Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Sunday, January 27, 2019

Resensi Buku: Paradigma

January 27, 2019
Judul buku: Paradigma
Penulis: Syahid Muhammad
Penerbit: Gradien Mediatama
Cetakan Pertama, September 2018
316 Halaman; 13 cm x 19 cm

Blurb

Kita adalah benang-benang pesan yang kusut tafsiran.
Sekali terurai, malaikat dan setan ikut terselubung.
Menjadi pengacau antara akal dan kelakar.
Di antara kuasa-Nya, kita hanya percikan kekacauan,
memohon peran untuk perang,
yang berdoa dalam dosa.

---

Sejak buku ini terbit, saya sangat tidak sabar untuk segera membelinya. Sayangnya, saya waktu itu belum punya uang jadi Paradigma hanya tersimpan dalam wishlist saja. Akhirnya saat ada pameran buku, saya memutuskan untuk membeli buku ini dengan uang tabungan saya. Saya berekspektasi cukup tinggi apalagi setelah membaca Egosentris, karena saya membuat penilaian yang cukup tinggi untuk novel tersebut.

Paradigma adalah novel yang berdiri sendiri, bukan sekuel dari Egosentris. Namun Syahid Muhammad menghadirkan 'bintang tamu' dari novel tersebut. Seperti Ilana Tan menghadirkan kembali tokoh-tokohnya di Summer in Seoul, Winter in Tokyo, Autumn in Paris, dan Spring in London. Ayo coba tebak siapa yang muncul? (ᇴ‿ฺᇴ)

Rana, seorang mahasiswa yang memiliki hobi melukis, adalah tokoh utama cerita ini. Dia memiliki pemikiran yang dalam dan rasional namun sikapnya yang cenderung lembut sebagai seorang pria membuatnya ia sering dikira gay. Padahal Rana sendiri telah memiliki pacar, Ola, namun orang-orang melihat hubungan mereka tidak begitu baik sehingga dugaan tersebut semakin kuat.

Walaupun telah memiliki pacar, Rana memiliki teman dekat─yang sebenarnya cenderung terlalu dekat─bernama Anya. Anya suka menulis puisi. Mereka sering bertemu untuk saling menceritakan makna dari lukisan atau puisi yang mereka buat. Hal ini membuat Ola semakin cemburu karena Rana tak pernah membahas hal-hal seperti itu dengannya. Anya sendiri diam-diam memendam perasaan pada Rana, walaupun ia tahu ia tidak boleh berharap lebih karena saat ini Rana terikat status dengan Ola.

Selain Anya, Rana juga memiliki satu-satunya sahabat lelaki bernama Aldo. Tidak banyak teman pria yang tahan dengan sikap dan pemikiran Rana. Rana selalu membalas curhat dan keluhan Aldo terkait pacarnya, Karina, dengan kata-kata yang pedas namun masuk akal. Rana menilai Aldo terlalu merelakan dirinya untuk diperbudak oleh Karina tidak peduli meskipun kekasihnya itu banyak mengeluhnya. Akibat kedekatan Aldo dan Rana ini, orang sering salah menafsirkan bahwa mereka sebenarnya lebih dari sekedar sahabat, apalagi jika melihat perlakukan Rana terhadap Ola.

Ola sendiri semakin lama semakin tidak tahan atas sikap Rana. Berkali-kali ia menuntut Rana agar menjadi pacar seperti yang dia inginkan. Baginya, Rana terlalu pendiam dan cuek sehingga kadang-kadang sikapnya tidak mudah dimengerti. Pun banyak tekanan yang mendorong tumbuhnya pikiran bahwa ia hanya bertepuk sebelah tangan dengan Rana. Isu pacarnya itu adalah gay, kedekatannya dengan Anya yang melebihi kedekatan dirinya dengan Rana, Rana yang selalu menolak jika ia ingin bertemu dengan orang tuanya, serta dukungan dari teman-temannya yang menganggap Rana itu aneh, membuat hubungannya dengan Rana semakin renggang.

Suatu ketika, Anya mengajak Rana untuk bertemu dengan sahabat lamanya, Felma, yang berkuliah di UGM (Rana dkk berkuliah di Bandung). Dan pertemuan itu adalah awal yang mengubah segalanya.

Pasti pada mikir ceritanya bakal agak-agak menjerumus ke LGBT gitu, kan? Saya juga awalnya mikir gitu tapi ternyata TIDAK SEMUDAH ITU FERGUSO :)

Sebenarnya dilihat-lihat, cara berpikir Rana ini mengingatkan saya pada sosok Fatih. Bedanya Fatih cenderung lebih ekstrem (meskipun pada dasarnya sih sama saja). Dan Rana memiliki sikap yang lembut yang membuatnya lebih banyak dikelilingi oleh teman-teman perempuan dibanding laki-laki.

Yang saya suka dari Paradigma pertama adalah desain sampulnya. Cover yang masih hitam pekat dengan detail lingkaran di tengah berupa ombak dan bulan sabit kecil yang diposisikan terbalik. Awalnya saya tidak cukup detail memperhatikan sampai saya menyadari ada ilustrasi manusia kecil yang karena ombaknya dipasang jungkir balik, ia terjatuh menuju bulan. Penuh arti dan penuh teori. Tapi karena saya orangnya males mikir yang ribet-ribet, saya sekadar menikmatinya saja tanpa ambil pusing.

Kedua, karena jalan ceritanya lebih jelas dari Egosentris. Paradigma benar-benar berfokus pada Rana, sedangkan di Egosentris ceritanya terbagi menjadi tiga, walaupun kebanyakan masih berpusat di Fatih. Semua tokoh di Paradigma memiliki masalah masing-masing, namun pada akhirnya yang jadi masalah utama adalah milik Rana. Dan yah sama si itu sih soalnya berkaitan, kan wkwkwk.

Ketiga, tidak tanggung-tanggung, Syahid Muhammad membahas tiga penyakit mental di novel ini. Sayangnya kalau saya tulis di sini, nanti bakal langsung ketahuan dong jalan ceritanya bagaimana. Jadi mending kalian baca aja langsung daripada penasaran. Yang jelas, gara-gara satu dari tiga penyakit mental ini, novel yang harusnya bergenre romance ini tiba-tiba berputar 180 derajat menjadi novel misteri semi horor. (ʘ言ʘ╬)

Keempat, banyakkkkkk banget kalimat-kalimat yang menurut saya related af sama kehidupan zaman sekarang. Khas novel Syahid Muhammad bangetlah. Kayak semuanya bisa dijadiin quote gitu. Mana saya kalo baca novel terus nemu kutipan yang bagus gitu, suka saya garis bawahi jadi Paradigma ini penuh dengan coretan pensil saya. 。。゛(ノ><)ノ Berikut salah satu dari ratusan kalimat/dialog yang menjadi favorit saya.
"Kelakuan orang-orang yang takut kehilangan cuma bikin mereka benar-benar kehilangan," katanya singkat yang membuatku justru tertegun.

"Apa yang salah dengan perasaan takut kehilangan? Menurutku itu normal. Rasa sayang dan takut kehilangan itu satu kesatuan."

"Defensif basi," tukasnya dingin. "Buatku, satu-satunya yang bisa kulakukan kalau takut kehilangan seseorang, adalah dengan berusaha menjadi pantas untuk tidak ditinggalkan."
Emang mantep banget si Rana ini pemirsa. Saya juga kagum sambil geleng-geleng kepala. Ada lagi nih. Rasanya nggak cukup kalau dari sekian banyaknya yang saya cantumin cuma satu.

Di mata Pak Sobar, macam-macam penyakit jiwa hanyalah teori-teori lain dari kelalaian manusia yang terlalu lama meninggalkan Tuhannya.
Saya masih nggak yakin teori ini benar apa salah. Yang jelas, nge-judge mereka yang punya penyakit mental dengan kalimat-kalimat "coba dilihat ngajinya", "coba tengok sholatnya", "dia mah emang jarang ibadah, makanya hatinya nggak tenang" adalah suatu hal yang KELIRU BESAR. Emang tekanan hidup sekarang yang makin besar, dan mungkin juga memang mentalnya yang lemah, bukan semata-mata seberapa banyak pahala yang sudah dikumpulkan.

Cuma yang saya bingung ternyata ada satu tokoh yang saya rasa nggak muncul sampai akhir. Nasib si Karina itu bagaimana, ya? Apakah cukup begitu saja? Memperbudak Aldo? Atau masih ada kelanjutannya?

