Showing posts with label Hati-hati Penipuan!. Show all posts
Showing posts with label Hati-hati Penipuan!. Show all posts

Sunday, May 7, 2017

Sulitnya Melakukan Withdraw Saldo GO-PAY

May 07, 2017
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

:””””””””””””””(((((((( HELP EVERIBADIH PLZ HELEP MEHH.

Meskipun ditulis dengan alay, postingan ini tidak main-main. Penulis benar-benar minta tolong. Penulis sedang dilanda masalah dan sampai hari ini belum menemukan solusi yang tepat.

Sudah seminggu ini penulis berusaha melakukan withdraw (penarikan) saldo GO-PAY pada aplikasi GO-JEK. Namun hingga hari ini belum juga berhasil. Bukan apa-apa, nominal saldo yang ingin penulis tarik itu jumlahnya tidak sedikit (untuk ukuran anak kos) yang jika diendapkan begitu saja di GO-PAY maka akan membuat penulis menjalani kehidupan yang kere selama satu bulan penuh.

Bagaimana ceritanya saldo se’gede’ itu bisa nangkring di GO-PAY?

Penulis bersama rekan penulis berniat mengikuti sebuah event yang tiketnya di jual di situs GO-TIX. Kami sudah memperkirakan bahwa tiket itu akan ludes dalam waktu singkat. Maka untuk antisipasi, kami mengisi saldo GO-PAY untuk mempermudah pembayaran agar tiket tidak keburu disamber orang. Namun nyatanya kami gagal, tiket sold out dalam 22 menit di mana dalam 22 menit itu aplikasinya hang dan saldo itu jadi sia-sia. Mungkin berguna untuk memesan layanan lain, tapi ya kali duit segede itu TT.

Kemudian penulis berniat melakukan penarikan supaya saldo itu bisa lebih berfaedah. Seperti biasa, dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Foto diri, foto kartu identitas, beres.

“Akun Anda sedang dalam proses verifikasi dan akan selesai dalam 24-48 jam.”< Status: Pending Lama juga, ya, huft. Semoga aku masih bisa bertahan hidup. Dua hari setelahnya, statusnya berubah. Rejected.

Lah kok ditolak? Akhirnya penulis coba lagi.< “Akun Anda sedang dalam proses verifikasi dan akan selesai dalam 24-48 jam.” Status: Pending Dua hari setelahnya, statusnya berubah. Rejected.

Apanya yang salah, ya? Perasaan dulu penulis pernah transfer saldo ke temen, proses verifikasinya nggak selama dan seribet ini, deh. Akhirnya penulis menghubungi CS dan menyampaikan curcolan dengan bahasa sesopan-sopannya.

Balasan pertama datang. Penulis diminta memastikan bahwa verifikasi sudah disetujui sistem (verified), koneksi internet bagus (aduh jadi tersipuh) (provider penulis kan) (tapi suer saat itu sinyalnya lagi bagus-bagusnya, nggak boong) dan sudah update versi terbaru. Penulis juga diminta mengirim data ini-itu, skrinsut ini-itu. Beres. Keluhan ditindaklanjuti. Verifikasi lagi. Nunggu lagi.

Nggak bisa juga.

Astaghfirullah, duh Gusti.

Ngirim keluhan lagi. Kali ini udah agak turun tingkatannya. Dibalas lagi.

Disuruh pastikan APPROVED kalo nggak APPROVED nggak bisa. Data-data harus SUBMITTED. Disuruh update. Penulis nurut. Verifikasi lagi. Nunggu lagi.

Nggak bisa lagi.

ASDFGHJKL. Hasemeleh hasemeleh. Seuh.

