, agar lancar dan bagus nanti bacaannya. Semakin lancar semakin baik. Tapi kurasa jika masih dalam proses belajar sebaiknya tidak mempraktikkannya dalam kegiatan tadarus, apalagi yang dibaca adalah Al-Qur'an. Sejak dulu, sudah disediakan media belajar membaca Al-Qur'an, yaitu iqro'. Lancarkanlah iqro' dahulu. Jika sudah mantap dan siap, baru mulai membaca Al-Qur'an.

Beberapa orang prihatin kadang saat mendengar bacaan tadarus yang masih patah-patah. Beruntung jika ada yang mampu mengingatkan bacaan salah tersebut. Tadarus akan lebih indah jika dilafadhkan dengan fasih, apalagi yang mendengarkan khalayak ramai. Selain memperoleh pahala karena membaca Al-Qur'an, juga dapat menjadi kegiatan syiar Islam yang baik. Siapa tau ada orang yang masuk Islam setelah mendengarkan lantunan ayat yang kita bacakan.

Kalau begitu, saya tidak ikut kegiatan tadarus lagi, karena saya belum lancar membaca Al-Qur'an.

Jika tidak ikut tadarus dengan alasan demikian, tentu itu bukan tindakan yang benar. Jika tidak ikut membaca, ikut mendengarkannya tidak rugi. Malah berpahala. Pahala yang dilimpahkan sama dengan yang membaca Al-Qur'an.

Tidak ada yang salah saat membaca Al-Qur'an, asalkan ada usaha konkret dalam mendalami ilmunya. Jika membacanya tanpa berpengetahuan, itu termasuk tindakan kebodohan yang dibenci Allah. Jika sudah ada usaha untuk mempelajarinya dan mulai mengamalkannya walaupun masih patah-patah, maka baginya dua pahala.

"Orang yang mahir membaca Al-Qur'an kedudukannya di akhirat bersama malaikat yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka baginya dua pahala." (HR. Bukhari Muslim)

Nah, semoga tulisan ini memberi manfaat bagi kita semua. Terima kasih telah membaca :)

Saturday, April 18, 2015

Journey to Monas: Sebuah Pelajaran Kesabaran

April 18, 2015
Libur UN. Seminggu pula. Belum greget kalo nggak jalan-jalan sama 'anak rantau' alias anak yang pada nggak pulang pas libur UN. Berhubung rumahnya pada jauh. Setelah melalui perundingan yang setara dengan Konferensi Meja Bundar, kami memutuskan akan berwisata (ekhem) ke Monumen Nasional.

Anak rantau pergi ke Monas

Jarang-jarang pemirsa, kita bisa jalan-jalan ke Monas. Tapi begitu tiba hujan mengguyur kami. Sebetulnya diliat dari sisi manapun ini jelas merugikan. Udah jauh-jauh dateng ke sini eh hujan nggak bawa payung pula (beberapa sih). Tapi ternyata hujan itu membawa berkah karena berhasil menutupi panasnya Jakarta. Jadi kami menghabiskan waktu di Monas tanpa kepanasan, yohoho~

Sepulang dari Monas, kita melanjutkan perjalanan yaitu makan siang di Stasiun Gambir. Kebetulan sekali di situ ada bank. Dan kebetulannya lagi aku emang nyari bank, bukan nyari ATM, tapi bank. Sambil ngantri mesen makanan aku ke bank. Seperti biasa kita pasti disamut pak satpam yang ramah.
"Mau transaksi apa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Penarikan tunai, Pak."
"Bawa buku tabungannya, kan?"
"Bawa."
"ATMnya?" jayus aja, kan kalo yang dimaksud pak satpam ini mesin ATM.
"Ini nggak ada ATMnya."
"Kok nggak ada?"
"Soalnya ini rekening kerjasama." muka bapaknya masih sama, heran plus kaget. Bapaknya manggut-manggut, sih setelah aku bilangin gitu, tapi aku nggak yakin beliau paham.

Lalu aku menemui Mbak Teller (jangan dibaca mbak teler) setelah nomor urutku dipanggil. Tanpa ba-bi-bur, aku serahkan formulir dan buku tabunganku. Dan pertunjukan dimulai.

About Me

PeketoWritan

Peketo hanyalah nama julukan yang diberikan teman-teman penulis sejak kecil dan akhirnya ia gunakan sebagai nama pena. Kelahiran Malang dan tidak betah panas. Sangat menyukai lemon dan warna kuning. Suka menggambar, membaca novel dan buku pengetahuan umum, serta menulis cerita. Rutinitasnya membaca Webtoon tiap jam sepuluh malam.




Recent Posts

recentposts

Random Posts

randomposts