Oiya, berhubung di setiap bab-bab novelnya Syahid Muhammad selalu menyisipkan puisi-puisi pendek, tentu saja tidak afdhol rasanya kalau saya tidak mencantumkan puisi favorit saya.
Tak ada yang punya kuasa memilih
Untuk menjadi yang terpilih
Tuhan dan ajudannya
Dan setan dan malaikatnya
Membercandai manusia
Untuk bersaksi atas apapun
Yang tidak diinginkan
Kalau saya pribadi sih, saya masih prefer Egosentris hehe soalnya saya kurang sreg sama ending-nya Paradigma. Tapi secara keseluruhan, kalau kalian menikmati Egosentris, nggak bakal nyesel kalau beli Paradigma juga. Saya jamin, deh.

Sepertinya setelah ini saya harus menabung untuk membeli Kala dan Amor Fati. ╮(╯_╰)╭ Atau ada yang mau beliin? Hehehehehe.

Friday, January 25, 2019

Resensi Buku: Dan Hujan Pun Berhenti...

January 25, 2019
Judul buku: Dan Hujan Pun Berhenti...
Penulis: Farida Susanty
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan Keempat, Agustus 2017
322 halaman; 13 x 19 cm

Blurb

"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya, asal tidak hujan."

Kamu mungkin tidak akan mengerti Leo yang tidak percaya pada siapa pun di dunia ini.
Tapi mungkin Spiza, gadis yang mencoba bunuh diri di sekolahnya, bisa.

-----------------------

Novel ini memang novel lama, yang hitsnya di tahun 2000-an. Saya sudah familiar dengan novel ini sejak masih SMA. Entah kenapa tiap saya masuk perpustakaan sekolah dan mampir di rak-rak novel, novel ini selalu memancing perhatian saya namun saya urung membacanya. Saya dulu emang males sih baca novel pinjeman perpus, lebih suka beli sendiri (iya boros banget). Terus novel ini direkomendasiin dong sama sumber racun saya yang terpercaya tidak lain dan tidak bukan si @saturnesss. Katanya baca novel ini sama Forever Monday rasanya bikin pengen ngelempar, ngebanting, segala macem emosi campur aduk.

Dan kenyataannya, itulah yang benar-benar terjadi ketika saya membaca novel ini.

Bercerita tentang Leostrada atau yang lebih sering dipanggil Leo (nama lengkapnya asli panjang banget saya nggak hafal), laki-laki SMA yang memiliki masa lalu yang kelam. Membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang suka memberontak dan tidak penurut. Image preman sekolah sudah melekat padanya. Leo membentuk 'gang' bersama orang-orang yang ia manfaatkan dengan titel 'teman'. Karena pada kenyataannya, meskipun mereka begitu loyal pada Leo, ia sama sekali tidak menganggap pertemanan mereka hal yang berarti. Baginya, ikatan kebaikan dengan orang lain itu tidak ada.

Keluarga Leo adalah keluarga yang kaya raya namun tidak bahagia. Satu-satunya kebahagiaan yang Leo temukan selama ia hidup adalah Iris. Namun satu-satunya kebahagiaan itu telah meninggal dalam sebuah kecelakaan─sebuah kematian yang tak bisa direlakan Leo dan ibu Iris. Ia begitu terpukul dan dengan kondisi keluarganya yang kacau, ia memutuskan untuk kabur dari rumah.

Pertemuannya dengan Spizaetus Caerina membawa perubahan yang besar dalam diri Leo. Gadis itu, Spiza, bertemu dengannya di bawah pohon saat ia menggantungkan teru teru bozu (boneka penangkal hujan). Saat Leo menanyakan alasan mengapa Spiza menggantung boneka tersebut, ia bilang bahwa ia akan bunuh diri, asalkan tidak hujan. (Ini misterius abis dan langsung bikin penasaran).

Baca juga "10 Lagu untuk Didengar Saat Depresi dan Memberimu Kekuatan"

Selanjutnya pada hari yang tidak cerah, sesuai rencana, Spiza bunuh diri di kamar mandi sekolah dengan menyilet tangannya, kemudian menyalakan kran air dan menimbulkan genangan di kamar mandi. Leo memergokinya dan tidak berusaha menyelamatkannya namun pada akhirnya Spiza gagal mati hari itu. Sejak pertemuan tersebut, mereka digiring pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuat mereka lebih dekat.

Selanjutnya adalah kejutan-kejutan yang jika saya tulis di sini, saya sama seperti membuka kotak pandora yang artinya kejutan-kejutan lainnya akan terbongkar juga. Jadi saya tulis segini aja sinopsisnya.

Saya mau bilang yang paling nggak saya sukai dari novel ini adalah LEOSTRADA DAN CAPSLOCK. Jadi ngegas, kan.

Tapi serius. Novel ini 50% (atau lebih ya?) isinya huruf balok semua. Nggak tau ya apa ini emang style novel jaman dulu, soalnya kalau jaman sekarang pasti udah dikritik abis-abisan sama Ivan Lannin dan para editor penerbit. Ini bikin saya ngegas dari awal sampe akhir. Cek deh review orang-orang yang udah baca novel ini, pasti kasih komentar yang pertama adalah capslock abuser. Saya juga sebenarnya cukup heran bagaimana novel ini bisa menang Khatulistiwa Literary Award 2007. Dan ternyata si huruf balok ini turut andil dalam menaikkan emosi pembaca. Nggak cuma kata-kata kasar yang disuguhkan, tapi juga harus ditulis menggunakan capslock agar bacanya lebih penuh penghayatan. Yah, kayak umpatan netizen twitterlah (ups).

Terus kenapa saya nggak suka Leo? Soalnya LEO ITU MENDING MATI AJA UDAH JADI MANUSIA NGESELIN BANGET YA ALLAH PENGEN NABOKIN JEDUKIN PALANYA KE TEMBOK SUMPAH YA :((((((( ada gitu manusia yang sifatnya meledak-ledak kayak Leo. Spiza dan Iris yang ada di samping dia tahan banget saya akui mereka adalah dua tokoh tersabar dalam cerita ini. Dan saya menemukan bahwa untuk menangani bocah yang sifatnya kayak Leo ini, kuncinya satu: SABAR DAN TELATEN!

Ini postingan banyak banget huruf baloknya, ya hahahahaha masih kebawa efek dari novelnya nih. (ï½° ï½°;)

Baca juga "Me Over The Social Media"

Tapi novel ini emang punya sesuatu yang lain yang membuatnya layak menang (kalo menurut saya sih) penghargaan tadi. Karena bener-bener mampu membawa emosi pembaca. Dan saya pernah denger kalau novel ini mau dibuat filmnya tapi saya harap itu nggak terjadi. Saya bener-bener nggak rela kalau novel ini difilmin. Soalnya saya udah sering dikecewain film yang diangkat dari novel gitu, kalau aktor Indonesia yang main, saya masih ngerasa kurang percaya hasilnya bakal bagus. Masalahnya menurut saya aktor Indonesia yang mainnya bagus itu cuma sedikit :") dan saya nggak mau nanti kalau ceritanya harus berubah gara-gara dipotong atau hal lainnya. Biarlah novel ini murni seperti ini.

Kalau saya harus deskripsikan novel ini dengan satu kata, kata yang saya gunakan adalah ANJIR.

Hampir dari awal sampai akhir novel saya terus ngulang kata itu. Padahal saya paling nggak suka make kata itu. Karena cerita sebenarnya emang nggak sesederhana Spiza ingin bunuh diri. Mana saya pake nangis segala lagi pas ada yang mati #ups.

Yaa intinya novel ini bercerita tentang mental illness. Tema yang cukup jarang dibahas di pertengahan 2000-an dan masih related sama jaman sekarang. Kalau kalian tipe yang nggak kuat liat tulisan yang acak-acakan, saya sarankan jangan baca novel ini. Tapi kalau kalian penasaran rasanya baca buku yang sampe pengen ngelempar, nyobek, banting dan segala macem, bolehlah buku ini jadi referensi. Saya juga belajar banyak dari novel ini cara menaikkan emosi pembaca haha. Sekian dan selamat berakhir pekan!

Tuesday, September 4, 2018

Tips Membeli Buku oleh Radita Peketo (part 2)

September 04, 2018
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Halo, penulis kembali lagi setelah sekian hari untuk melanjutkan postingan yang kemarin. Maaf baru sempat menulis sekarang karena liburan ini penulis bantu-bantu karena sepupu penulis menikah :D gausah ditanya penulis kapan nikahnya, tunggu saja hehehehehe. Nah, karena di postingan kemarin sudah dibahas cara menyiasati harga buku yang mahal, sekarang kita bahas cara memilih buku. Sekalian penulis mau jawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk di Instagram.