Lalu penulis diberi tips lagi (setelah mengeluh tentunya). Diberi tutotrialnya (PLIS SAYA TUH UDAH NGERTI TUTORIALNYA, JADI JELAS BUKAN SALAH DI TUTORIAL :”) ). Kalau masih ditolak, sarannya adalah foto diambil langsung dari aplikasi kamera di hape (YA GIMANA KAN EMANG GITU SISTEMNYA :’) ), foto kartu identitas tidak blur (fyi, penulis diantara sekian kegagalan itu, penulis Cuma upload kartu identitas sekali, sisanya foto wajah saja. Kenapa begitu, ya? .-.), ditemukan perbedaan signifikan (penulis awalnya foto pake kacamata, eh tapi di kartu identitas nggak pake, oke mungkin salah. Tapi selebihnya MUKA PENULIS SEMUA SERIUS SUMPAH GAPAKE KACAMATA DARI YANG EKSPRESI DATAR SAMPE EKSPRESI YANG DIMIRIP-MIRIPIN SAMA KARTU IDENTITAS JUGA MASIH DIANGGAP GAK MIRIP OMAIGAT ZIRIAZLY APA SEBENARNYA SALAH PENULIS APAKKHHHHHHH :”””””””””””(((( ), dan terakhir ditemukan indikasi kartu identitas palsu (ATUHLAH PLIS ITU KARTU UDAH DIPAKE APA AJA NAIK PESAWAT NAIK KERETA API TUT TUT TUT DAFTAR KAMPUS MASIH DIBILANG PALSU ITU GAK MUNGKIN MZ).

mELedaQLaH EmOuZi pEnuLizZ.

Penulis ngirim keluhan lagi, kali ini bahasanya mulai tidak terkendali. Lalu dibalas oleh pihak CS (calm down baby~ yeah~) dan penulis verfikasi lagi. Penulis sampai balas email dari CS dengan curcol, “.... Dan semoga kali ini berhasil” saking udah gak tau mau gimana lagi. Coba kalo bisa VN, kayaknya udah penulis VN betulan.

Penulis gak masalah ditolak sekali, tapi ditolak berkali-kali, tuh rasanya ...... *murka* *ngamuk* *godzilla*

Penulis nggak nyangka mau narik uang penulis sendiri kenapa sulit sekali. Padahal uang itu barang sensitif yang tidak dititipkan di sembarang orang. Eh sekalinya dititipkan, malah tak kunjung kembali. Penulis juga bingung kenapa ada proses verifikasi yang sesulit ini. Penulis kadang juga menyimpan saldo di suatu situs belanja online, tapi proses withdraw-nya tidak sesulit ini, dan saat terjadi kesalahan pun, penulis diberi tahu mana bagian yang salah sehingga penulis tahu mana yang harus dibetulkan. Entah itu nomor rekeningnya, atau kata sandinya. Atau lainnya.

Ada yang punya solusi??? Sangat membantu banget buat penulis :”) mungkin ada yang punya pengalaman sama? Ditunggu solusinya secepatnya #savepenulis #untukawalbulanyangtidakberasaakhirbulan

Saturday, July 23, 2016

Gak Halal? Duh, Jangan Deh!

July 23, 2016
Seorang pembeli di supermarket sedang mencari label halal suatu produk, warga sejagat raya heboh! Ada apa?

Halo semua! Penulis kembali lagi. Tettorettoretttt~

Kali ini bahasan yang dibawa sedikit serius. Tapi penulis tetap menerapkan metode diskusi. Jadi bagi yang ingin menyampaikan pendapat terkait tulisan ini nantinya sangat dipersilahkan. Mengingat adanya perbedaan cara pandang dan berpikir tiap orang. Penulis hanya ingin menyampaikan informasi yang telah diterima.

Logo halalnya warna-warni wihh

Apa arti Halal?

Halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syariat untuk dikonsumsi. Terutama, dalam hal makanan dan minuman.

Kenapa harus halal?

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا  وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Artinya “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”(QS. Al- Maidah ayat 88)

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga menerangkan tentang hal tersebut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Artinya
Sesungguhnya Allah  tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya.”

Dampak makanan halal tidak hanya baik secara jasmani, namun juga secara rohani. Ada banyak ayat di dalam Al-Qur'an yang mengandung perintah untuk memakan yang halal. Jika sudah tercantum di Al-Qur'an, jelas ini bukan masalah yang bisa dianggap sepele.

Dalam hadits Nabi juga telah disebutkan, bagaimana mungkin akan diterima do'anya jika ia meninggalkan yang halal? Apa yang kita konsumsi ternyata juga dapat berpengaruh pada ibadah kita nantinya.

Di zaman yang kian modern ini, kita banyak menjumpai beragam jenis makanan dari yang paling sederhana hingga yang paling nyeleneh. Dari harga paling murah porsi banyak hingga porsi sedikit harga selangit. Makin nggak karu-karuan. Dari makanan yang ada label halalnya sampai yang belum jelas halal-haramnya.

Dulu masih ada Nabi Muhammad SAW yang bisa kita tanyai perihal makanan ini halal tidak, dan Nabi akan memberi pemaparan yang jelas. Berhubung sudah berabad-abad lamanya, maka mau tak mau kita kudu punya pegangan sendiri perihal halal tidaknya suatu makanan.

Penulis menegaskan: selama masih ada yang halal, pilihlah yang halal!

Penulis pribadi, sejak menerima banyak informasi perihal halal-haram, menjadi lebih selektif. Tiap membeli produk makanan berbungkus di supermarket, penulis akan mencari terlebih dahulu ada label halalnya atau tidak. Jika ada, penulis akan mempertimbangkan untuk membeli produk tersebut. Jika tidak, penulis akan memilih produk lain yang setipe namun berlabel halal, meskipun mungkin harus merogoh kocek lebih.

Kalau dilihat di komposisinya dan tidak ada yang berbahaya, tak masalah, kan?

Persoalan label halal ini tidak hanya menyangkut kandungan makanan saja.

Ini juga menyangkut bagaimana produk itu dibuat dan didistribusikan.

Majelis Ulama Indonesia dalam memberikan label halal itu tidak main-main. Lembaga ini akan mendampingi proses pembuatan produk itu, bagaimana ia dibuat, bersihkah alat yang digunakan, sucikah, hingga bagaimana didistribusikan, secara legalkah, dan sebagainya sampai produk itu tiba di toko untuk dipasarkan. Jika lolos serangkaian persyaratan, label halal diterima.

Karena kita tidak pernah tau, apakah benar, misalnya, kecap ini dibuat dengan kondisi yang steril? Bagaimana jika ternyata mesin yang digunakan sudah karatan? Bagaimana jika ternyata kedelainya diaduk dengan tongkat penuh jamur? Bagaimana jika ternyata dalam proses distribusinya ada penjualan ilegal, hasil curian, dan riba?

Memangnya Anda yakin, mau makan kecap yang seperti itu?

MUI pasti tidak akan memberi label halalnya pada produk tersebut. Karena kategori halal ada banyak, MUI pastilah menilai seluruhnya. Tidak hanya kandungan makanannya saja.

Dan memangnya, seberapa paham Anda persoalan zat-zat makanan yang aman dikonsumsi maupun tidak? Kecuali Anda bekerja atau pernah belajar soal zat-zat makanan, penulis tidak bisa menyangkal. Penulis sendiri karena tidak tahu banyak soal zat-zat itu, karenanya penulis lebih mengutamakan label terlebih dahulu ketimbang mengecek komposisi. Lagipula, amannya komposisi belum menjamin keamanan proses produksi.

Dan masalah halal tidaknya produk tidak hanya pada makanan, barang kebutuhan lainnya, terkadang juga memerlukan kepastian halalnya.

Tidak jarang kita melihat ada label halal di produk tisu, shampo, dan lain-lain.

Itu membuktikan bahwa dalam proses pembuatannya, semuanya halal.

Misalkan Anda menggunakan suatu sabun yang tanpa Anda ketahui ternyata tercampur dengan lemak babi. Sudah tentu sabun yang Anda oles-oles di badan itu menebarkan najis. Akibatnya, tubuh Anda bukannya suci malah menjadi najis. Dan najis ini tidak akan hilang, kecuali Anda memang mandi dan mengucap niat mandi besar untuk menghilangkan najis tersebut.

Dalam persoalan produk berbungkus, penulis memilih pegangan untuk mendahulukan produk-produk berlabel halal ketimbang produk terkenal namun tidak memiliki label.



Itu kan produk berbungkus, kalau yang makanan di warung-warung atau pedagang kaki lima kan tidak berlabel?

Untuk soal ini, penulis punya pegangan lain lagi.

Prinsipnya adalah: sholat tidak si tukang masaknya?

Tentu tidak nyaman jika kita bertanya pada si tukang masak secara telak. Maka cara yang bisa kita gunakan untuk mengetahuinya adalah memperhatikannya secara diam-diam. Jika saat sudah masuk waktunya sholat orang tersebut meninggalkan dagangannya untuk sholat, maka penulis bersedia membeli masakan buatannya.