Memilih buku untuk dibeli

Biasanya saya membeli buku yang seperti apa sih? Kalau dulu, saya hanya doyan membaca novel-novel karangan penulis favorit, seperti Orizuka, Lexie Xu, Andrea Hirata, dan Donny Dhirgantoro. Selain mereka, saya jarang sekali membaca karya penulis lain. Mungkin hanya pinjam, tidak beli. Tapi saya menyadari untuk menjadi penulis yang baik, penulis harus banyak membaca karya penulis yang lain juga, agar gaya penulisan tidak mirip-mirip dengan penulis favorit saya. Yang pernah baca Diinataksis, pasti menyadari gaya penulisan saya mirip Orizuka campur Lexie Xu.

Nah, karena saya tidak tahu kualitas penulis lain, takutnya nggak sreg atau apa, saya harus pilih-pilih buku yang akan dibeli. Bagaimana cara memilihnya?

1. Cek Goodreads

Bagi yang belum tahu, apa itu Goodreads? Goodreads adalah platform yang digunakan para pembaca untuk menilai buku yang dibacanya. Di sana tercantum identitas dan sinopsis buku serta rating dan komentar yang diberikan oleh pembaca. Jadi setidaknya kita bisa menilai suatu buku dari komentar-komentar tersebut.

Membantu? Buat penulis, sih, membantu banget! Waktu itu penulis kepo banget sama buku "Milk and Honey"-nya Rupi Kaur. Kenapa foto buku ini banyak banget muncul di Pinterest saat penulis nyari inspirasi buat foto-foto bookstagram. Terkenal banget kayaknya. Emang bagus, ya? Lalu saat penulis ke Gramedia, penulis bingung mau beli Rainbirds atau Milk and Honey (namanya juga mahasiswa, budget tidak mencukupi kalau beli dua-duanya). Lalu penulis cek di Goodreads. Milk and Honey, ratingnya cukup tinggi di Goodreads (>4 itu termasuk tinggi. Fyi, pembaca Goodreads orangnya pada kritis dan ceplas-ceplos). Tapi pas lihat top komennya, penulis nggak jadi beli itu dan memilih membeli Rainbirds. Dan ternyata beneran, setelah penulis baca dua-duanya, lebih bagus Rainbirds daripada Milk and Honey X"D.

Ini komentar teratas Milk and Honey. Pedes banget lol.

Kalau ini komentar Rainbirds. Ratingnya emang rata-rata, tapi komentarnya bagus-bagus.

2. Judge book by it's cover,  yah or nah?

Kalau penulis pribadi, YAS.

Rata-rata novel kesukaan penulis itu cover-nya cantik-cantik banget. Contohnya "Laut Bercerita"-nya Leila S. Chudori. Cover-nya estetik banget! Bikin penulis penasaran apakah isinya sebagus sampulnya. Dan ternyata iya! Keren banget. Kalau ada kesempatan, kalian harus nonton film pendeknya huhuhu. Terus yang cover-nya bagus lagi itu Sophismata, Rainbirds (yang versi baru), Our Story, dan The Chronicles of Audy. Tapi ada juga novel-novel yang sampulnya b aja, tapi isinya bagus. Kayak Purple Eyes sama Egosentris.

Cover kan emang hal pertama yang dilihat dari suatu buku, baru sinopsisnya. Jadi kalau dari awal udah nggak kelihatan menarik, ya ... jarang ada yang beli mungkin. Penulis mikir mungkin mereka yang cover-nya bagus-bagus itu bayar desainernya mahal (?)

3. How to judge the book by it's synopsis?

Bedakan antara sinopsis dan blurb.

Sinopsis itu menceritakan keseluruhan isi buku, dari awal sampai akhir cerita, lengkap tapi ringkas. Biasanya sinopsis ini ditunjukkan ke penerbit kalau mau nulis buku (yhaaa pengalaman kan) (tapi ditolak yhaaaa). Sedangkan blurb itu tulisan yang ada di sampul belakang. Kayaknya yang dimaksud ini mah blurb ya?

Kalau penulis sendiri, nggak bisa, apalagi kalau blurb ini isinya bukan ringkasan cerita. Misalnya Egosentris atau Rindu. Blurb-nya kan kayak puisi gitu. Nah nggak taunya pas baca Egosentris ini isinya tentang mental illness, sedangkan Rindu isinya tentang hari-hari di kapal. Kan jadi nggak bisa menilai buku itu dari blurb-nya.

Blurb ini meskipun isinya tentang isi novel, kadang juga ada penulis yang menyajikan plot twist. Blurb gunanya untuk menarik perhatian pembaca buat baca buku tersebut. Cara yang digunakan juga berbeda-beda. Ada yang ngasih ringkasan cerita dengan pertanyaan menggantung di akhirnya, ada yang bikin puisi, ada yang bikin pertanyaan, macem-macem. Intinya untuk membuat pembaca penasaran. Jadi nggak bisa menilai bagus enggaknya novel dari blurb-nya aja.

Saran penulis sih, biar nggak rugi, baca aja komentar-komentar di Goodreads. Kalau nggak suka spoiler, baca komentar singkat atau top comment-nya aja. Tapi biasanya jarang kok yang nulisin spoiler. Isinya bener-bener penilaian tentang buku tersebut. Gunanya biar kita tahu buku itu worth to buy atau nggak. Kan sayang kalau uang kita terbuang untuk beli buku yang ternyata nggak sesuai dengan selera kita.

Sekarang saya akan menyanyikan lagu Abdullah-eh menjawab pertanyaan yang masuk di Instagram. Beberapa udah terwakili sama penjelasan di atas, ya.

Di mana kalau mau beli buku?

Ya di toko bukulah!! /nggak.
  1. Di mana kalau mau beli buku nikah? - @hayyi_afghani. Di toko buku banyak kok. Cie yang bentar lagi lulus, mau cepet-cepet berumah tangga ternyata.
  2. Tempat beli buku impor yang scientific/engineering/sejenis? - @afahmip. Wadu berat wkwkw kalau buku impor banyak di BBW, sih, ya? Atau beli di Gramedia World, mungkin koleksi bukunya lebih lengkap.
  3. Beli buku bekas nan antik? Pengen cari buku puisi lama - @windy_widiast. Waduh aku juga kurang tau ya. Pantun juga termasuk puisi lama, kan? Mungkin bisa beli itu. Aku dulu pernah dikasih tau kakak tingkat ada toko buku-buku lama gitu, tapi aku lupa apa namanya.
Oke sekian tips-tips membeli buku dari penulis. Semoga membantu!

Sunday, August 5, 2018

Tips Membeli Buku oleh Radita Peketo (part 1)

August 05, 2018

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar semuanya? Pasti sudah lama nggak sambang blog-ku. Iyalah orang dua bulan (atau lebih ya?) jarang update  lagi karena sehabis libur lebaran, sibuk (sok sibuk yehehehe) ngurus dies natalis kampus dan seminggu setelah itu UAS. Nggak usah ditanyalah ya di kepanitiaan dapat job bidang apa¯\_(ツ)_/¯

Sesuai janji kemarin-kemarin, penulis kali ini akan membagi tentang tips membeli buku. Sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk di Instagram. Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama.

Kenapa sih harus beli buku?

Sebenernya nggak harus kok. Pinjem di perpustakaan juga bisa. Masalahnya sekarang, penulis miris liat e-book bajakan bertebaran di mana-mana. Kalau misal ada novel bagus baru keluar, yang pertama ditanyakan oleh teman-teman penulis adalah, "ada file bajakannya nggak?"

Jujur ya, penulis agak-agak sensitif sama sikap yang kayak gini. Kalau memang ingin baca sesuatu, tapi nggak punya modal buat beli buku, ada platform namanya Wattpad. Bacaannya bejibun, gratis pula. Tinggal pilih mau baca genre apa atau bisa minta rekomendasi temen-temen penulis Wattpad yang cocok sama seleramu siapa.

Kasih contoh aja ya biar enak. Misal penulis pengen banget baca Ayat-Ayat Cinta 2 (novel jaman kapan wkwkwk bodo amat) tapi lagi bokek jadi nggak sanggup beli. Akhirnya nanya temen-temen penulis, barangkali ada yang punya. Kalo nggak ada, berarti coba pinjem di perpustakaan. Nggak langsung serta merta cari bajakan.