Kenapa harus sholat?

Jika orang tersebut sholat, setidaknya kita punya keyakinan bahwa orang tersebut paham prinsip kesucian atau thaharah. Insya Allah, dia akan memasak dengan baik dan tidak sembrono. Selain itu, pedagang yang mendahulukan ibadahnya daripada dagangannya, insya Allah ia muslim yang taat beragama.

Penulis suka martabak, lantaran martabak yang pertama kali ia coba adalah hasil masakan seorang hafizh 30 juz. Martabak itu memang lezat tiada terkira. Selain enak, dikasih diskon lagi. Maklum kenalan Ayahanda penulis.

Di suatu kampung yang terpencil di dekat desa tempat penulis tinggal juga ada seorang pedagang bakso bakar. Dagangannya ludes hanya dalam waktu 3 jam. Bakso tersebut sebenarnya hanya bakso biasa, malah bakso campuran yang sekitar 65% dagingnya menggunakan daging ayam. Namun, ia bersikap jujur mengatakan bahwa baksonya bukan daging sapi asli, dan saat adzan berkumandang ia bergantian dengan istrinya sholat di musholla dekat warungnya. Gara-gara dagangannya yang kelewat laku, penulis sampai sekarang belum pernah mencoba baksonya lantaran selalu kehabisan. Sedih ya gaes.

Penulis pernah makan bakso di suatu tempat, bukan langganan. Kebetulan lewat sana dan perut memang sudah keroncongan. Saat membayar makanan, penulis bisa melihat bagaimana pedagang itu mencuci mangkoknya dengan cara membuang isinya kemudian mengelapnya dengan lap yang kotor. Bisa kalian bayangkan bagaimana mual dan menyesalnya penulis setelah itu.

Contohnya kebanyakan, ya, hehehe. Yah intinya kalau ingin membeli masakan di warung, carilah yang tukang masaknya adalah orang muslim yang taat, jujur, dan tidak meninggalkan sholat. Biasanya orang seperti ini dagangannya laris manis.

Di warung-warung yang ada di mall juga, pilihlah yang berlabel halal. Sudah banyak tempat makan di mall yang memiliki label halal.

Saya sudah suka sekali dengan suatu makanan, tapi ternyata tidak ada label halalnya. Saya sedih jika harus meninggalkannya begitu saja.

Sekarang giliran kalian.

Ajak saja penjualnya untuk memiliki sertifikat halal!

Ayahanda penulis pernah melakukannya. Saat itu produk Roti**y belum ada label halalnya, padahal roti baru itu rasanya enak sekali. Ayahanda penulis melakukan provokasi.

“Mbak, rotinya enak begini, nggak ada label halalnya?”

“Tapi bahan-bahannya halal, kok, Pak. Terjamin.”

“Kalo emang terjamin, kenapa tidak segera minta pengujian kehalalan saja ke MUI?”

Kalau sudah aman, kenapa tidak segera meminta label halal? Apalagi yang perlu dikhawatirkan? Apa jangan-jangan ada yang disembunyikan?

Roti ini sekarang sudah ada halalnya yee aku suka aku suka :3

Zaman mulai sulit, kita harus pandai-pandai berpikir kritis dan logis.


Selagi masih ada yang halal, kenapa harus pilih yang lain?

Wednesday, March 18, 2015

(sebaiknyanggakterpengaruhRUMOR!)

March 18, 2015
Rumor yang ingin aku bahas di sini bukan band Rumor yang terkenal dengan "Butiran Debu"nya. Sama sekali bukan! Tapi rumor yang kumaksud adalah gosip. Beita yang belum jelas benar. Opini yang dianggap fakta, atau opini yang difakta-faktakan. Yah kurang lebih itulah pengertiannya.

Entah kenapa beberapa hari ini aku mulai menyadari bahwa aku dan teman-temanku termasuk orang yang cukup mudah termakan rumor. Apalagi jika rumornya cukup menyenangkan. Misalnya kejadian yang akan kuceritakan ini.