Sebagai orang yang juga masih belajar nulis, menulis tuh nggak gampang lho. Butuh survei, menguras otak iya, tenaga iya, dan nggak makan waktu yang sedikit. Bisa bertahun-tahun. Belum setelah itu kalo ternyata ditolak, berarti evaluasi lagi. Syukur-syukur kalo diterima penerbit, tapi setelah itu masih harus berhadapan sama editor, revisi ini itu udah berasa nulis skripsi. Udah berhasil bikin satu buku hasil kerja keras yang kayak gitu, eh ada yang nyeletuk, "boleh minta softcopy-nya aja nggak? Aku pengen baca tapi nggak punya uang hehe."

Ya modal dwong!!ಥ_ಥ

Penghasilan penulis itu nggak banyak lho gais. Satu buku seharga Rp80.000,00 misalnya, itu nggak serta merta Rp80.000,00 masuk dompet si penulis. Masih dipotong pajak, terus dibagi lagi sama editor, percetakannya, layouter, bagian desain. Bagus kalau bukunya terjual banyak alias best seller, terus diangkat jadi film. Tapi kalau bukunya hanya nangkring di toko buku selama beberapa bulan terus hilang gitu aja, dan ternyata yang terjual cuma 100 eksemplar? Bayangkan betapa pahitnya.

Penulis suka kalau kalian baca buku, artinya minat baca Indonesia masih ada(?). Tapi mbok ya kita hargai juga perjuangan penulis yang bikin buku tersebut. Kalian nerima manfaat dari tulisan dia, berilah ucapan terima kasih dengan membeli karyanya.

Oke prolog-nya kepanjangan. Langsung ke tips-tipsnya aja. Cussss~

Menyiasati harga buku yang dianggap 'terlalu mahal'

Iya. Walaupun sering beli buku, penulis sadar kok kalo harganya mahal. Padahal lumayan buat bayar listrik bulanan, atau beli kuota 30 hari. Terus gimana caranya biar bisa tetep beli buku?

1. Update info promo dan diskon

Penulis punya prinsip nggak akan beli buku kalau nggak ada promo. Biar tau segala info promo, penulis follow Instagram Gr*media dan kroco-kroconya. Gr*media itu sering promo lho gais, baik di tokonya langsung atau online. Tapi sering juga kalau bayar pake kartu kredit atau debit BNI dapet diskon (thank God my card is debit BNI) (ini berlaku di toko aja ya).

Selain itu, follow juga akun-akun penerbit seperti Republika, Elex Media, GagasMedia, Gramedia Pustaka Utama, dll. Biasanya mereka ngasih diskon online kalau beli pre order.

Dan tentu saja kalau ngomongin promo kita nggak bisa melewatkan yang namanya HARBOLNAS. Catat selalu di kalender kalian, HARBOLNAS (Hari Belanja Online Nasional) diadakan setiap tanggal 12 Desember, setiap tahunnya. Seluruh platform belanja online ngasih diskon besar-besaran, termasuk Gr*media. Nah Gr*media ini yang selalu rame karena diskonnya gede banget sampe-sampe servernya eror karena ramai pengunjung. Tapi nggak usah sedih, selain Gr*media online, masih ada platform belanja lainnya yang juga ngasih diskon, kok. Nah, penulis selalu punya wishlist buku yang mau dibeli sekaligus tabungan buat HARBOLNAS. Jadi tiap tanggal 12-12 tabungannya ludes karena penulis kalap XD

2. Beli di pameran buku

Pameran buku selalu ngasih harga miring. Pameran buku yang udah umum seperti Big Bad Wolf, Islamic Book Fair, dan Indonesia International Book Fair (yang ini jarang sih, nggak setiap tahun ada). Diskonnya lumayan lho, lebih dari 10% (rata-rata 20%-30%). Kalo Big Bad Wolf itu kebanyakan buku impor, buku Indonesia ada sih tapi sulit nemuinnya. Dan diskonnya gede banget (karena buku impor kali ya. Buku impor kan mehong). Terus Islamic Book Fair, walaupun ada titel 'islam'-nya, yang jualan di sana nggak penerbit Islam aja. Gramedia, GagasMedia, dan lainnya ada juga. Komik juga dijual. Buat info lengkapnya biar tau kapan Big Bad Wolf bisa follow IG @bbwbooks_id dan Islamic Book Fair @islamicbookfair.

3. Baca di tokonya ( ͡° ͜Ê– ͡°)

Emang boleh ya?

Beberapa toko buku ngebolehin buat robek bungkusnya terus baca di tempat, nggak ditegur sama pegawainya, tapi ya jangan robek bungkusnya depan pegawainyalah. Cari mati kalo gitu. Atau nggak kalau kalian tidak cukup jantan untuk melakukannya, cari aja buku yang udah dibuka. Biasanya nyelip diantara tumpukan buku yang masih terbalut rapi.

Tapi pilih-pilih juga bukunya. Nggak masalah sih kalau kalian cukup kuat untuk berdiri baca buku 600 halaman, karena biasanya boleh baca, asal nggak duduk. Mbok pikir omahmu. Atau cuma buat ambil bagian tertentunya aja. Kali aja butuh buat skripsi, atau sekedar story IG biar estetik. Penulis pernah ngelakuin hal ini, waktu itu buku Milk and Honey-nya Rupi Kaur sama The Petite World-nya Yu Yussi Lesmana. Niatnya cuma penasaran isinya apa, eh tau-tau setengah jam udah abis aja. Walhasil nggak jadi beli wkwkwk.

Stories for Rainy Days by Naela Ali


 Milk and Honey by Rupi Kaur

The Petite World by Yu Yussi Lesmana

Ini masih panjang (;´༎ຶД༎ຶ`) kayaknya bakal ada tiga bagian (maunya dua aja sih) nantikan edisi berikutnya ya!!

Thursday, May 31, 2018

Resensi Buku: Egosentris

May 31, 2018
Judul buku: Egosentris
Penulis: Syahid Muhammad
Penerbit: Gradien Mediatama
Cetakan Pertama, Maret 2018
372 halaman; 13 x 19 cm

Blurb

"Pada bait ke sekian, diksi-diksi yang berbaris,
kehilangan arah setelah koma yang berkepanjangan.
Mereka baru menyadari bahwa dirinya
hanyalah potongan tanya utusan Penyair Agung.
Yang saling mencari penjelasan, saling mengartikan maknanya sendiri.
Kemudian tetap menjadi tanya, tetap mencari, dan menemukan."

Untuk yang ketakutan dan bersembunyi.
Untuk yang dibedakan dan diasingkan.

Tegak dan hiduplah.

---

Jarang-jarang saya punya keinginan baca novel romance. Saya tertarik membeli buku ini setelah membaca beberapa review dari akun instagram @saturness dan alhasil jadi tergoda (sebenarnya sejak follow akun tersebut, nafsu saya untuk membeli buku malah jadi semakin menggebu-gebu XD). Jarang-jarang pula saya beli cetakan pertama (bahkan ini baru sekitar 2 bulan yang lalu dirilis) kalau bukan buku penulis favorit saya. Saya harap-harap cemas, semoga saja isi bukunya tidak merugikan dompet saya.

Buku ini bercerita tentang tiga orang sahabat dengan karakter yang amat berbeda. Fatih, pria yang tumbuh besar di tengah kesulitan, ia selalu mengungkapkan isi kepalanya secara gamblang tak peduli bagaimana orang-orang akan menilainya. Fana, anak perempuan tunggal yang hidupnya begitu terstruktur sesuai arahan orang tuanya, bahkan untuk hal sepele sekalipun seperti memilih baju yang akan digunakan untuk keluar. Dan Saka, seorang pria yang populer tak hanya karena ketampanannya namun juga keramahannya yang tentunya sering membuat banyak wanita berharap lebih padanya. Ketiganya adalah mahasiswa psikologi yang belajar di suatu universitas di Bandung.

Fatih tak disukai oleh teman sekelasnya, kadang Fana dan Saka juga mengeluhkan sikap Fatih yang sedikit berlebihan. Fatih tak tahan melihat bagaimana orang-orang dengan begitu mudahnya mengomentari bahkan nyinyir tentang kehidupan orang lain. Membuka media sosial dan melihat apa yang ada di dalamnya membuatnya muak. Ia memikirkan segala sesuatunya terlalu berat, membuat sifatnya juga mudah berubah-ubah; kadang suka bercanda, lalu beberapa detik berikutnya tak ingin dibantah, lalu berganti menjadi tak ingin diganggu.