Hari Senin. Hari di mana kita kembali berangkat ke sekolah setelah hari Minggu yang menyenangkan. Wajar jika pelajar ada rasa sedikit malas untuk ke sekolah, masih mager (males gerak) misalnya. Hari Senin seolah sebuah petaka di balik anugerah. Tapi bisa kembali menjadi  anugerah jika hari Senin itu tidak sekolah!

Pagi-pagi sekali tersebar rumor bahwa kami libur sekolah karena akan diadakan kegiatan pindahan. Yang kami tangkap, kegiatan pindahan ke gedung B yang baru diperbarui itu sama dengan angkat-angakt barang di gedung F ke gedung B. Tidak ada KBM. Tidak ada countdown di pagi hari. Para murid ke sekolah dengan meggunakan pakaian bebas untuk angkut-angkut barang.Dan bahagianya itu terjadi SENIN PAGI!. Ah betapa bahagianya ...

Walaupun masih bertanya-tanya itu beneran atau nggak, beberapa dari kami mulai melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan kami percaya. Ada yang belum mandi, ada yang belum menyeterikan seragam, ada yang belum menata buku, ada-ada saja. TAPI TIBA-TIBA!

10 menit. 10 menit sebelum countdown, fakta yang sebenarnya terungkap! Salah seorang dari kami berteriak, "Hari ini masuk sekolah yaa... Pake seragam, dan tetep ada countdwon."

Dan terjadilah. Kepanikan itu. Teriak sana-teriak sini sambil setengah tak percaya "Woi beneran nih beneran??". Baru saja saat aku menggosok seragamku, divisi PPBN berkicau.

"It's five minute to countdown. I repe ..." AAAKK! Kacau! Buru-buru kupakai seragamku, mempersiapkan segalanya (nyatanya buku pelajaan yang kubawa tidak lengkap). Aku divisi kedisiplinan yang setiap pagi bekerja dan otomatis tidak bisa terlambat. Kusambar tasku dan buru-buru berlari. PPBN berteriak "FIVE!" aku ambil sepatuku dan setengah berlari. Aku selamat pada countdown tiga. Kupercepat langkah kakiku menuju barisan apel, dan betapa kagetnya. BARISAN KELAS XI TIDAK SAMPAI SETENGAH, sedikit sekali! Hanya ada sekitar 20 orang!

Guru kami heran melihat barisan kami yang begitu 'kosong', melihat kelas XII dan X barisannya tampak normal-normal saja. Setelah kami ceritakan alasannya, guru kami hanya heran sambil geleng-geleng kepala. "Emang kalian kok gampang kemakan rumor."

Bukannya apa-apa, tapi kami tidak percaya rumor begitu saja. Jika rumor itu menguntungkan, ada kemungkinan akan dipercaya. Jika makin banyak yang percaya, kepercayaan kami semakin meningkat juga, semakin yakin bahwa rumor itu benar.

Dan benar ternyata memang ada pindahan. Tapi pindahan yanga dimaksud hanyalah RUANG KELASNYA PINDAH, jadi kami tetap sekolah. Kami meraung-raung kalap. Berita keterlambatan kami pagi itu tersebar (kami cerita ke mana-mana). Lalu salah seorang guru berkomentar.

"Kalian ini jangan seenaknya menyebarkan rumor, apalagi mempercayainya. Kan kalau kalian percaya, lalu rumor itu beneran, berarti kalian ghibah. Tapi kalau rumornya salah, berarti saya fitnah kalian." Kami langsung hening. Glek, benar juga.

Apa kami akan lebih berhati-hati sekarang? Semoga saja!

Saturday, February 28, 2015

IC Non-beasiswa?

February 28, 2015
(Ini hanyalah sebuah opini sekaligus curhatan. Terima kasih kepada Anda yang telah bersedia meluangkan sedikit waktu membaca postingan kali ini.)