Berkebalikan dengan kepribadian Saka yang easy going, hidup susah, jangan terlalu diambil pusing. Namun di balik sikap santainya, Saka tidak terlalu akur dengan keluarganya semenjak ayahnya meninggal. Ibunya tinggal di rumah bersama adik-adiknya, dan jika ia pulang, tak jarang ia akan memarahi adiknya.

Ayah dan ibu Fana adalah psikolog dan menuntut Fana untuk mengikuti jejak mereka. Fana sendiri adalah penengah bagi Fatih yang kaku dan Saka yang lembek. Fatih sangat terbuka pada Fana, bahkan melebihi pada Viona, pacarnya sendiri. Fana pun senang karena Fatih menaruh kepercayaan yang besar padanya, meskipun diam-diam ia menyimpan rasa yang lebih pada Fatih. Saka mengetahui hal itu dan berusaha mendekatkan Fana pada Fatih, namun Fana tak mau. Ini lebih dari cukup asal ada Fatih di sampingnya.

....

Sebenarnya saya bingung bagaimana menceritakan sekilas bukunya. Karena konfliknya banyak sekali dan tidak jelas mana yang jadi konflik utamanya. Bukannya saya tidak suka tipe buku yang seperti ini, justru sebaliknya. Waktu saya berbincang dengan editor suatu penerbit mayor, beliau bilang, "cerita kamu harus mempunyai tujuan, dari awal hingga akhir. Misalnya, The Chronicles of Audy, dari awal hingga akhir cerita tujuannya tetap, yaitu Audy menulis skripsi dan bisa lulus." Nah, setelah baca buku, ini, saya malah jadi bingung karena tidak tahu tujuan yang dimiliki si tokoh. Tapi kalau sudah baca sinopsis secupliknya, kira-kira sudah dapatlah ya gambaran besar isi buku ini.

Untuk saya, buku ini sangat menarik. Karena mengangkat masalah-masalah yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, yang dihadapi milenial sekarang, misalnya bagaimana Fatih selalu mengeluhkan komentar-komentar netizen di berita atau postingan sosial media, atau Saka yang berdebat dengan pacarnya hanya karena Saka enggan mengunggah foto mereka berdua, karena menurutnya itu adalah hal yang tidak perlu. Betapa sosial media mempunyai pengaruh begitu besar di zaman sekarang karena banyak orang yang menggunakannya, sehingga permasalahan dalam hidup manusia tidak hanya di dunia nyata saja tapi juga sosial media.

Kedua, tentang persahabatan. Di sini saya benar-benar melihat apa itu sahabat sejati lewat Fatih, Fana, dan Saka. Mereka sering, terlampau sering bertengkar karena menyuarakan pikiran satu sama lain (sampai saya yang baca jadi gemas karena mereka sering adu mulut). Namun pertengkaran tak membuat mereka jadi runtuh, justru semakin kuat karena mereka akan memaafkan, bangkit lagi bersama, berbagi masalah dan mencari solusinya. Fatih yang terlalu banyak pikiran, Saka yang terlalu santai, dan Fana yang harus pusing mengatasi kedua sahabatnya. Betapa saya sangat iri pada persahabatan mereka bertiga TT

Ketiga, tentang keluarga. Keluarga masing-masing punya problem yang tidak sama. Ibu Fatih yang sudah janda, tak bisa lepas begitu mudah dari kosmetik. Saka juga telah kehilangan ayahnya meskipun tak stragis kisah Fatih, membuatnya hobi adu mulut dengan adik tertuanya, Sinar, karena tak becus merawat rumah selama dirinya tidak ada. Ibu Saka lelah melerai mereka berdua. Fana dengan orang tuanya yang penuh tuntutan, membuat Fana tak memiliki ruang untuk menyuarakan keinginannya. Dan lagi-lagi saya salut pada mereka karena tetap bersama termasuk dalam mencari solusi. Kecuali Saka sepertinya, karena ia tak begitu sering membahas keluarganya pada Fatih dan Fana.

Keempat, tentang psikologi(?) manusia. Fatih yang memiliki semacam gangguan kejiwaan (tapi sayang sekali saya lupa disebutkan di halaman berapa, baca sendiri ya wkwkwk). Begitu pula ibu Fatih yang bisnis kosmetiknya bangkrut, namun masih susah move on yang selanjutnya akan membawa masalah yang lebih besar. Aaah pokoknya kalau bahas kepribadian tokoh-tokoh buku ini menarik banget! Nggak habis-habis kalau saya harus menuliskannya di sini. Jadi kalian harus baca, ya. Nggak rugi, kok. Pelajarannya berharga banget. Daripada novel romance, menurut saya ini genre-nya drama karena percintaannya nggak terlalu kentara, tapi itu yang saya suka. Bukan romance yang menye-menye.

"Heh, elu pikir orang pacaran bakal terus sampe nikah? Ya, kalo udah nggak bisa bareng lagi gimana? Kita harus cukup dewasa buat paham. Daripada bersama saling nyakitin mending pisah. Meski sakit tapi akan saling membaikkan," balasku percaya diri.

"Kalo tahu pacaran lu nggak sampe nikah, ngapain pacaran? Nambah-nambah daftar orang yang lu sakitin aja," sindir Fatih lagi.
Ini salah satu contoh perdebatan antara Fatih dan Saka. Fatih ngeselin, kan? Tapi bener wkwk. Kelihatan juga si Saka terlalu santai. Btw, buku ini bukan sudut pandang orang pertama dengan tokoh utama Saka, kok. 75% sudut pandang orang ketiga, sisanya orang pertama tapi dengan tokoh yang berbeda-beda, tergantung bab-nya.

Egosentris adalah buku yang berhasil buat saya menangis. Nggak sesenggukan, tapi cukup menitikkan air mata. Andai saya benar-benar mendengar rekaman suara Fatih .... sepertinya saya bakal nangis sesenggukan. Padahal dulu saat booming buku "Surat Kecil untuk Tuhan" yang katanya bikin air mata bercucuran, saya heran sendiri kenapa saya nggak nangis bacanya.

Syahid Muhammad menuliskan puisi-puisi singkat di setiap awal dan akhir bab. Jadi untuk kalian penggemar novel sekaligus puisi, mungkin buku ini bakalan lebih nge-feel lagi kalau kalian yang baca. Salah satu puisi yang saya sukai:
Keluh kesah ialah jelmaan resah.
Yang bingung mencari arah,
untuk sekedar berserah.

Tak muda menjadi yang terpilih.
Untuk sekedar mendengar dan mengerti.

Tentang ketakutan,
tentang kesepian,
tentang kerapuhan.
Tak mudah juga, menyimpan semua itu seorang diri.

Jadi mana yang baik, mendengar atau didengar?
Atau mungkin, menemukan makna diantaranya adalah hal terbaik?
Akhir kata, saya sangat merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini di waktu luang. Karena pelajaran di dalamnya berharga banget. Selamat membaca!

Tuesday, May 15, 2018

Resensi Buku: BH

May 15, 2018
Judul buku: BH
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit:PT Kompas Media Nusantara
Cetakan Keempat, Februari 2016
x + 246 Halaman; 14 cm x 21 cm

Blurb

Emha Ainun Nadjib tergolong manusia multidimensi. Awalnya dikenal sebagai penyair, kemudian menulis naskah drama, novel, cerpen, dan esai-esai berbagai tema sosial budaya.

Kumpulan cerita pendek BH ini merupakan buah kreativitas Emha dalam berbagai persoalan kehidupan manusia, misalnya cerpen Lelaki ke-1.000 di Ranjangku, Pesta, Seorang Gelandangan, Jimat. Semua disajikan dengan sangat apik, menggelitik, dan apa adanya.

---

Berhubung buku ini adalah buku kumpulan cerpen alias bukan novel, jadi saya tidak bisa mencantumkan sinopsis. Saya sudah penasaran setengah mati untuk membaca tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib sejak SMA. Buku BH baru terbit saat saya masih kelas XI. Saya penasaran karena judul buku ini amat blak-blakan dan vulgar, dan waktu itu saya merasa masih belum cukup umur untuk membaca buku ini (karena dari judulnya saya menyimpulkan buku ini termasuk kategori dewasa). Akhirnya, saya berhasil membeli buku ini waktu Harbolnas 2017 di website Gramedia dan baru selesai membacanya seminggu yang lalu.