Insan Cendekia

Tahun 2015 ini tersebar rumor yang cukup hangat menyangkut MAN Insan Cendekia, salah satunya adalah jumlah sekolah prestisius ini akan diperbanyak dan tersebar luas di bumi Indonesia. Seperti yang telah diketahui bahwa selama ini sekolah yang terkenal dengan sebutan IC ini hanya tersedia di 3 wilayah yakni Serpong, Gorontalo, dan Jambi. IC adalah sekolah menengah atas yang didirikan oleh Presiden Ketiga Republik Indonesia yakni Bapak B.J Habibie. MAN Insan Cendekia Serpong adalah sekolah yang paling pertama didirikan, menyusul Gorontalo dan Jambi. IC terkenal di saentro negeri tidak hanya karena pendirinya, salah satunya adalah karena sekolah ini adalah sekolah beasiswa yang mengadakan seleksi ketat tiap tahunnya bagi siapapun dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin menjadi murid di sana. Alhasil para siswa di IC adalah mereka yang mampu mengalahkan hampir ribuan peserta yang mendaftar.

Secara umum, hal yang menarik perhatian pertama para pendaftar adalah beasiswa yang diberikan di IC. Sekolah ini adalah sekolah beasiswa yang membebaskan pembayaran kepada seluruh peserta didiknya. Dan ini hanya dibatasi kepada 360 orang tiap tahunnya (dengan kata lain 1 angkatan di masing-masing IC terdiri dari 120 siswa). Selain itu sistem pendidikannya juga berbeda dari yang lain, karena para siswa yang terpilih untuk belajar di sini memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan hasil tes masuk. Bahkan bisa dibilang, proses belajarnya cenderung lebih berat dari sekolah lain, ditambah lagi persaingan di sini cukup ketat. Namun hal ini menjadikan siswa di sini berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi proses tersebut dan bersaing dengan baik.

Yak, cukup basa-basinya. Yang di atas tadi adalah prolog tentang IC.

Nah, seperti yang diketahui IC sekarang diperbanyak. Jumlahnya menjadi kurang lebih belasan IC nantinya yang akan berdiri di Indonesia, yang awalnya hanya ada 3. Secara logika, kalau IC diperbanyak, maka dana yang akan dikeluarkan sebagai beasiswa juga akan meningkat berkali-kali lipat. Maka dari itu tersebarlah rumor bahwa IC tidak mengadakan program beasiswa lagi bagi peserta didik periode 2015/2016.

Dan ternyata itu bukan rumor lagi, melainkan benar apa adanya.

Tersebar kabar lagi bahwa biaya pendidikan (sebut saja SPP) tiap bulannya adalah Rp. 1.500.000,00. Wow, sebuah angka yang cukup membuatku menelan ludah. GEDE BANGET!

Aku dan teman-temanku terkejut tentu saja. Kami membuat ekspektasi bagaimana IC nanti ke depannya jika tidak ada beasiswa.


Friday, January 23, 2015

Sebuah Cerita Penuh Kebohongan

January 23, 2015
Mungkin ini bukan cerita Abu Nawas. Tapi entah kenapa ada hawa-hawa Abu Nawas di dalamnya.
Pada suatu hari, di sebuah negeri, hiduplah seorang yang amat sangat jujur. AMAT SANGAT SUPER JUJUR SEKALI. Sebut saja namanya Pacin. Dia tidak pernah berbohong sekalipun itu akan membahayakan dirinya. Semua orang salut akan kejujurannya, sekaligus heran. Hingga suatu waktu, Raja yang ikut-ikutan heran memanggilnya ke istana.

Raja memberikannya tantangan. "Saya tantang kamu untung membuat cerita yang isinya semuanya adalah bohong. Saya beri kamu waktu tiga hari untuk mempersiapkannya. Jika kamu berhasil, saya akan memberikan apa yang kamu inginkan."

Maaf alay, biasa ceita zaman dahulu kala kan begitu biasanya.

Pacin menyanggupinya. Sebenarnya, ia tidak tergiur sama sekali atas hadiah yang ditawarkan sang Raja. Ia hanya ingin menanggapi tantangan itu sebaik mungkin.

Biar cepet, kita langsung saja ke acara 3 hari setelahnya, alias pembuktian tantangan Raja. Acara itu digelar di lapangan terbuka, sehingga warga bisa menyaksikannya. Maklum, yang akan berbohong adalah orang paling jujur sesaentro negeri itu.

Sebelum tampil, beberapa warga mewanti-wanti Pacin bahwa yang ia sampaikan adalah hal-hal bohong. Warga juga menasehati Pacin agar tidak jujur sedikitpun. Pacin terlihat santai saja. Ia menghadap Raja. 

"Silahkan sampaikan kebohonganmu, Pacin." ujar sang Raja. Pacin membungkuk hormat, kemudian mulai bercerita.

"Saya akan mengatakan yang sebenar-benarnya." warga mulai kebingungan. Raja juga heran. Diminta berbohong kenapa malah mau jujur?

"Saya akan menceritakan tentang keluarga saya.
Waktu nenek saya masih kecil, ayah saya mengganti popoknya." Kontan saja semua orang mendadak tertawa. Bagaimana bisa seorang anak mengganti popok ibunya?
"Nenek saya, ibu saya juga.
Kakak saya adalah wali dalam pernikahan kakek dan nenek saya.
Saat saya kecil, anak saya selalu membacakan kepada saya dongeng sebelum tidur.
Paman saya juga sering menyuapi bibi saya yang lebih tua 6 tahun darinya, saat bibi berumur 8 bulan.
Dulu adik saya bersama kakek saya dalam kandungan ibu saya.
Kata orang-orang, ibu saya lahir bareng dengan ayah saya.
Saya sering berangkat ke sekolah bersama nenek saya saat nenek saya SMA.
Kalau tidak begitu, saya mengantar kakek saya saat beliau masih TK."

Warga tidak berhenti tertawa. Raja juga. 

"Apakah semua yang kamu sampaikan itu semua adalah benar, Pacin?" tanya Raja.
"Benar, Yang Mulia. Saya tidak berbohong sedikitpun." Warga kembali tertawa mendengar jawabannya.

"Sebenarnya jawaban saya barusan itu untuk melengkapi kebohongan saya, biar makin greget hehehe..." ujar Pacin. Tawa makin susah dihentikan. Raja sekarang benar-benar terbahak. Dasar Pacin....

Sunday, December 21, 2014

Kediri Memakan Korban

December 21, 2014
Inilah wajah-wajah para korban Kediri. 7 dari 11 orang.

Ini bukan sebuah berita tentang bencana yang melibatkan seluruh warga Kediri. Bukan. Judul di atas sengaja dilebih-lebihkan, menggunakan majas hiperbola sekaligus majas sinekdoke totem pro parte. Memang benar kata pepatah, tiada hari tanpa masalah. Begitu pula dalam suatu perjalanan, pasti adaaa saja masalahnya.

Contohnya hari ini. Musim liburan, otomatis sekolahku memulangkan semua muridnya. Berbeda dari akhir semester biasanya, kali ini aku pulang bersaama komunitasku, Jatmico (jawa timur community). Biasanya aku diejmput ayahku, tapi kali ini aku melarangnya. Aku mencoba bertualang!

Setidaknya belum banyak masalah kami hadapi di awal keberangkatan. Kami dapat menuju stasiun tepat waktu, nggak pas banget, sih. Intinya kita nggak ketinggalan kereta. Kami juga dapat makan soang dari kereta. Sejauh ini, amanlah.

Aku tidak tahu apakah penumpang selain aku dan temanku (sebut saja namanya Ul) juga mengalami masalah yang namanya kedinginan. Dingin banget beneransumpah nggak bohong. Aku ngiler liat temnku yang lain tidur dengan nyaman. Aku mencoba bersandar pada Ul, eh dia terbangun. Giluran Ul sandar ke bahuku aku membiarkannya -_-. Aku menahan dingin di kakiku dengan menyalakan laptop yang panasnya mengalir di kakiku. Wuih nikmat...

Masalah ini datang begitu anak rombongan Kediri turun. Petugas pengecek tiket berkeliling dan kami menunjukkan tiket kami seperti biasa. Seperti tidak ada musibah di baliknya.

Mereka melihat tiket, mendadak dahinya terlipat.

About Me

PeketoWritan

Peketo hanyalah nama julukan yang diberikan teman-teman penulis sejak kecil dan akhirnya ia gunakan sebagai nama pena. Kelahiran Malang dan tidak betah panas. Sangat menyukai lemon dan warna kuning. Suka menggambar, membaca novel dan buku pengetahuan umum, serta menulis cerita. Rutinitasnya membaca Webtoon tiap jam sepuluh malam.




Recent Posts

recentposts

Random Posts

randomposts