Terlalu banyak jika saya harus mengupas semua cerpen di buku ini satu persatu (ada total 23 cerpen dalam buku ini). Jadi saya akan membahas dua cerpen saja yaitu cerpen yang jadi favorit saya dan cerpen yang jadi judul utama buku ini.

1. Ambang
Cerpen ini dominan pada satu tokoh utama yang berada di ambang, dia terus meminta kepada Tuhan agar segera mencabut nyawanya. Saya sangat menyukai cerpen ini karena sangat mewakili apa yang saya rasakan saat itu. Saya begitu depresi dan rasanya ingin bunuh diri. Kemudian saya membaca cerpen ini. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan tokoh utama. Beberapa terjawab dengan jawaban singkat. Sisanya ditanggapi dengan diam oleh lawan bicara. Ambang adalah cerpen terpanjang dalam buku ini. Membuat saya benar-benar paham bahwa seseorang yang di ujung tanduk akan meracau tidak jelas, sebanyak-banyaknya, setidak masuk akalnya, dan sesungguhnya racauan itu tidak harus semuanya dijawab--ia selain butuh jawaban, ia lebih ingin didengarkan. Caknun berhasil membangun suasana dan tokoh yang sangat menggambarkan orang yang sudah kehilangan semangat hidupnya. Hampa. Pasrah. Dan bisa dibilang nyaris tidak waras.

Salah satu dialog dari si tokoh aku yang paling berkesan untuk saya.

Sesungguhnya aku sudah cukup ragu, terhadap adaku. Kuharap Kau benarkan keraguanku, sehingga tanpa perlu membunuh diri, bisa kuyakini ketiadaanku. Syukur kalau Kau lebih tegas lagi: lenyapkan sama sekali aku!

2. BH
Tak sepanas judulnya, cerpen BH mengisahkan tentang hubungan asmara terlarang antara dua orang laki-laki. Yap, ceritanya memang sesederhana itu. Tapi Caknun menuliskannya berfokus pada dua tokoh utama, tentang kebimbangan mereka pada bagaimana masyarakat memandang mereka. Termasuk bagaimana si laki-laki yang memilih untuk tetap bersama si 'perempuan' meskipun dipandang sinis oleh sekitarnya, meskipun diam-diam dalam hatinya ia juga memiliki dilema besar. Masalah sosial yang diangkat dalam cerpen ini adalah tentang LGBT. Tulisan Caknun ini membuat saya ikut merasakan, bagaimana perasaan saya jika saya adalah penganut LGBT. Tapi tetap saja tidak lantas membuat saya bersimpati. Hanya saya jadi tau, "oh, jadi ini yang mereka rasakan."

Marilah kita bercinta pada tempatnya. Kaumencinta itu dan bersedia menerima apa yang mampu kuberikan, sementara aku pun mencintai penderitaanmu.

Awalnya saya sama sekali tidak merasa aneh melihat sampul buku ini, meskipun teman-teman saya selalu berkomentar, "Ih sampulnya kok nyeremin gitu." Lalu suatu ketika saat saya sendirian di kamar dan buku ini tergeletak sekenanya, matanya menatap tajam saya. Saya jadi sedikit ngeri dan akhirnya membalik buku itu hingga yang tampak hanya cover  belakangnya saja. BH pertama kali terbit tahun 2005 dan saya bersyukur karena Kompas menerbitkannya lagi bahkan setelah 10 tahun lebih, karena jika tidak, saya mungkin tidak akan pernah membacanya.

Selain dua cerpen di atas, buku ini banyak membahas masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Pelacur, LGBT, politik, seni, hubungan suami istri atau keluarga, hubungan dengan tetangga, dan masih banyak lagi. Sebenarnya dalam memilih cerpen favorit, saya bingung harus memilih yang mana karena hampir sebagian tulisan-tulisan Caknun seolah menggambarkan apa yang selama ini saya pikirkan. Dan hal itu membuat saya memasukkan Caknun sebagai salah satu penulis favorit saya. Kebanyakan cerpen di BH ini menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga pembaca bisa lebih menghayati perasaan tiap-tiap tokoh. Untuk kalian ingin melihat permasalahan sosial dengan cara yang berbeda dan menarik, buku ini akan membantu kalian membuka mata.

Thursday, April 26, 2018

Resensi Buku: Sophismata

April 26, 2018
Judul: Sophismata
Penulis: Alanda Kariza
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedua, Agustus 2017
272 halaman; 20 cm

Sinopsis


What happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with one?


Meski sudah tiga tahun bekerja sebagai staf seorang Anggota DPR, Sigi tidak juga bisa menyukai politik. Ia hanya ingin belajar dari atasannya itu, mantan aktivis 1998 yang sejak lama ia idolakan. Dan ia juga berharap ia bisa segera dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan. Hingga ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.


---

Saya adalah tipe orang yang baca buku karena suka penulisnya atau tertarik lihat cover-nya. Saya nggak tahu siapa Alanda Kariza sampai dia menulis buku ini, yang mengusung tema politik. Dan lihat blurb-nya yang ditampilkan di belakang: what happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with the one? langsung membuat saya tertarik membacanya. Apa sebab? Saya adalah orang yang anti-politik. Politik itu ribet dan penuh tipe muslihat, saya nggak suka. Perkataan Sigi di bawah ini sangat mewakili perasaan saya.

Sama seperti lo, gue selalu pengin membuat perubahan untuk bangsa ini, tapi gue lebih pengin melakukannya lewat jalur nonpolitik.
--- Sigi

Namun kenyataan berkata lain. Saya justru kuliah di PKN STAN yang mau tidak mau akan menjadi Aparatur Sipil Negara, yang konon teman saya bahkan berpesan, "Siap-siap, ya, Dit, lu bakal sering berurusan sama politikus." Jadi, mau nggak mau saya juga harus mulai buka mata, mulai mengenal tentang politik ini. Karena tidak ingin mulai dari yang berat-berat, saya mulai dengan membaca novel ini saja. Hehehehehehe.

 Seperti yang telah disebutkan dalam sinopsis, Sigi bekerja sebagai staf administrasi salah seorang anggota DPR, Johan Sancoyo. Alasan ia memilih mengambil pekerjaan itu sebenarnya bukan karena ia suka hal-hal berbau politik, namun karena ia mengagumi sosok Johar sejak masih SMA. Johar sendiri pada saat itu (sebelum menjadi anggota DPR) adalah salah satu pendiri Partai Gerakan Sosial Indonesia (PGSI). Sigi bekerja untuk Johar bersama dua tenaga ahli yaitu Catra dan Gilbert.

Pada suatu hari, Johar diwawancarai oleh Timur yang merupakan senior Sigi saat SMA. Timur menanyakan pengalaman Johar soal mendirikan partai, karena Timur juga berencana mendirikan partai baru yaitu Partai Indonesia Setara. Ia juga menanyakan mengapa Johar membiarkan PGSI diakuisisi Partai Reformasi Pembangunan (PRP). Berbeda dengan Sigi yang tidak doyan politik, Timur adalah seorang politisi yang begitu bersemangat saat membahas politik.

Tiga tahun bekerja dengan Johar, rutinitas Sigi selalu sama, mengurus segala sesuatu yang bersifat administratif. Terkadang rekannya membandingkan pekerjaan Sigi yang begitu mudah dibandingkan tenaga ahli. Bukannya tanpa usaha, Sigi juga telah berkali-kali meminta Johar untuk mempromosikannya, namun selalu ditolak. Alasannya karena Sigi bukan lulusan S2. Sigi mengeluhkan apa lantas jika sudah S2 pasti lebih 'ahli' ketimbang S1?

Johar akhirnya memberikan kesempatan kepada Sigi. Ia akan mempromosikannya jika berhasil mempertemukan dirinya dengan Kepala Staf Kepresidenan, Cipta. Sigi berhasil menjadwalkan pertemuan mereka, namun saat Johar memperkenalkan program yang dirancangnya, Cipta mengatakan bahwa mereka sudah memiliki program yang mirip dan akan segera diluncurkan. Sigi tidak menyerah dan berusaha meyakinkan Cipta agar mempertimbangkan program milik Johar. Cipta menerimanya, namun hal ini tak lantas membuat Johar senang.

Belum selesai masalah itu, masalah lain kembali muncul. Muncul seorang gadis muda bernama Megara yang mengaku telah dihamili Johar. Johar berkali-kali berkata bahwa gadis itu hanya main-main saja, tetapi gadis itu menunjukkan foto hasil USG bayi yang ada dalam kandungannya. Sigi tahu Johar sering bermain-main dengan perempuan, namun ia tidak tahu Johar akan melakukannya sejauh ini. Sigi yang pertama kalinya menghadapi situasi seperti ini, tidak tahu harus memercayai siapa. Dan Johar mengutusnya untuk menyelesaikan urusan Megara dan mengatakan akan membahas promosinya lagi nanti.

Sigi lelah dan memutuskan untuk mengunjungi keluarganya di Bandung. Ayahnya menjemputnya di stasiun, dan dalam obrolan mereka, sang ayah menawarkan agar Sigi mengambil kuliah S2. Di sisi lain, Cipta yang mengakui kemampuan Sigi kala rapat dengan Johan tempo hari, menawarkannya untuk bergabung dalam Staf Kepresidenan. Timur juga terus membujuk Sigi, barangkali Sigi mau ikut ambil bagian dalam Partai Indonesia Setara. Pilihan manakah yang akan Sigi ambil?

Saya yang lebih sering membaca novel bergenre remaja ketimbang dewasa, awalnya agak-agak kagok membaca novel ini karena menemukan kata-kata baru seperti asertif atau deflektif. Dan dengan membaca Sophismata saya sadar saya sudah bukan anak-anak lagi hahahaha. Yang saya suka dari novel ini adalah ceritanya mengalir, semuanya terkait satu sama lain dan tidak berbelit-belit. Sophismata berhasil membuat saya melihat dunia politik, namun tidak lantas membuat saya jatuh cinta---ujung-ujungnya tetap saja saya tidak suka politik. Dan karena saya sedikit-sedikit mengalami hal-hal yang berbau pemerintahan di kampus, ada beberapa bagian yang sudah saya alami dan menurut saya, "Wah bener banget." Misalnya seperti kalimat berikut.

Kalau undang-undangnya bilang begitu, kita bisa bilang apa? Kalau lo nggak bisa jalan lewat rute itu, lo harus cari rute yang lain.
--- Gilbert

Sosok Timur mengingatkan saya pada salah satu senior di SMA yang sangat berapi-api kalau membahas politik (yang anak IC pasti kenal, deh). Hidup akan sepi kalau tidak ada cinta, begitu pula novel ini. Namun menurut saya porsinya tidak terlalu banyak, kok. Mungkin sekitar 35%. Selebihnya membahas lika-liku Sigi di dunia politik. Perlu diingat lagi bahwa novel ini adalah novel dewasa, jadi pembacanya juga harus bijak-bijak saat menyelaminya.

Nilai yang saya berikan? 5/5! Terima kasih kepada Alanda Kariza telah memperkenalkan saya pada politik lewat novel ini. Kalau kalian ada yang senasib sama saya---buta politik tapi nanti harus terjun di dunia politik---bisa mulai membaca dari novel ini dulu. Barangkali kita para wanita di masa depan akan menjadi Megawati Soekarnoputri, Sri Mulyani Indrawati, Susi Pudjiastuti, atau Tri Rismaharini. Tak ada salahnya bersiap-siap.

Dunia politik kita didominasi laki-laki. Sudah saatnya ada perempuan yang bersuara, dan menurut gue, lo bisa jadi salah satu perempuan itu.
--- Timur

Sebagai bonus, saya mau kasih kalimat penutup (iya, banyak banget quote-nya. Maklum buku ini tuh mewakili isi kepala saya, terutama Sigi). Akhir kata, selamat membaca!

Tuesday, April 17, 2018

Resensi Buku: Years After

April 17, 2018
Judul: Years After
Penulis: Orizuka
Penerbit: Puspa Populer
Cetakan Pertama, 2018
vi+266 halaman; 19 cm

Sinopsis

Pingsan di hari pertama MOS jelas bukan cara yang Lena inginkan untuk memulai masa putih abu-abunya. Apalagi untuk kesan pertama yang baik jika ia ingin diterima The Regals, klub bisbol di sekolah barunya itu. Dan yang lebih parahnya lagi, penolongnya tak lain adalah Segara, bintang utama tim bisbol SMA Menara Bangsa.


Berkat bantuan Jessa, ketua tim sofbol putri, Lena berhasil selangkah lebih dekat dengan mimpinya. Diterima jadi manajer tim, mendapat seorang sahabat, dan sosok wanita yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Sayangnya, tak seperti kisah dalam dongeng, semuanya tidak berjalan lebih mudah sejak itu. Puncaknya adalah ketika teman-temannya merayakan hari ulang tahun Lena. Hari yang tak pernah lagi Lena rayakan sejak tiga tahun lalu....



Mama... saat itu, Lena ingin menyerah.

Lena hanya ingin menyerah.
Bolehkan Lena menyerah?

---

Kalau bicara soal penulis favorit, penulis selalu mencantumkan nama Orizuka di urutan pertama. Setelah menulis Momiji, kali ini Orizuka menghasilkan karya baru yang berjudul Years After. Buku ini adalah karya Orizuka yang ke-28. Judulnya terasa nggak asing? Iya. Sebab novel ini adalah 'lanjutan' (penulis nggak tau apakah ini termasuk sekuel apa bukan seperti Oppa and I atau The Chronicles of Audy) dari novel 17 Years of Love Song yang mana tokoh utamanya adalah Leo dan Nana alias kedua orang tua Lena. Jujur saja penulis belum baca 17 Years of Love Song tapi setelah merampungkan novel ini penulis jadi bertekad untuk membaca kisah Leo dan Nana juga. Buat yang bernasib sama kayak saya, bisa tetep paham nggak kalo baca Years After langsung? Paham kok. Wong tokoh utamanya Lena, Leo jadi tokoh sampingan dan Nana sudah meninggal.

Lena (atau yang biasa dijuluki Miiko karena badannya kecil dan rambutnya pendek) yang memiliki kondisi fisik yang lemah, pingsan saat hari pertama MOS. Beruntung ada Segara dan Jessa yang menolongnya. Namun darah yang keluar saat Lena mimisan menodai baju Segara. Lena merasa tidak enak dan bersikeras untuk mengganti baju tersebut dengan yang baru. Kejadian MOS itu membuat ia diizinkan untuk tidak ikut MOS sehingga di hari pertama sekolah ia 'terlambat' mendapat teman. Beruntung saat itu Zara, seorang gadis India, saat itu duduk sendirian di kelas.

Ada alasan khusus mengapa Lena mendaftar di SMA Menara Bangsa. Sekolah itu memiliki klub bisbol dan sofbol yang bernama Regals, dan Lena yang amat mencintai dunia bisbol bercita-cita untuk menjadi manajer klub tersebut. Tak disangka rupanya Segara adalah bintang klub bisbol begitu pula Jessa yang merupakan bintang klub sofbol. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya Lena diterima sebagai manajer pertama klub mereka.

Di sekolah, Lena dekat dengan dokter UKS, Bu Regina, dan Lena begitu bersemangat menjodohkan Bu Regina dengan ayahnya. Ayahnya mati-matian menolak karena ia tidak mau mengkhianati Nana. Namun mertuanya dan Lena terus mendesaknya. Di lain pihak, Bu Regina yang masih lajang terus dijodohkan berkali-kali oleh ibunya namun tak ada yang membuahkan hasil.

Masalah tak berhenti sampai di situ. Cita-cita Segara menjadi pemain bisbol tidak mendapat dukungan dari orang tuanya. Segara terus berusaha keras agar bisa membuktikan kepada mereka dengan berlatih terus menerus hingga tak menghiraukan kesehatannya. Suatu hari Lena pingsan saat membantu Segara berlatih, dan di hari yang sama bola bisbol warisan Nana menghilang--harta yang sangat berharga bagi Lena.

Masalah semakin rumit saat teman-teman Lena merayakan ulang tahun Lena, yang mana Lena sendiri tak pernah merayakannya lagi karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Membuatnya terus menyalahkan diri sendiri. Tak hanya itu, kompetisi bisbol semakin dekat dan pelatih Regals, Daud, tidak bisa melatih karena sakit jantung. Bagaimanakah Lena dan Regals mengatasi seluruh masalah ini?

Hari ketika kamu lahir adalah hari ketika aku terselamatkan. Terima kasih telah dilahirkan. Sekarang, giliranku untuk berjuang.

Pertama yang saya sukai dari novel ini adalah kisah cintanya yang nggak menye-menye. Penulis suka romance, tapi geli sama romance yang banyak bertebaran di suatu media sosial berwarna oranye yang menurut penulis atas rasa sukanya itu nggak ada faedah-faedahnya. Beda sama Lena dengan Segara atau Lena dengan Leo. Kedua, Orizuka berhasil mengeksekusi hasil observasinya tentang bisbol dengan baik. Praktik-praktik bisbol yang dilakukan anggota Regals dijelaskan dengan baik dan detail (meskipun penulis nggak paham-paham amat karena penulis buta bisbol). Dan yang ketiga, masalah keluarga yang diangkat sebenarnya sering terjadi, namun Orizuka dapat memberikan penyelesaian yang berbeda. Serius, penulis suka banget sama akhir cerita ini. Ada bagian yang tak disangka-sangka.

Kekurangannya apa, ya? Penulis sendiri bingung karena buat penulis rate buku ini adalah 4,9 dari 5. Hm, mungkin bagian penyelesaian masalah Segara dengan keluarganya yang menurut penulis kurang dapat feel-nya sehingga penulis berpikir, "Kok mudah sekali?". Tapi overall, novel ini punya banyak pelajaran yang bisa diambil. Meskipun novel ini tidak sekocak novel Orizuka yang lain. Wajar karena memang bukan genre komedi, hehe.

Sekian resensi kali ini. Mungkin berikutnya penulis akan menulis resensi tentang Sophismata? Tapi itu nanti aja. Penulis mau UTS dulu huhuhu :")

Saturday, March 3, 2018

Spoiler Buku: Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!

March 03, 2018
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Halo piye kabare~~~ Beberapa minggu yang lalu penulis bikin polling di Instagram mau dispoilerin isi buku Mbak Asma Nadia yang kece badai ini nggak? Dan hasil pollingnya minta spoiler! Jadi di sini penulis akan memberikan dua bagian saja dari isi buku itu, supaya kalian bisa mempertimbangkan untuk membeli atau setidaknya membaca buku yang insya Allah sangat bermanfaat ini. Penulis promosiin buku ini bukan karena dibayar berapa, tapi karena sayang sekali kalau buku sebagus ini manfaatnya nggak dibagi-bagi.




 Ini cover lama, penulis beli ketika masih SD

Langsung kita mulai saja dengan sebuah pertanyaan.


Muslimah nyebelin? Emang ada?


Harusnya sih muslimah menjadi sosok yang menyejukkan, yang membawa kedamaian, dan bukan malah bikin sebel.


Kenyataannya ada saja muslimah yang dianggap nyebelin. Mungkin juga oleh sesama muslimah. Tengok deh kiri kanan kita, depan belakang. Mungkin kamu akan dengan gampang aja nemuinnya. Atau lihat cermin. Waa... jangan-jangan muslimah nyebelin itu kita sendiri!


Jadi apa saja hal yang bisa menyebabkan muslimah dianggap nyebelin?


1. Bau Mulut


Hanya karena kamu ber'hah' dan merasa bau mulutmu gak mengganggu, bukan berarti orang lain juga merasa begitu. Lagi puasa? Bukan alasan juga untuk membiarkan bau mulut merajalela. Sebab, meskipun dalam keadaan puasa mulut relatif jadi lebih bau dari biasa, bukan berarti gak bisa diminimalisir kan?


Tips N Trick:

  • Rajin-rajin sikat gigi
  • Trus yang bener sikat gigi sehabis makan, jadi bukan sebelum sarapan, misalnya. Selain itu ada lho hadits tentang sunnahnya siwak arau sikat gigi tiap sebelum shalat. Ya kan mau ketemu Yang Mahapenting :) So, bagus sekali jika bisa membiasakan menyegarkan bau mulut dengan sikat gigi lebih sering. Gak cuma sekali dua kali sehaei. Apalagi kalau kamu habis makan pete, jengkol, duren, dll yang menyisakan bau di mulut. Trus kalau bisa, pilih odol yang bagus. Merawat gigi juga investasi diri lho. Bukankah gigi punya peran vital untuk membuat senyummu lebih cling?
  • Pakai obat kumur
  • Kalau masih bau juga, kamu bisa sedia obat kumur yang sekarang sudah banyak macamnya. Paling tidak berkumur dulu sebelum ketemu orang-orang penting. Menghadap guru, dosen, calon mertua, atau calon suami ...deu.
  • Sedia permen mint
  • Selalu sedia permen mint. Siapkan di tas, dan kunyah-kunyah sebelum pertemuan penting. Mengunyah permen mint sebelum ketemu orang-orang lebih baik daripada ngunyah coklat, yang gak punya efek menyegarkan mulut, malah bisa-bisa membuat gigimu kecoklatan kayak nenek sihir. Hihi.
  • Ke dokter gigi
  • Takut? Gak lah, kamu kan bukan anak kecil lagi. Bau mulut bisa juga disebabkan karena ada gigi yang bolong dan perlu ditambal, atau malah gigi busuk yang harus dicabut, mungkin juga karang gigi yang udah puluhan tahun gak pernah dibersihkan (ihh...). Memang sih males banget ke dokter gigi. Lihat alat-alatnya aja udah bikin hati ciut-ciut plash. Tapi mendingan sakit sekali daripada dicap: PUTRI BAU! Hehe. Biar nenangin, kamu bisa ngajak orang-orang terdekat untuk menemanimu menuntaskan masalah dengan gigi. Trus, jangan males kalau disuruh balik lagi. Pastikan pengobatan gigimu tuntas, ok?
  • Check up!
  • Ada kalanya bau mulut menunjukkan adanya gangguan kesehatan. Jadi, kalau kamu udah ngelakonin hal-hal di atas dan masih aja bau mulutnya, coba deh ke dokter buat check up, atau usahain pakai obat-obat alternatif. Jangan dibiarkan. Beberapa gangguan mulut bisa mendorong timbulnya penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker mulut atau lidah.
2. Merusak Kegembiraan Teman

Misalkan, ada teman lagi semangat banget cerita soal ultahnya, terus dapat kado seru dari papanya, tiba-tiba terdengar komentar seorang muslimah, "Iiih, itu kan nggak syar'i."

Komentar seperti itu sangat cepat mematikan kegembiraan seseorang.

Contoh lain, tetangga Riena yang terkenal cantik melahirkan. Sebagaimana lazimnya, Riena pun datang membawakan bingkisan dan memberi ucapan selamat. Tapi pas lihat bayinya ... aduh jauh banget buah dari pohon deh. Riena, yang berkerudung sejak SMA itu pun berkomentar,

"Mbak, ih si dede kok lain banget sih? Pesek, item, udah gitu gak ada rambutnya lagi!"

Kebayang gak kira-kira perasaan si tetangga yang cantik itu? Padahal dia baru saja melewati masa-masa meletihkan mengandung dan melahirkan, dan sekarang lagi hepi-hepinya kedatangan momongan.

Lagian yang namanya bayi, biasanya mukanya masih bisa berubah lho. Apapun alasannya, tidak pada tempatnya, kita merusak kebahagiaan teman, yang baru saja mendapat berkah. Terutama jika perkara yang membuat gembira sama sekali gak bertentangan dengan Islam.

Tips N Trick:


  • Sambut berita bahagia dengan komen positif
  • Jika memang ada yang harus diluruskan dalam kegembiraan itu (perkara gak islami) paling tidak pikirkan sejenak, dan cari cara mungkin juga waktu yang tepat untuk menyampaikannya.  
Nah, jadi sekian aja spoilernya. Menarik kan? Menarik kan? Cus langsung baca bukunya. Beli bukunya di toko atau kalau nggak di-display, cari aja di toko online banyak, kok, termasuk tokonya Mbak Asma sendiri. Kalau nggak ada uang ya coba tanya teman-temanmu barangkali ada yang punya (pinjam punya penulis juga boleh). Yang jelas jangan coba-coba cari bajakannya, ya T_T baik itu e-book bajakan dan fotokopiannnya (?). Nggak rugi, deh punya buku ini, penulis jamin. #StopPembajakan

About Me

PeketoWritan

Peketo hanyalah nama julukan yang diberikan teman-teman penulis sejak kecil dan akhirnya ia gunakan sebagai nama pena. Kelahiran Malang dan tidak betah panas. Sangat menyukai lemon dan warna kuning. Suka menggambar, membaca novel dan buku pengetahuan umum, serta menulis cerita. Rutinitasnya membaca Webtoon tiap jam sepuluh malam.




Recent Posts

recentposts

Random Posts

randomposts